NEWS UPDATESOFT NEWS

Kyai Sumitro dan Pewaris Ajaran Bonokeling “Manages Manunggali Kawula Gusti”

×

Kyai Sumitro dan Pewaris Ajaran Bonokeling “Manages Manunggali Kawula Gusti”

Sebarkan artikel ini
FOTO: Ketua Kelompok Masyarakat Adat Bonokeling, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Kyai Sumitro (mengenakan udeng Banyumasan).

JEJAK KATA, Banyumas – Perjalanan jejakkata.news di wilayah Kabupaten Banyumas beberapa waktu lalu, menyisir satu perkampungan adat Desa Pekuncen, di wilayah Kecamatan Jatilawang. Masyarakat adat di desa ini adalah pewaris ajaran Kyai Bonokeling, dimana hidup adalah sebuah perjalanan duniawi untuk menuju keabadian.

Mereka mengkonstruksikan adat sebagai sendi utama organisasi sosial dengan keyakinan. Saat berbincang-bincang dengan Ketua Adat Komunitas Bonokeling, Kyai Sumitro, pria paruh baya ini menjelaskan, ada lima ajaran yang menjadi pedoman hidup masyarakat di kampung adat komunitas Bonokeling ini.

Pesan Berantai, Kecelakaan di Citra Raya, 1 Korban Meninggal 1 Lagi Kritis

Pertama adalah japa atau doa, yaitu bersyukur dan memohon kepada Sang Pencipta. Kedua, srana. Menurut Sumitro, srana adalah usaha. Jadi hidup tidak hanya berdoa saja, tetapi harus dimbangi dengan usaha, sesuai apa yang menjadi tujuan hidup. Ketiga, laku atau prilaku, yaitu hubungan baik antara manusia dengan manusia dan manusia dengan Sang Pencipta, termasuk menjaga lingkungan di sekitar. Keempat, ilmu atau pengetahuan. Menurut Sumitro, ilmu atau pengetahuan adalah cara untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuan hidup dengan sempurna, dimana di situ ada akal dan pikiran. Dan, yang kelima adalah tapa, yang dalam hal ini, kata Sumitro, hidup harus bisa mengendalikan diri dari segala hawa nafsu.

“Tapa atau mengendalikan hawa nafsu ini paling-paling sederhana lah, tidak perlu muluk-muluk, apa adanya,” ujar Kiayi Sumitro.

Berburu Foto Siluet di Kawasan Cagar Budaya Lawang Sewu Kota Semarang

Lima ajaran ini lah, kata Sumitro, sebagai kunci menjadi manusia yang sempurna “Manages manunggaling kawula Gusti”, yaitu menjalin hubungan manusia dengan Sang Pencipta tidak melalui perantara apa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *