Soft News

Sagu, Jejak Pangan Nusantara yang Menawarkan Hidup Lebih Sehat

×

Sagu, Jejak Pangan Nusantara yang Menawarkan Hidup Lebih Sehat

Sebarkan artikel ini
Foto: Dok. Istimewa

PENGETAHUAN — Obrolan singkat bersama Prof. Bambang Haryanto, peneliti sagu dari BPPT Pusat, di Resto Dapoer Djatidiri, Kebon Djatidiri, Panongan, Tangerang, beberapa waktu lalu, menyisakan satu gagasan menarik: sagu bukan sekadar warisan pangan leluhur, melainkan alternatif makanan pokok yang layak diperhitungkan kembali.

Profesor bidang teknologi pascapanen, atau teknologi pengolahan hasil pertanian, yang kini intens meneliti sagu itu, mengungkapkan bahwa jejak sagu sesungguhnya tersimpan dalam berbagai bahasa daerah, termasuk Sunda dan Jawa. Dalam bahasa Jawa, nasi disebut sego, sedangkan orang Sunda mengenalnya sebagai sangu. Menurut Bambang, kedua istilah tersebut memiliki kaitan dengan kata sagu, yang dahulu menjadi salah satu sumber pangan pokok masyarakat.

“Orang Jawa menyebut nasi itu kan ‘sego‘, orang Sunda ‘sangu‘. Arti kata tersebut pada awalnya adalah ‘sagu’,” ujar Prof. Bambang Haryanto.

Bagi Bambang, sagu memiliki kualitas yang baik sebagai sumber pangan. Ia mengakui kandungan gizi, seperti lemak, karbohidrat, dan protein, pada sagu tidak sebanyak yang ditemukan dalam sejumlah sumber makanan lain. Namun, ia mengajak masyarakat melihat sagu bukan semata-mata dari kandungan gizinya, melainkan juga dari kemampuan tanaman itu menghasilkan pati sebagai sumber energi.

“Namun, jika diukur melalui pati yang dihasilkan, sagu jelas lebih baik,” katanya.

Salah satu karakteristik sagu yang disorot Bambang adalah kandungan gulanya yang relatif rendah dibandingkan sejumlah sumber pangan lain. Karakteristik ini, menurut dia, membuat sagu berpotensi menjadi pilihan pangan bagi berbagai kalangan, termasuk mereka yang perlu memperhatikan asupan gula. Meski demikian, konsumsi sagu tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan gizi dan kondisi kesehatan masing-masing.

“Kalau kita lihat, orang-orang dulu yang menjadikan sagu sebagai makanan pokok sehari-hari, jauh dari penyakit diabetes. Akan jauh berbeda dengan mereka yang mengonsumsi beras atau nasi. Ditambah lagi dengan pola hidup yang salah,” bebernya.

Bambang juga mengingatkan bahwa diabetes berkaitan dengan berbagai risiko penyakit lain. Pola hidup yang tidak teratur, kebiasaan makan yang kurang sehat, serta minimnya aktivitas fisik dapat memperbesar risiko gangguan kesehatan. Karena itu, ia memandang pilihan bahan pangan perlu menjadi bagian dari pembicaraan yang lebih luas tentang pola hidup sehat, bukan sekadar urusan mengenyangkan perut.

Dari situlah Bambang merekomendasikan sagu sebagai bahan pangan pokok alternatif yang patut dikembangkan. Sosok nyentrik yang mengaku telah meneliti sagu sejak 1980 itu memandang tanaman ini sebagai salah satu jawaban atas kebutuhan pangan sehat masyarakat. Selain potensi pemanfaatannya, sagu juga memiliki keunggulan dalam daya tahan tanaman dan kemampuan menghasilkan pati, sehingga layak mendapat tempat dalam upaya diversifikasi pangan nasional.

Untuk diketahui, sagu merupakan tepung atau olahan yang diperoleh melalui pemrosesan bagian dalam batang rumbia atau pohon sagu (Metroxylon sagu Rottb). Secara fisik, tepung sagu memiliki karakteristik yang mirip dengan tepung tapioka. Namun, keduanya berbeda, begitu pula dengan terigu atau gandum. Pohon sagu dapat tumbuh hingga setinggi 20 meter, bahkan mencapai 30 meter. Dari satu pohon, potensi pati yang dihasilkan berkisar antara 150 hingga 300 kilogram. Sebuah potensi pangan yang tumbuh di tanah Nusantara, tetapi masih menunggu perhatian lebih besar di meja makan masyarakatnya. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *