Jejak KataLiputan

BMKG: Karhutla Mengintai, 674 Titik Panas Terdeteksi di Sejumlah Wilayah

×

BMKG: Karhutla Mengintai, 674 Titik Panas Terdeteksi di Sejumlah Wilayah

Sebarkan artikel ini
Foto: Dok. Istimewa

JEJAK KATA, Jakarta — Musim kemarau belum sepenuhnya selesai, tetapi api sudah lebih dulu menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ratusan titik panas terdeteksi di berbagai wilayah Indonesia hingga 30 September 2026.

Dalam Factsheet Monitoring dan Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan yang berlaku 1–7 Oktober 2026, BMKG menyebut kondisi atmosfer Indonesia secara umum kurang mendukung pembentukan awan hujan. Kondisi itu berkaitan dengan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada pada fase positif.

Pada dasarian II September, indeks IOD tercatat +0,935, meningkat dibanding Agustus yang berada di angka +0,376. Suhu muka laut di wilayah Samudra Hindia bagian barat juga lebih hangat dibanding normal, sementara perairan Sumatera dan Jawa bagian barat relatif lebih dingin.

Kombinasi kondisi tersebut cenderung mengurangi suplai uap air ke Indonesia. Dengan kata lain, atmosfer sedang tidak terlalu rajin mengantar hujan.

Di sisi lain, suhu muka laut kawasan Nino3.4 tercatat +2,97, meningkat dari +2,83 pada Agustus. BMKG menyatakan kondisi tersebut menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.

Ratusan Titik Panas

Data pemantauan 30 September 2026 menunjukkan 159 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Sumatera. Sebanyak 124 titik berada di Sumatera Selatan, 16 di Jambi, 14 di Lampung, dan 5 di Kepulauan Bangka Belitung.

Di Kalimantan terdeteksi 193 titik panas, terdiri atas 84 titik di Kalimantan Tengah, 47 di Kalimantan Barat, 46 di Kalimantan Timur, 13 di Kalimantan Selatan, dan 3 di Kalimantan Utara.

Sementara di wilayah Papua dan Maluku terdeteksi 322 titik panas. Sebanyak 245 titik berada di Papua Selatan, 35 di Papua Barat, 21 di Maluku, 10 di Papua Barat Daya, 9 di Maluku Utara, dan 2 di Papua.

Asap pun mulai bergerak melintasi batas negara. BMKG memantau transboundary haze dari Kalimantan menuju Sarawak dan dari Papua Nugini menuju Papua Selatan. Arah angin secara umum bergerak dari timur hingga tenggara menuju barat hingga barat laut.

Risiko Tinggi di Sumatera dan Kalimantan

Berdasarkan Fire Weather Index (FWI), periode 1–7 Oktober 2026 menunjukkan potensi kebakaran hutan dan lahan dari kategori rendah hingga sangat tinggi.

Di Sumatera, risiko tertinggi terdapat di sebagian Kepulauan Riau, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung. Di Kalimantan, risiko tinggi berada di sebagian Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Meski begitu, hujan belum sepenuhnya menghilang dari peta. BMKG masih memprakirakan peluang hujan ringan hingga sedang di sejumlah wilayah, termasuk Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan dan Papua. Hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi di beberapa wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung dan Papua.

BMKG juga mencatat operasi modifikasi cuaca masih berlangsung di sejumlah daerah, antara lain Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Jambi, Sumatera Utara, dan Jawa Barat.

Rekomendasi BMKG: kewaspadaan perlu ditingkatkan terutama di wilayah dengan banyak titik panas dan kondisi atmosfer yang kering karena dapat mempermudah penyebaran api. (*


Sumber: BMKG, Selasa, 2 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *