JEJAK KATA, Jakarta — Persaingan penerbangan Australia–Indonesia kedatangan pemain yang ingin mengambil porsi lebih besar. TransNusa resmi meluncurkan penerbangan perdana rute Melbourne–Bali, memperluas jaringan internasionalnya sekaligus memperkuat posisi Pulau Dewata sebagai pintu masuk wisatawan Australia.
Group Chief Executive Officer TransNusa, Datuk Bernard Francis, menyebut pembukaan rute tersebut sebagai tonggak penting ekspansi perusahaan. Menurut dia, konektivitas langsung Melbourne–Bali tidak hanya menyasar wisatawan, tetapi juga pelaku perjalanan bisnis.
“Peluncuran rute Melbourne–Bali merupakan langkah penting dalam strategi ekspansi internasional TransNusa,” ujar Bernard.
Maskapai yang mengusung konsep Premium Service Carrier itu memulai layanan dengan empat penerbangan per minggu, yakni setiap Senin, Rabu, Kamis, dan Jumat. Frekuensinya direncanakan meningkat menjadi tujuh penerbangan per minggu mulai 15 November 2026.
Penerbangan 8B 18 dijadwalkan berangkat dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, pukul 20.45 dan tiba di Melbourne pukul 05.40 keesokan harinya. Adapun penerbangan 8B 19 berangkat dari Melbourne pukul 06.25 dan tiba di Bali pukul 09.40.
Ekspansi ini mengikuti pertumbuhan bisnis TransNusa di Perth. Perusahaan mengklaim telah menguasai 20 persen pangsa pasar di kota Australia Barat tersebut. Frekuensi penerbangannya meningkat dari tiga kali seminggu pada April 2025 menjadi 21 kali seminggu pada Juli 2026.
Capaian itu menjadi modal bagi TransNusa untuk memperluas persaingan di pasar Australia. Namun, keberlanjutan pertumbuhan akan bergantung pada kemampuan maskapai menjaga tingkat keterisian kursi, kualitas layanan, dan daya saing tarif.
Untuk menarik penumpang, TransNusa menawarkan tarif perkenalan kelas Basic mulai dari AUD 299. Perusahaan menyatakan tiket standar juga mencakup fasilitas bagasi serta air minum dan makanan ringan gratis.
Strategi berikutnya bertumpu pada konsep Beyond Bali. Melalui skema ini, penumpang dari Melbourne dapat melanjutkan perjalanan melalui Bali menuju 11 destinasi pulau di Indonesia, termasuk Wakatobi, Manado, Bima, Surabaya, dan Lombok. Jaringan koneksi internasionalnya juga mencakup Guangzhou, Singapura, dan Phuket.
“Hari ini, kami merayakan lebih dari sekadar satu koneksi point-to-point,” kata Bernard.
Ia mengatakan, integrasi jadwal transit melalui Bali dirancang untuk memudahkan wisatawan Australia menjangkau destinasi domestik dan sejumlah kota di Asia.
Bagi TransNusa, rute Melbourne–Bali bukan sekadar penambahan jalur penerbangan. Maskapai ini berupaya menjadikan Bali sebagai simpul perjalanan regional, bukan hanya tujuan akhir wisata.
Tiket rute tersebut dapat dipesan melalui situs resmi TransNusa dan platform pemesanan perjalanan resmi. Meski menawarkan tarif kompetitif dan perluasan konektivitas, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa strategi ekspansi itu mampu menarik penumpang secara berkelanjutan. (*






