Liputan

A-DHL dan Lazismu Gunungkidul, Sepasang Sepatu untuk Merajut Masa Depan

×

A-DHL dan Lazismu Gunungkidul, Sepasang Sepatu untuk Merajut Masa Depan

Sebarkan artikel ini
A-DHL salah satu produk sepatu lokal Indonesia | Foto: Dok. Istimewa

JEJAK KATA, Tangerang — Bagi sebagian anak, sepatu bukan sekadar alas kaki. Ia menjadi bekal menempuh perjalanan ke sekolah, menapak jalan menuju cita-cita, atau sekadar mengikis rasa minder ketika berdiri di antara teman-temannya.

Dari kebutuhan sederhana itulah Program Seribu Sepatu digerakkan Lazismu Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lembaga filantropi Muhammadiyah ini menggandeng A-DHL, merek sepatu lokal produksi PT Tata Laksana Sakti, Tangerang, untuk membantu siswa dari keluarga kurang mampu.

Dukungan datang dari Sukardiyo, pemilik A-DHL yang akrab disapa Pakde Kardiyo. Ia menyatakan dukungan perusahaannya terhadap program bantuan pendidikan tersebut.

“Kami dari Tata Laksana Sakti sangat mendukung Program Seribu Sepatu,” ujar Sukardiyo, Selasa, 29 September 2026.

Kolaborasi ini mempertemukan dua dunia yang kerap berjalan sendiri-sendiri: industri alas kaki dan gerakan sosial pendidikan. Di satu sisi, produsen memiliki kemampuan menyediakan produk. Di sisi lain, Lazismu menggerakkan kepedulian agar bantuan menjangkau anak-anak yang membutuhkan.

Di Gunungkidul, sepatu sekolah bukan semata urusan penampilan. Bagi keluarga berpenghasilan terbatas, memenuhi kebutuhan pendidikan anak bisa menjadi perkara tersendiri. Seragam, buku, ongkos perjalanan, hingga alas kaki harus berbagi tempat dalam anggaran rumah tangga yang terbatas.

Program Seribu Sepatu berupaya meringankan salah satu beban itu. Sepasang sepatu mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seorang anak, ia bisa menjadi bekal untuk melangkah lebih percaya diri menuju ruang kelas.

Lazismu Gunungkidul merupakan bagian dari jaringan Lazismu di bawah Muhammadiyah yang mengelola zakat, infak, sedekah, serta dana kedermawanan lainnya. Melalui program pendidikan, lembaga ini berupaya menjadikan dana sosial bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan jembatan bagi anak-anak untuk memperoleh kesempatan belajar yang lebih baik.

Rofityani, salah seorang pengelola Lazismu Gunungkidul, mengajak masyarakat ikut mengambil bagian dalam gerakan tersebut. Ia menilai kepedulian terhadap pendidikan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.

“Melalui program Seribu Sepatu, Lazismu Gunungkidul mengajak kita membantu siswa-siswi dari keluarga kurang mampu agar bisa bersekolah dengan lebih nyaman dan penuh semangat,” ujar Rofityani.

Kerja sama dengan A-DHL memperlihatkan bagaimana pelaku usaha dapat mengambil peran dalam pembangunan sosial. Industri tidak hanya menghasilkan barang untuk pasar, tetapi juga dapat menghadirkan manfaat bagi masyarakat melalui kemitraan yang terarah.

Sepatu tentu tidak serta-merta menghapus kemiskinan atau menjamin masa depan seorang anak. Namun, bantuan yang tepat dapat mengurangi salah satu hambatan yang dihadapi keluarga dalam memenuhi kebutuhan sekolah.

Di situlah arti Program Seribu Sepatu: mempertemukan kemampuan industri, kedermawanan masyarakat, dan kebutuhan pendidikan dalam satu gerakan yang berpijak pada persoalan nyata.

Bagi anak-anak penerima manfaat, langkah menuju masa depan bisa dimulai dari sepasang sepatu. Selebihnya, kesempatan untuk belajar dan meraih cita-cita menjadi perjalanan panjang yang layak mereka tempuh dengan percaya diri. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *