Seni dan HiburanUpdate

Catatan Kaki Selepas Isak di Jantung Kota Seribu Pabrik

×

Catatan Kaki Selepas Isak di Jantung Kota Seribu Pabrik

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI | Istimewa

KOTA Seribu Pabrik ini menjadi tempat paling ‘bedebah’ bagi Zakiah. Kota yang telah melumat semua harapannya. Bukan saja karena pria brengsek dan beristeri yang telah memainkan perasaannya, tapi begitu banyak pria yang hanya menginginkan kenikmatan tubuhnya saja.

Pria seberang yang pertama kali merenggut keperawanannya misalnya. Ia hilang entah kemana setelah bosan berkali-kali menidurinya.

Lalu, laki-laki berbeda keyakinan yang juga telah seringkali menikmati tubuhnya tanpa mau menikahi lantaran cintanya kalah dengan sikap bapak-ibunya yang tak menginginkan Ia keluar dari lingakaran keluarga.

Belum lagi pria-pria ‘begajulan’ yang kerap ditemuinya di akun media sosial yang memberikan fasilitas kepada siapa pun untuk bisa melakukan apa pun. Rata-rata hanya penjahat birahi.

“Brengsek! Semua Brengsek!”

Surabaya, ya Surabaya. Metropolitan di sebalah Timur Pulau Jawa. Kota yang memiliki legenda perkelahian antara Sura dan Buaya. Kota yang, cukup Sura saja yang dilahap oleh Buaya, tidak perempuan-perempuan seperti dirinya yang menjadi korban ‘para buaya’.

Kota ini menjadi pilihannya untuk melabuhkan hati dan kehidupannya yang baru. Di kota ini pula, Zakiah bertemu dengan pria  keturunan Arab-Madura berperawakan besar, berotot sekal, bos pabrik rokok lokal, bujang lapuk, pandai mengaji nan kaya raya. Pria ini yang menjadi pelabuhan terakhir dalam hatinya.

Ya, pria yang telah memberikan dua anak laki-laki yang lucu, yang kelak akan menjaga sampai akhir hayatnya. Lantaran, usianya terpaut hampir separuh dari usia pria terakhirnya itu.

Begitu lah kehidupan. Untuk menjadi sesuatu itu, terkadang tidak dilihat dari apa yang kita sandang saat ini, tetapi ditentukan dari seberapa banyak kita berbuat untuk diri kita, lingkungan dan orang-orang di sekitar kita.

*

Di kursi deretan tengah, di mall raksasa yang dulunya bekas rawa dan perkebunan karet Kota Seribu Pabrik. Lima tahun lalu, selepas Pemilu yang begitu riuh dengan berita saling tuding soal  kecurangan, saat kasus korupsi tata niaga komoditas timah wilayah izin usaha pertambangan di republik ini sebesar 271 triliun terungkap, pria ini menghabiskan malam bersama Zakiah. Sekadar ngobrol, minum kopi, lalu berbagi perasaan.

Ia kembali mendatangi tempat itu. Dari cerita yang selalu ia dengar dari Zakiah, perempuan ini juga kerap menghabiskan malamnya di situ.

Pria ini menuliskan sebuah catatan kaki untuk perempuan yang sudah entah hilang kemana. Perempuan itu ditelan bumi selepas Isak, usai keduanya meninggalkan dua gelas kopi di cafe sederhana ruko kompleks yang belum sama sekali disentuhnya.

“Jika hidup ini bisa distar lagi dari awal, dan jika aku boleh memilih, aku tidak akan menyapa, apalagi sampai menemuinya di tengah gelap penghujung malam. Karena, menyintanya itu berat rasanya.”

Namun tulisan ini dihapus setelah beberapa kali ia membacanya. Pria itu menuliskan kembali kata-kata pada tablet yang sudah usang, yang selalu dibawa dalam tas berwarna hitam.

“Tahi lalat kerap kali dianggap sebagai penyakit, namun bagi sebagian orang ini adalah penanda yang terkadang justru memberikan pesona menarik bagi pemiliknya. Itulah analogi yang seharusnya kita perdebatan agar kita tidak meremehkan hal-hal kecil yang tidak pernah dianggap sebagai persoalan, yang tidak kita sadari, ini bisa mengusik kenyamanan.”

Dihapus lagi tulisan itu, dan pria ini menulis kembali.

“Tidak ada yang disesalkan, kecuali kita tidak berani mengambil keputusan, apalagi takut dengan bayang-bayang kehilangan pasangan yang hanya kita idam-idamkan. Sedangkan kita tahu, di luaran sana begitu banyak orang yang merindukan perhatian dan kasih sayang.”

