HOBI — Sore Jumat menjadi waktu bagi anak-anak dan para peminat bela diri untuk mengasah jurus di kawasan Eco Plaza, CitraRaya, Tangerang. Di antara gerakan tangan, kuda-kuda, dan langkah kaki yang terukur, Wushu berusaha menemukan kembali ruangnya setelah sempat terhenti akibat pandemi Covid-19.
Bagi Irwanto, pelatih Wushu yang mengajar di kawasan CitraRaya, kebangkitan itu mulai terasa. Peminatnya kembali berdatangan. Kegiatan latihan yang sempat vakum selama pandemi perlahan hidup lagi, membawa harapan bagi perkembangan olahraga bela diri asal Tiongkok tersebut di Tangerang.
“Sekarang banyak sekali, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Irwanto saat menceritakan perkembangan Wushu di tempat latihan, Eco Plaza CitraRaya, Jumat, 23 Oktober 2026.
Menurut dia, pandemi Covid-19 menjadi salah satu masa sulit bagi kegiatan latihan. Aktivitas yang sebelumnya berjalan harus berhenti sementara. Namun, setelah situasi berangsur pulih, latihan kembali digelar dan minat terhadap Wushu mulai tumbuh.
Kebangkitan itu bukan semata soal mengumpulkan kembali para murid. Lebih dari itu, latihan menjadi jalan untuk menjaga keterampilan, kedisiplinan, dan tradisi bela diri agar tetap dikenal generasi muda.
Dua Tempat, Dua Kesempatan Berlatih
Kegiatan latihan Wushu yang dibina Irwanto berlangsung di dua lokasi di kawasan CitraRaya. Setiap Jumat sore, para peserta berlatih di Eco Plaza. Sementara pada Sabtu, kegiatan berpindah ke Ciputra Mal CitraRaya.
Jadwal tersebut memberi ruang bagi para peminat untuk mengenal dan mempelajari Wushu secara rutin. Jumlah peserta yang hadir tidak selalu sama. Dalam satu kesempatan, peserta yang berkumpul bisa mencapai sekitar sepuluh orang, bergantung pada situasi dan kehadiran masing-masing.
Bagi sebuah kegiatan olahraga komunitas, keberlangsungan latihan menjadi hal penting. Kemampuan tidak terbentuk hanya dengan menghafal gerakan, tetapi juga melalui pengulangan, ketekunan, dan latihan yang konsisten.
Wushu sendiri memiliki beragam bentuk latihan. Ada kategori tradisional yang menonjolkan rangkaian jurus dan karakter gerakan tertentu, serta kategori modern yang berkembang dalam sistem olahraga kompetitif. Keduanya memiliki karakteristik dan aturan penilaian masing-masing.
Di tempat latihan Irwanto, murid-murid diperkenalkan pada kedua kategori tersebut. Dengan begitu, mereka memiliki kesempatan untuk mempelajari ragam teknik sekaligus mengenal kemungkinan berkompetisi sesuai kemampuan.
Dari Tempat Latihan Menuju Arena Kejuaraan

Kembalinya kegiatan Wushu di CitraRaya tidak hanya terlihat dari latihan rutin. Para murid juga mulai mendapat kesempatan menguji kemampuan melalui pertandingan.
Beberapa waktu lalu pada 2026 ini, menurut Irwanto, anak-anak didiknya mengikuti kejuaraan Wushu yang digelar di Universitas Tangerang Raya (Untara).
Keikutsertaan dalam kejuaraan menjadi pengalaman tersendiri bagi para peserta. Arena pertandingan menuntut mereka menerapkan teknik yang telah dipelajari, menjaga konsentrasi, dan mengikuti aturan kompetisi.
Bagi atlet muda, pengalaman bertanding juga dapat menjadi sarana mengevaluasi hasil latihan. Mereka bisa mengetahui bagian yang sudah dikuasai dan teknik yang masih perlu diperbaiki.
Namun, proses pembinaan tentu tidak berhenti pada satu kejuaraan. Konsistensi latihan, pendampingan pelatih, serta kesempatan mengikuti kompetisi menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang atlet.
Karena itu, kejuaraan bukan sekadar tempat mengejar medali. Bagi para murid yang baru berkembang, keberanian tampil dan memperoleh pengalaman bertanding juga merupakan pencapaian penting.
Menjaga Wushu Tetap Dekat dengan Generasi Muda

Perkembangan Wushu di kawasan permukiman seperti CitraRaya menunjukkan bahwa olahraga bela diri dapat tumbuh melalui komunitas dan ruang latihan yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Di tengah banyaknya pilihan aktivitas bagi anak-anak dan remaja, latihan Wushu menawarkan kegiatan fisik yang menuntut koordinasi tubuh, keseimbangan, konsentrasi, dan disiplin. Nilai-nilai tersebut dapat berkembang melalui latihan yang terarah dan pendampingan yang tepat.
Meski demikian, keberlanjutan sebuah komunitas olahraga membutuhkan lebih dari sekadar antusiasme sesaat. Jadwal latihan yang konsisten, pembinaan teknik yang sesuai usia, fasilitas yang memadai, dan kesempatan mengikuti kejuaraan dapat membantu menjaga minat para peserta.
Bagi Irwanto, bangkitnya Wushu setelah pandemi menjadi perkembangan yang patut disyukuri. Latihan yang kembali berjalan dan kesempatan mengikuti kejuaraan memberikan ruang bagi para murid untuk terus belajar.
Dari Eco Plaza pada Jumat sore hingga Ciputra Mal CitraRaya pada Sabtu, upaya itu berlangsung melalui gerakan-gerakan yang diulang, kuda-kuda yang diperbaiki, dan jurus yang terus diasah.
Wushu di CitraRaya mungkin belum bisa diukur hanya dari jumlah peserta atau banyaknya kejuaraan yang diikuti. Namun, ketika latihan kembali berjalan dan anak-anak kembali berani memasuki arena pertandingan, ada satu hal yang mulai menemukan bentuknya: semangat untuk menjaga olahraga ini tetap hidup di Tangerang. (*






