JEJAK KATA, Jakarta — Besarnya potensi gas Indonesia belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pemanfaatannya untuk kebutuhan domestik. Jarak antara sumber gas dan pusat permintaan, struktur harga, keterbatasan infrastruktur, serta kepastian penyerapan masih menjadi persoalan yang memengaruhi keekonomian proyek dari hulu hingga hilir.
Praktisi migas Benny Lubiantara mengatakan, optimalisasi gas domestik membutuhkan ekosistem yang menjamin keekonomian pengembangan lapangan sekaligus kepastian pasar. Menurut dia, ketersediaan cadangan saja tidak cukup jika gas tidak bisa diproduksi, disalurkan, dan diserap secara berkelanjutan.
“Driver-nya adalah ketersediaan infrastruktur dan market yang pada akhirnya akan menentukan keekonomian proyek,” ujar Benny.
Menurut Benny, kedekatan prospek eksplorasi dengan infrastruktur menjadi semakin penting dalam upaya mempercepat monetisasi temuan gas. Pendekatan Infrastructure-Led Exploration, kata dia, dapat menjadi salah satu strategi yang relevan.
Eksplorasi di wilayah yang belum banyak tersentuh juga membutuhkan dukungan kebijakan. Selain fiskal, keputusan investasi dipengaruhi kemudahan berusaha, kepastian regulasi, infrastruktur, serta prospek pasar.
“Untuk mendorong eksplorasi secara masif, khususnya di wilayah unexplored basins, diperlukan terobosan fiskal dan kebijakan yang mampu meningkatkan keekonomian proyek,” kata Benny.
Ia juga menilai kebijakan harga gas perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan produsen. Harga harus kompetitif bagi industri pengguna, tetapi tetap memberikan tingkat keekonomian yang memadai untuk mendorong investasi lapangan baru dan infrastruktur.
Infrastruktur Jadi Kunci
Praktisi migas sekaligus mantan Sekjen Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, mengatakan persoalan berikutnya adalah menghubungkan sumber produksi dengan pusat permintaan secara ekonomis dan andal.
Menurut Hadi, jaringan pipa tetap menjadi tulang punggung distribusi gas. Namun, wilayah yang belum memungkinkan terhubung melalui pipa dapat dilayani dengan CNG, mini LNG, LNG, maupun fasilitas regasifikasi. Infrastruktur tersebut, kata dia, harus dirancang berdasarkan sumber pasokan dan kebutuhan pasar.
“Kepastian pembeli, volume penyerapan, formula harga, dan kontrak jangka panjang akan memberikan dasar yang lebih kuat bagi pelaku usaha maupun lembaga pembiayaan dalam mengambil keputusan investasi,” ujar Hadi dalam diskusi pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Hadi mengatakan gas tidak cukup hanya ditemukan dan diproduksi. Gas harus dapat dimonetisasi dan sampai ke pengguna dengan biaya kompetitif. Karena itu, kebijakan, investasi, infrastruktur, dan pasar perlu dirancang sebagai satu kesatuan.
Ia mendorong penguatan sisi hilir, terutama melalui pembangunan infrastruktur dan peningkatan pemanfaatan gas oleh industri. Dengan pasar yang lebih pasti dan infrastruktur yang terintegrasi, gas dari wilayah produksi dapat disalurkan ke pusat permintaan dan menghasilkan nilai tambah lebih besar di dalam negeri.
“Ke depan, kita perlu mendorong agar 80–90 persen potensi gas yang memungkinkan secara teknis dan ekonomis dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan domestik,” kata Hadi.
Persoalan tersebut akan menjadi bagian dari pembahasan Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK) 2026. Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha hulu, penyedia infrastruktur dan midstream, pembeli gas, pengguna akhir, serta pemangku kepentingan lainnya.
Salah satu isu yang dibahas adalah integrasi sumber pasokan dengan pusat permintaan, baik melalui optimalisasi jaringan pipa maupun pemanfaatan infrastruktur LNG, termasuk regasifikasi, penyimpanan, dan distribusi LNG skala kecil.
Pada akhirnya, optimalisasi gas domestik bukan semata soal besarnya cadangan. Tantangannya adalah memastikan gas dapat dialokasikan, disalurkan, terserap, dan dikomersialisasikan secara optimal tanpa mengorbankan keekonomian proyek dan daya tarik investasi hulu migas. (*






