Jejak KataSoft News

Dari Lalat Amerika ke CitraRaya: Ketika Maggot Bekerja Mengunyah Sampah

×

Dari Lalat Amerika ke CitraRaya: Ketika Maggot Bekerja Mengunyah Sampah

Sebarkan artikel ini
Maggot siap panen dari TPS CitraRaya | Foto: Dok. Widi Hatmoko

INOVASI — Tubuhnya kecil, gerakannya merayap, dan penampilannya mungkin membuat sebagian orang buru-buru memalingkan muka. Namun, di Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) CitraRaya, larva lalat tentara hitam justru mendapat pekerjaan yang tak bisa dianggap remeh: mengurangi tumpukan sampah organik yang setiap hari datang tanpa mengenal hari libur.

Namanya maggot, larva dari lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF), yang memiliki nama ilmiah Hermetia illucens. Serangga ini bukan pendatang baru dalam sejarah alam. Berasal dari kawasan Amerika tropis, BSF kemudian menyebar ke berbagai wilayah tropis dan subtropis, termasuk Asia. Kini, salah satu fase hidupnya dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya mengatasi persoalan sampah perkotaan.

Di TPS CitraRaya, Tangerang, Opay, pengelola budidaya maggot, mengandalkan kemampuan larva ini untuk mengurai sampah organik. Bagi Opay, ukurannya yang mungil bukan alasan untuk meremehkan daya kerjanya. Dalam dunia persampahan, pasukan kecil ini justru bisa bekerja dalam jumlah besar.

Menurut Opay, prosesnya dimulai dari telur yang menetas menjadi larva kecil atau baby maggot. Dari 10 gram telur, budidaya yang dikelolanya dapat menghasilkan sekitar 1 kilogram baby maggot. Setelah tumbuh, 1 kilogram larva kecil itu bisa berkembang menjadi sekitar 10–15 kilogram maggot.

“Dari 10 gram telur bisa menjadi 1 kilogram baby. Satu kilogram baby bisa menjadi 10 sampai 15 kilogram maggot,” ujar Opay.

Angka tersebut menggambarkan potensi perkembangbiakan sekaligus pertumbuhan larva dalam budidaya. Namun, hasil aktual tetap bergantung pada kondisi telur, pakan, suhu, kelembapan, dan pengelolaan media budidaya. Maggot bukan mesin ajaib yang mengubah semua sampah menjadi hilang dalam semalam.

Di TPS CitraRaya, kemampuan larva tersebut dimanfaatkan untuk mereduksi sekitar 320 kilogram sampah organik setiap hari. Jumlah ini menunjukkan bagaimana proses biologis dapat menjadi salah satu bagian dari pengelolaan sampah, terutama untuk sisa makanan dan bahan organik yang sesuai sebagai pakan larva.

Dari telur, larva, lalu menjadi pengurai

Untuk memahami cara kerja maggot, ceritanya perlu ditarik ke siklus hidup lalat BSF. Serangga ini mengalami metamorfosis sempurna: telur, larva, prepupa, pupa, lalu menjadi lalat dewasa. Dalam kondisi yang mendukung, keseluruhan siklusnya dapat berlangsung sekitar 40–45 hari, meski durasinya bervariasi menurut lingkungan dan pemeliharaan.

Lalat betina dapat menghasilkan ratusan telur. Telur tersebut biasanya diletakkan pada celah atau permukaan dekat sumber bahan organik, bukan semata-mata di tengah sampah. Setelah menetas, larva memasuki fase paling produktif untuk budidaya pengolahan sampah: makan, tumbuh, dan mengonsumsi bahan organik yang tersedia.

Fase larva umumnya berlangsung sekitar dua hingga tiga pekan, bergantung pada kondisi lingkungan dan ketersediaan pakan. Pada tahap inilah maggot bekerja mengonsumsi sisa makanan, sayuran, buah, dan bahan organik lain yang sesuai. Aktivitas tersebut merupakan bagian dari proses biokonversi, yakni pemanfaatan organisme untuk mengubah bahan organik menjadi biomassa larva dan residu.

Setelah cukup berkembang, larva memasuki fase prepupa dan pupa sebelum keluar sebagai lalat dewasa. Pada fase dewasa, BSF tidak makan seperti ketika masih menjadi larva. Umurnya relatif singkat dan aktivitas utamanya berkaitan dengan perkawinan serta reproduksi. Siklus pun berulang, selama lingkungan budidaya mendukung.

Ada satu hal yang membuat BSF menarik untuk pengolahan sampah: larvanya tidak sama dengan belatung lalat rumah yang sering ditemukan pada bahan membusuk. Keduanya berasal dari jenis lalat berbeda. Meski demikian, budidaya maggot tetap membutuhkan kebersihan, pengendalian lingkungan, dan pemilahan bahan organik. Penggunaan larva tidak serta-merta membuat semua jenis sampah aman diolah.

Dari penelitian ke pengelolaan sampah

Pemanfaatan BSF sebagai pengolah bahan organik berkembang seiring meningkatnya perhatian terhadap sampah perkotaan dan kebutuhan mencari sumber pakan alternatif. Di Indonesia, penelitian mengenai potensi maggot mulai dikenal luas sejak pertengahan dekade 2000-an, termasuk melalui kegiatan riset budidaya dan pemanfaatannya sebagai bahan pakan.

Dalam perkembangannya, maggot tak hanya menarik perhatian kalangan peneliti. Pembudidaya ikan dan unggas juga melirik larva BSF karena kandungan proteinnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan. Pada saat yang sama, kemampuan larva mengonsumsi bahan organik membuka peluang pemanfaatannya dalam sistem pengelolaan sampah.

Perjalanan itu mempertemukan dua kebutuhan: mengurangi beban sampah organik dan menghasilkan biomassa yang berpotensi dimanfaatkan kembali. Namun, maggot bukan jawaban tunggal bagi persoalan persampahan. Sampah tetap perlu dipilah sejak awal, bahan yang tidak sesuai harus dipisahkan, dan residu pengolahan mesti ditangani dengan benar.

Di TPS CitraRaya, pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak harus selalu dimulai dari truk pengangkut atau berakhir di tempat pembuangan. Sebagian bahan organik bisa masuk ke proses biologis, dengan larva sebagai pekerja yang tak membutuhkan seragam maupun upah bulanan.

Angka 320 kilogram per hari memang bukan berarti persoalan sampah selesai. Namun, di tengah timbunan yang terus bertambah, setiap kilogram yang berhasil dialihkan dari jalur pembuangan tetap berarti. Apalagi jika pengolahan dilakukan secara konsisten dan disertai pemilahan yang baik.

Maggot, pada akhirnya, menawarkan pelajaran sederhana: sesuatu yang kerap dianggap menjijikkan bisa memiliki peran berguna ketika dipahami cara kerjanya. Dari telur yang nyaris tak terlihat, tumbuh larva yang membantu mengurai sampah organik. Di CitraRaya, lalat tentara hitam tak sedang berperang melawan manusia. Ia membantu menghadapi musuh yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: sampah yang terus datang, sementara ruang untuk menampungnya semakin terbatas.

Tinggalkan Balasan