Entah kenapa, tulisan itu dihapus lagi dan menggantikannya dengan tulisan yang baru.

“Biarlah kisah pilu itu menjadi pelengkap cerita fiksi yang pernah diciptakan oleh pembuat cerita. Supaya rasa yang mendera ini menjadi cerita haru biru para insan yang sedang dimabuk cinta. Bisa seperti roman Rimeo dan Yuliet, Siti Nurbaya, atau film-film roman picisan yang kerap kali di recycle lantaran para pembuat cerita kehilangan ide untuk membuat cerita baru yang lebih menarik.”

Pria ini masih terus menulis dan menghapus tulisannya dengan kalimat yang baru. Sampai irama musik yang berdegup kencang perlahan menghilang, sampai kabut malam menghantar pagi, sampai lampu-lampu mall redup karena digantikan surya jingga yang mulai menggerayangi bumi, pria ini masih terus menulis dan menghapus tulisannya dengan tulisan yang baru.

Kali ini, Ia menuliskan kata-kata dengan kalimat yang lebih panjang. Pria itu memulai dari sebuah cafe sederhana di ruko kompleks sekitar rumah Zakiah sebelum perempuan itu menjatuhkan dirinya di Surabaya dan hidup bersama pria  keturunan Arab-Madura berperawakan besar, berotot sekal, bos pabrik rokok lokal, bujang lapuk, pandai mengaji nan kaya raya. Ya, pria yang menjadi pelabuhan terakhir dalam hatinya.

**

Betina itu berotot sekal. Begitu banyak cerita yang mengukir dua puluh dua hari-dua puluh dua malam. Waktu yang sejengkal: penuh riang gembira, haru, pilu, lalu duka cita karena harapannya jauh terpental. Rasa ingin memiliki secara utuh perempuan ini menjadi hal yang ‘mokal’. Lantaran cafe-cafe tongkrongan di gelap malam sudah menjadi candu betina pujaannya itu. Hasrat yang sama tapi cara dan selera yang berbeda telah meluluh lantakkan selarik kisah yang seharusnya penuh ceria tersebut.

Tidak ada yang disalahkan memang, kecuali rasa cinta yang telah menghadirkan perempuan ini terbelah di lautan luas ketika badai hebat menghantam perahu kecil mereka. Zakiah ikut kehilangan arah.

Pada saat Ia tidak tahu akan kemana, perahu berikutnya kembali dihadang badai yang tak kalah hebat. Gelombang badai menggulung hingga Ia semakin terombang-ambing. Mencari perlindungan sebagai sandaran, satu-persatu diantara mereka, ternyata juga hidup dalam gelombang yang sama.

Namun perempuan itu begitu kuat ingin mengubah dunia. Tempaan hidup yang begitu keras, guncangan badai yang bertubi-tubi menghantam, serta derita yang terus mendera menjadikan ototnya bak Gatotkaca. Dia ingin menjadi ayah bagi dirinya sendiri, atau mungkin juga ayah bagi anak-anaknya nanti.

“Aku tak perlu dikasihani! Aku bisa apa-apa sendiri! Brengsek! Semua Brengsek!”

Badai terakhir kembali menggulung ketika perahu itu akan berlabuh di dermaga kota tua, dimana Ia mulai menemukan cinta yang sesungguhnya. Namun, pria ini kembali menorehkan cerita yang membuat lukanya semakin menganga.

Sampai akhirnya, selepas Isak: ketika orang-orang sibuk dengan kehidupannya, dua gelas kopi yang belum sempat tersentuh, menyisakan cerita pilu. Ya, cerita setelah sebelumnya betina sundal entah siapa itu menggantikan perasaan pria beristeri brengsek terakhir dalam hidupnya.

Dari pria ini, Ia menghilang entah kemana, tak terlihat lagi di gelap malam.

Diam-diam, Zakiah membuat cerita baru bersama pria  keturunan Arab-Madura berperawakan besar, berotot sekal, bos pabrik rokok lokal, bujang lapuk, pandai mengaji nan kaya raya. Ya, pria yang menjadi pelabuhan terakhir dalam hatinya.

Begitu lah kehidupan. Untuk menjadi sesuatu itu, terkadang tidak dilihat dari apa yang kita sandang saat ini, tetapi ditentukan dari seberapa banyak kita berbuat untuk diri kita, lingkungan dan orang-orang di sekitar kita. *

Oleh: Widi Hatmoko

Cerita ini hanya fiksi, kalau ada kesamaan nama dan peristiwa hanya kebetulan saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *