NEWS UPDATEWISATA DAN KULINER

Ekspedisi Tiga Lokasi: Pekanbaru dan Mata Rantai Industri Halal

×

Ekspedisi Tiga Lokasi: Pekanbaru dan Mata Rantai Industri Halal

Sebarkan artikel ini
Riau Garden, Zona KHAS yang pertama didirikan di Riau

“Di sini bukanya mulai pukul tiga sore. Jadi siang ini kami baru persiapan.”

Begitulah ujar Annisa (25 tahun) yang merupakan salah satu pelaku usaha di Riau Garden, pusat kuliner yang terbaru dan lagi hits di Pekanbaru. Setelah bicara singkat, perempuan yang bercelemek merah layaknya koki itu lalu menemui seorang ojek online yang membawa barang pesanannya. Tampak ia begitu bergegas di siang hari yang cerah menjelang azan Zuhur berkumandang itu.

Saya yang baru menginjakkan kaki di Riau Garden tentu saja merasa bahwa Annisa sebagai tempat bertanya berbagai hal. Di tengah puluhan tenant yang masih tutup, sungguh adalah kebingungan hakiki yang menyergap pikiran dalam ekspedisi kuliner saya di Pekanbaru. Tak ada pemandangan orang yang berjubel untuk menikmati makan siang. Bayangan keramaian yang penuh berbagai kesibukan di meja makan pun seketika buyar belaka.

Annisa, pelaku kuliner di Riau Garden Pekanbaru

Meskipun begitu, penjelasan panjang lebar dari Annisa tentu saja bagaikan adalah kunci yang membuka ‘gembok-gembok’ yang tertutup di Riau Garden beberapa waktu silam. Adalah penjelasan perihal zona Kuliner Halal, Aman dan Sehat (KHAS) yang begitu gamblang ia sampaikan. Dari usaha Takoyaki Jajanan Anak Muda yang ia rintis sejak setahun belakangan, jelaslah jalan terang konsep ekonomi syariah itu. Hal ini bisa dilihat dengan jelas di jendela toko. Di sana ada ditempel kebijakan halal yang diketahui pimpinan perusahaan yang mengakomodir sekitar 32 tenant yang menjual berbagai kuliner.

“Di sini juga ada ditempel stiker Zona KHAS dan label pengawasan dari Dinas Kesehatan”, seru Annisa sambil membuka pintu yang masih tertutup. Begitu stiker telah terlihat jelas, pikiran saya langsung berlari pada acara peresmian Riau Garden sebagai zona KHAS.

Stiker Zona KHAS Riau Garden Pekanbaru

Peresmian itu dilakukan oleh Gubernur Syamsuar dan menobatkan Pekanbaru sebagai kota pertama di Riau yang ambil bagian dalam mata rantai industri halal untuk ekonomi berkelanjutan.

Peresmian Zona KHAS di Riau Garden ini sungguh bagai sebuah pohon berbunga mekar yang kini begitu semerbak mengeluarkan wanginya. Meskipun ini seperti riak kecil, tapi adalah bagian cita-cita pemerintah agar Indonesia menjadi pusat industri halal dunia. Saat ini Indonesia menduduki posisi keempat dunia dalam hal pengembangan ekosistem ekonomi syariah yang kuat dan sehat. Kemudian untuk produk makanan halal (halal food) Indonesia menempati peringkat dua dunia berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2022. Samudera industri halal kini benar-benar serius diarungi dari hulu hingga hilir oleh berbagai pihak terkait.

Setelah berbincang santai dengan Annisa, saya mengelilingi puluhan tenant yang masih tutup. Sama dengan tempat yang diduduki oleh Annisa, puluhan tenant lain rata-rata telah memiliki ‘identitas zona halal’ di dinding maupun di pintu masuk. Petang akan datang menjelang. Saya membayangkan segenap sudut Riau Garden begitu penuh sesak hingga malam berayun untuk menikmati kuliner yang aman, sehat, dan higienis. Puluhan tenaga kerja yang terserap dan ratusan pengunjung adalah bagian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya pada tujuan ke-3 (Kesehatan yang baik dan kesejehteraan), serta tujuan ke-8 (Pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi).

Jalan Sumatera

Ekspedisi kuliner pun berlanjut. Setelah mengunjungi Riau Garden yang terletak di Jalan H. Soebrantas, maka pada siang itu juga saya pun bertolak menuju Jalan Sumatera. Di jalan yang sepanjang 900 meter ini, terdapat banyak tempat nongkrong yang menyajikan kuliner beragam. Kesan jalannya relegius. Selain tempat untuk menjejal selera, jalan ini juga tempat berdirinya Majid Al-Falah Darul Muttaqin dan GPIB Immanuel Pekanbaru.

Berangkat dari wacana bahwa akan dijadikannya Jalan Sumatera menjadi zona KHAS, maka saya mencoba mendalami hal tersebut. Bagai mengikuti jejak Pemko dan Komite Nasional dan Keuangan Syariah (KNEKS) yang telah duluan survei, saya pun memilih singgah di salah satu tempat nongkrong. Mantea, sebuah kafe sederhana kembali bangkit setelah mengalami kebakaran hebat pada awal tahun 2022 lalu.

“Kami belum tahu bahwa Jalan Sumatera akan dijadikan zona KHAS. Tapi beberapa hari lalu sempat ada yang survei soal sertifikat halal. Mungkin owner yang tahu.” Tukas Fatra (21 tahun), seorang pekerja cafe dengan setelan jilbab abu-abu itu.

Fatra, pekerja kafe Manantea di Jalan Sumatera Pekanbaru

Dari penuturan Fatra, saya pun berpikir bahwa Pemko dan pihak terkait lain memang serius menggarap Zona KHAS. Ibarat mau menggelar hajatan yang besar, tenda-tenda pun telah mulai didirikan.

“Kalau memang diterapkan di sini, kami siap saja. Semoga jalan ini semakin banyak pengunjungnya,” sambung Fatra setelah mendengar penuturan saya perihal Riau Garden.

Jika nantinya Jalan Sumatera benar-benar dijadikan zona KHAS, maka ini menjadi potensi untuk memulihkan ekonomi masyarakat pasca pandemi Covid-19. Apalagi Jalan Sumtera sangat dekat dengan Tugu Keris (pusat kuliner kaki lima), Jalan Sudirman, RTH Putri Kaca Mayang, serta Jalan Gajah Mada yang notabene sering mengelar acara besar dan konser musik.

Jalan Arifin Ahmad

Seakan belum puas mendulang pengetahuan perihal zona KHAS, maka pada malamnya saya pun bertolak ke Jalan Arifin Ahmad. Di sini saya telah ditunggu Khadafi (27 tahun), seorang alumni SMA Al Azhar Syifa Budi Pekanbaru tempat saya mengajar. Khadafi merupakan owner Kafe Aksen yang baru berdiri pada awal tahun 2022.

Sama dengan Fatra, Khafadi mengaku belum mengetahui wacana tentang akan diterapkannya zona KHAS di Jalan Arifin Ahmad yang memiliki sekitar 62 tenant.

Khadafi, pemilik Kafe Aksen di Jalan Arifin Ahmad Pekanbaru

“Kalau tentang wacana zona KHAS saya pribadi belum tahu. Tapi sebagai pelaku usaha, menyiapkan segalanya tentang yang halal, bersih dan higienis adalah kewajiban. Musala pun saya sediakan. Kemudian sertifikat halal sedang pengurusan.” Tukas Khadafi yang terus meningkatkan daya kreasi terkait menu makanan dan minuman di kafe yang desainnya terinspirasi dari coffe shop Starbucks ini.

Satu ‘ledakan’ TPB ke-12 yang langsung saya nikmati malam itu. Bahwa dalam melaksanakan zero waste, Khadafi memilih konsep tanpa menggunakan sedotan di setiap menu minuman.

“Ini langkah saya mengurai sampah plastik di kafe ini. Selanjutnya saya berpikir agar sampah di sini bisa diolah untuk dimanfaatkan kembali,” tutup Khadafi yang membuka kafenya dari pukul 10 pagi hingga pukul 12 malam pada akhir pekan.

Sinergi Berbagai Pihak

Dari ekspedisi kuliner saya di tiga lokasi, jelaslah bahwa Riau begitu serius membangun rantai industri halal. Setelah Pekanbaru, Pemprov juga berencana mendirikan kawasan industri halal di Dumai dan di Kampar. Untuk mewujudkan hal ini, tentu saja dibutuhkan sinergi berbagai pihak baik Pemprov, Pemko, Dinas Kesehatan, dan lain sebagainya.

Mizan Nawi, Ketua PW DMI Riau dan Dekan FEB UMRI yang sempat saya wawancarai mengatakan, bahwa sangat mendukung penerapan zona KHAS di Riau. Dari 12.000 masjid dan musala di Riau, setidaknya ini adalah faktor pendukung untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait produk dan industri halal.

Senada dengan Mizan Nawi, Eri Syahrimar dari Komisi Fatwa MUI Pekanbaru juga mengatakan, bahwa penerapan Zona KHAS akan meningkatkan brand halal. Tentunya semua itu mesti melalui sertifikasi halal yang akan menjadi nilai positif di tengah masyarakat.

Sejatinya, majunya industri halal akan berimbas pada meningkatnya aset keuangan syariah. Sebagaimana diketahui bahwa menurut OJK, aset keuangan syariah Indonesia telah mencapai 2.450,55 triliun per Juni 2023. Dengan adanya Master Plan Industri Halal Indonesia 2023-2029 yang diterbitkan KNEKS dan Bappenas, maka ini sungguh kesempatan besar yang akan melambungkan nama Indonesia sebagai produsen halal terkemuka dunia.

Akhirnya, dari riak kecil industri halal di Riau, maka diharapkan akan menginspirasi propinsi-propinsi lain yang bermuara pada lahirnya perekonomian umat dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang telah diadopsi Indonesia sejak tahun 2015.

Biodata Penulis:

Budi Saputra. Lahir di Padang, 20 April 1990. Ia menulis di berbagai media massa seperti Lampung Post, Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Kompas, Koran Tempo, dan lain-lain. Sekarang bermukim di Pekanbaru, Riau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *