Jejak KataSoft News

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026: Pancasila Pemersatu Bangsa

×

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026: Pancasila Pemersatu Bangsa

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

NASIONAL — Hari Kesaktian Pancasila diperingati hari ini, Kamis, 1 Oktober 2026. Pemerintah mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Tema itu tercantum dalam pedoman penyelenggaraan peringatan yang diterbitkan Kementerian Kebudayaan.

Peringatan ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Setiap 1 Oktober, pemerintah dan berbagai lembaga menggelar upacara untuk mengenang rangkaian peristiwa politik dan kekerasan yang terjadi pada 1965 serta para korban yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi.

Secara resmi, 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila melalui Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967. Ketetapan itu menjadi dasar penyelenggaraan peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap tahun.

Pada 2026, upacara tingkat pusat dijadwalkan berlangsung di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Kamis, 1 Oktober. Kementerian Kebudayaan menyebut pelaksanaan upacara di lingkungan pemerintah pusat dikoordinasikan kementerian tersebut, sementara instansi di daerah merujuk pada pedoman yang sama.

Tema tahun ini menempatkan Pancasila sebagai titik temu di tengah keberagaman Indonesia. Frasa “pemersatu bangsa” dikaitkan dengan cita-cita membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Sejumlah lembaga pemerintah juga menekankan aspek pengamalan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Bawaslu Kabupaten Pringsewu, misalnya, menyebut nilai Pancasila relevan untuk menjaga persatuan sekaligus memperkuat kehidupan demokrasi.

Namun, peringatan Hari Kesaktian Pancasila juga menyimpan pekerjaan yang lebih panjang daripada sekadar mengulang ikrar dalam upacara. Nilai persatuan diuji dalam cara negara dan masyarakat memperlakukan perbedaan, menjalankan hukum, menjaga keadilan, serta memastikan hak warga negara.

Pancasila, dengan demikian, bukan hanya lima sila yang dibacakan dalam upacara. Ia juga menjadi ukuran bagaimana kehidupan berbangsa dijalankan sehari-hari—di ruang publik, lembaga negara, sekolah, tempat kerja hingga lingkungan masyarakat. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *