JEJAK KATA, Jakarta — Persatuan kerap terdengar gagah ketika diucapkan dari atas podium. Namun bagi Indri Damayanthi, persatuan bukan sekadar kata yang dipasang sebagai tema acara. Persatuan harus diuji dari satu pertanyaan sederhana: siapa yang benar-benar diberi ruang di dalamnya?
Pertanyaan itu disampaikan Indri setelah Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI) periode 2026-2029 dilantik di Novotel Jakarta Pulomas, Jakarta Timur, Kamis, 8 Oktober 2026. Pelantikan tersebut mengusung tema “Menjaga Persatuan, Menyatukan Gerakan, Menguatkan Indonesia”.
Sebagai Kabid Kewanitaan PB SEMMI, Indri mengingatkan agar persatuan tidak berhenti sebagai slogan. Menurut dia, persatuan semestinya menghadirkan ruang yang setara bagi perempuan untuk bersuara, berorganisasi, bahkan memimpin.
“Persatuan bukan sekadar jargon. Ia adalah arah dan janji bahwa setiap langkah gerakan harus berpijak pada persatuan yang sungguh-sungguh, bukan persatuan yang menutup mata,” kata Indri saat ditemui di lokasi.
Bagi Indri, perjuangan perempuan bukan agenda tambahan dalam gerakan sosial. Perempuan telah lama berserikat dan memperjuangkan haknya di berbagai ruang, dari kampus dan tempat kerja hingga sektor pertanian dan kelautan.
“Mereka menuntut hak untuk didengar, untuk aman, dan untuk setara,” ujarnya.
Ia mengaitkan persoalan perempuan dengan demokrasi dan kemerdekaan. Demokrasi, menurut dia, tidak cukup hanya menghadirkan pemilu atau ruang politik. Demokrasi juga membutuhkan keterlibatan kelompok yang selama ini berisiko tersisih.
“Tidak mungkin ada demokrasi tanpa keterlibatan semua. Tidak mungkin ada kemerdekaan jika masih ada yang tertindas. Dan tidak mungkin ada persatuan jika perempuan dikesampingkan. Tidak ada persatuan tanpa perempuan,” kata Indri.
Ia menyoroti kekerasan, diskriminasi, ruang yang tidak aman, hingga pembungkaman suara perempuan yang masih terjadi. Karena itu, gerakan perempuan, menurut Indri, juga perlu memberi perhatian kepada kelompok yang rentan terpinggirkan, seperti perempuan penyandang disabilitas, buruh, nelayan, dan petani.
“Mereka membutuhkan ruang untuk tumbuh, ruang untuk memimpin, dan ruang untuk menentukan masa depannya sendiri,” ujarnya.
Indri mengatakan Bidang Wanita PB SEMMI akan diarahkan menjadi ruang bagi perempuan untuk saling menguatkan dan mengorganisasi diri. Bidang tersebut juga akan mendorong pengawalan kebijakan publik agar tidak mengabaikan hak perempuan.
“Bidang Perempuan PB SEMMI hadir sebagai fasilitas untuk ruang aman tersebut. Menjadi wadah tempat perempuan saling menguatkan, mengorganisir diri, dan mengawal agar setiap kebijakan negara berpihak pada keadilan,” kata dia.
Pelantikan pengurus baru PB SEMMI periode 2026-2029, bagi Indri, bukan sekadar pergantian kepengurusan. Momentum itu diharapkan menjadi titik awal untuk memperkuat gerakan yang lebih inklusif.
Sebab, dalam urusan persatuan, perempuan semestinya bukan pelengkap foto organisasi atau penghias struktur kepengurusan. Mereka adalah bagian dari suara yang menentukan ke mana gerakan akan dibawa.
“Indonesia yang kuat hanya bisa lahir dari gerakan yang menyatukan, dan gerakan yang menyatukan hanya bisa lahir dari bangsa yang setara,” ujar Indri. (*






