Liputan

Sepekan Dua Kerangka di Pasar Kemis: Ketika Orang Hilang Tak Punya Nama

×

Sepekan Dua Kerangka di Pasar Kemis: Ketika Orang Hilang Tak Punya Nama

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

JEJAK KATA, Tangerang — Pasar Kemis menyimpan dua teka-teki kematian yang muncul hampir bersamaan. Dalam sepekan, dua kerangka manusia ditemukan di wilayah padat penduduk Kabupaten Tangerang itu. Satu mulai menemukan titik terang melalui tes DNA. Satu lagi masih gelap, tanpa identitas dan petunjuk yang pasti.

Dua penemuan tersebut menyisakan pertanyaan yang sama: bagaimana tulang-belulang manusia bisa ditemukan di tengah permukiman tanpa diketahui siapa pemiliknya?

Di sekitar Perumahan Puri Jaya, misteri penemuan kerangka mulai mengarah kepada seorang ibu bernama Sutini. Sutini menjalani pengambilan sampel DNA pembanding untuk dicocokkan dengan profil genetik kerangka melalui analisis kekerabatan biologis (kinship analysis).

Tes itu menjadi pintu untuk menjawab penantian panjang sebuah keluarga. Namun, selama hasil pencocokan belum keluar, identitas kerangka tersebut belum dapat dipastikan. Dugaan keluarga masih harus diuji melalui pemeriksaan ilmiah.

Tiga tahun kehilangan bukan waktu yang pendek. Selama itu pula, keberadaan sang anak menjadi pertanyaan yang belum terjawab. Kini, tulang-belulang yang ditemukan di Puri Jaya membuka kemungkinan untuk mengakhiri ketidakpastian tersebut, meski belum menjadi kepastian.

Di Kampung Sondol, Kelurahan Kuta Bumi, cerita berbeda masih membentang. Kerangka yang ditemukan warga pada Kamis, 24 September 2026, diperkirakan berasal dari seorang laki-laki berusia sekitar 50 tahun.

Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengevakuasi kerangka ke RSUD Balaraja untuk pemeriksaan forensik. Namun, hingga kini, penyidik belum memperoleh petunjuk jelas mengenai identitas pria tersebut.

Belum diketahui siapa keluarganya, dari mana asalnya, atau berapa lama kerangka itu berada di lokasi. Penyebab kematiannya juga belum terungkap. Polisi menyatakan belum menemukan bukti yang mengarah pada dugaan tindak pidana.

Di sinilah dua penemuan itu bertemu dalam satu ironi. Pasar Kemis bukan hutan belantara. Kawasan ini dipenuhi permukiman, jalan, aktivitas perdagangan, dan lalu-lalang penduduk. Namun, keberadaan dua kerangka manusia justru menyisakan ruang kosong dalam ingatan warga.

Tak seorang pun yang diketahui mengenali kerangka di Kampung Sondol sebelum ditemukan. Setidaknya, sampai penyelidikan berlangsung, belum ada informasi masyarakat yang bisa mengarahkan polisi kepada identitas korban.

Kerangka manusia tidak bisa menceritakan perjalanan terakhir pemiliknya. Polisi harus merangkai petunjuk dari pemeriksaan forensik, laporan orang hilang, dan keterangan warga.

Dua penemuan dalam sepekan itu bukan sekadar perkara tulang-belulang. Di baliknya, ada kemungkinan keluarga yang masih mencari, orang hilang yang belum ditemukan, dan kematian yang belum memperoleh penjelasan.

Di Puri Jaya, Sutini menunggu tes DNA menjawab kehilangan tiga tahun. Di Kampung Sondol, seorang pria berusia sekitar 50 tahun masih menunggu namanya ditemukan. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *