Jejak KataLiputan

Maggot BSF di TPS CitraRaya, 320 Kilogram Sampah Organik Tereduksi Sehari

×

Maggot BSF di TPS CitraRaya, 320 Kilogram Sampah Organik Tereduksi Sehari

Sebarkan artikel ini
Maggot yang dihasilkan dari sampah organik di TPS CitraRaya Tangerang | Foto: Dok. Widi. H

JEJAK KATA, Tangerang — Sisa makanan dari rumah tangga, restoran, dan pasar umumnya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Di Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) CitraRaya, Kabupaten Tangerang, sampah organik itu mendapat jalan lain. Larva lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF), yang dikenal sebagai maggot, dimanfaatkan untuk mengurai sisa makanan sebelum semuanya berakhir sebagai timbunan sampah.

General Manager (GM) Estate Management (Manajemen Kota) PT Ciputra Residence, Meita Mediawati, mengatakan fasilitas pengolahan di TPS CitraRaya mampu mereduksi sekitar 320 kilogram sampah organik per hari melalui budidaya maggot.

Sampah tersebut berasal dari rumah tangga, pedagang, restoran, hingga City Market, pasar semimodern di kawasan itu. Alih-alih langsung diangkut untuk dibuang, sampah organik diproses sebagai pakan larva yang mengonsumsinya selama masa pertumbuhan.

Pendekatan ini menawarkan dua manfaat: mengurangi volume sampah organik yang perlu dibuang sekaligus memanfaatkan kembali material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada pemilahan dan pengelolaan sampah sejak dari sumber.

“Hal ini juga menjadi salah satu bentuk komitmen kami sebagai kota mandiri untuk menciptakan lingkungan yang sehat, serta mengurai persoalan tanpa menimbulkan masalah,” ujar Meita dalam wawancara pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Dari Sisa Makanan Menjadi Sumber Daya

Maggot BSF bukan sekadar belatung yang tumbuh di tumpukan sampah. Larva ini berasal dari lalat Hermetia illucens, serangga yang dapat dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik melalui budidaya terkontrol.

Larva mengonsumsi berbagai bahan organik, termasuk sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan. Aktivitas tersebut membantu mengurangi massa bahan yang diolah. Hasilnya, bagaimanapun, tidak selalu sama karena dipengaruhi jenis sampah, jumlah larva, kadar air, suhu, dan kondisi pemeliharaan.

Dalam budidaya yang memenuhi persyaratan keamanan dan mutu, larva BSF dapat dipanen sebagai bahan pakan ikan atau unggas. Sisa media pengolahannya, yang dikenal sebagai residu atau kasgot, juga berpotensi dimanfaatkan sebagai pembenah tanah atau pupuk organik setelah kualitas dan tingkat kematangannya diperiksa.

Meski demikian, maggot bukan solusi untuk seluruh jenis sampah. Plastik, logam, kaca, dan bahan berbahaya tidak dapat diatasi dengan metode ini. Pemilahan sejak dari rumah tetap menjadi kunci agar sampah organik tidak tercampur dengan material yang menghambat proses pengolahan.

Tempat atau lokasi budidaya maggot di TPS CitraRaya Tangerang | Foto: Dok. Widi. H

Sampah Taman Punya Kehidupan Kedua

TPS CitraRaya juga mengolah sampah lanskap, seperti sisa pemangkasan tanaman, untuk dimanfaatkan kembali bagi kebutuhan penghijauan. Pengolahan ini menjadi jalur lain untuk mengurangi limbah dari pemeliharaan kawasan.

Menurut Meita, pengelola menggunakan bio aktivator EM4 untuk membantu proses pengolahan sampah lanskap tersebut. Material yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan sebagai topsoil atau material lapisan tanah untuk mendukung pembibitan tanaman lanskap.

“Dalam sehari mampu mengolah sampah lanskap rata-rata 8 ton. Ini dimanfaatkan untuk lapisan tanaman yang ada di tempat pembibitan tanaman lanskap milik CitraRaya,” kata Meita.

Kapasitas tersebut menunjukkan besarnya potensi pemanfaatan kembali limbah taman. Namun, jumlah sampah yang diolah belum dengan sendirinya menjelaskan kualitas hasil akhirnya. Kelayakan material tetap perlu diperhatikan agar sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kondisi tanah.

Metode Controlled Landfill

Di luar pengolahan organik, pengelolaan sampah eksisting di TPS CitraRaya yang tidak terangkut ke TPA akan dikelola menggunakan sistem controlled landfill. Dalam hal ini, TPS CitraRaya menggandeng konsultan persampahanagar desain sesuai dengan konsep dan kaidah pengelolaan sampah sesuai standar desain yang berlaku.

Rencana penerapan controlled landfill telah disusun sejak 2025. Meita mengatakan, implementasinya semula ditargetkan berjalan pada Agustus 2026. Namun, karena kendala teknis, kerja sama baru dilaksanakan pada September 2026.

“Penanganan sampah menjadi konsen kami. Kami berharap, pengelolaan sampah menggunakan metode controlled landfill ini bisa menjadi solusi dalam menangani persoalan sampah, terutama di lingkungan CitraRaya,” ujar Meita.

Sementara itu, sampah baru yang diangkut dari sumber direncanakan akan diolah menggunakan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF). Teknologi ini mengolah sampah yang memenuhi persyaratan menjadi bahan bakar alternatif. Pembangunannya, menurut pengelola, akan dilakukan secara bertahap.

Pengembangan tersebut diarahkan menuju konsep Tempat Pengolahan Sampah Terpadu berbasis reduce, reuse, recycle (TPST 3R), dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Konsep ini menempatkan pengurangan sampah, penggunaan kembali, dan daur ulang sebagai bagian dari pengelolaan yang lebih menyeluruh.

Maggot hasil budidaya di TPS CitraRaya Tangerang memiliki nilai ekonomi, disamping mengurai persoalan sampah organik di kawasan tersebut | Foto: Dok. Widi. H

Kebiasaan Kecil yang Menentukan

Meita mengajak warga dan pengunjung CitraRaya untuk tidak membuang sampah sembarangan. Menurut dia, pengelola telah menyediakan tempat sampah di sejumlah titik kawasan.

Ajakan itu terdengar sederhana, tetapi menjadi bagian penting dalam rantai pengelolaan sampah. Memisahkan sisa makanan dari kemasan plastik, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, dan membuang sampah pada tempatnya dapat membantu pengolahan sejak tahap awal.

CitraRaya menyebut pendekatan tersebut sebagai bagian dari konsep EcoCulture, yakni upaya menghubungkan kehidupan di kawasan dengan kepedulian terhadap lingkungan dan budaya. Namun, keberhasilan konsep semacam ini pada akhirnya perlu terlihat dari praktik sehari-hari, bukan sekadar slogan.

Pengelolaan sampah tidak cukup dinilai dari berapa kilogram sampah yang dikonsumsi maggot atau berapa ton limbah taman yang diproses. Ukuran lainnya mencakup jumlah sampah yang berhasil dikurangi, konsistensi pemilahan, kualitas material hasil pengolahan, serta berkurangnya beban yang harus dikirim ke tempat pembuangan akhir.

Maggot dapat membantu mengurai sisa makanan. Bakteri dapat membantu mengolah limbah taman. Teknologi controlled landfill dan RDF pun berpotensi melengkapi sistem pengelolaan sampah. Namun, semuanya membutuhkan kerjasama dan sinergitas seluruh elemen masyarakat.

Sebab, untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, tetap menjadi pekerjaan yang tidak bisa diserahkan kepada larva, bakteri, mesin, atau petugas kebersihan semata. Karena, semua akan tumbuh dari kesadaran bagaimana kita menjaga lingkungan agar tetap bersih, dan tidak membuang sampah di sembarang tempat. (*

Tinggalkan Balasan