Jejak KataSoft News

Batik: Dari Keraton, Menembus Dunia, Lalu Pulang sebagai Hari Nasional

×

Batik: Dari Keraton, Menembus Dunia, Lalu Pulang sebagai Hari Nasional

Sebarkan artikel ini
Salah satu motif batik Lasem | Foto: Dok. Widi Hatmoko

BUDAYA — Selembar batik bukan sekadar kain bermotif. Di balik titik, garis, dan lengkungnya tersimpan perjalanan panjang tentang kekuasaan, perdagangan, keluarga, kepercayaan, hingga identitas kebudayaan.

Jejak batik Indonesia kerap ditarik ke lingkungan kerajaan dan keraton di Jawa. Namun, sejarah batik tidak sesederhana cerita bahwa ia lahir di satu kerajaan lalu diwariskan begitu saja. Tradisi membatik berkembang melalui proses panjang, berpindah dari lingkungan istana ke masyarakat dan mengalami perjumpaan dengan berbagai kebudayaan.

Kata batik juga memiliki sejumlah penjelasan etimologis. Salah satunya mengaitkannya dengan istilah Jawa amba dan titik. Yang lebih penting daripada asal-usul katanya adalah teknik di balik kain itu: malam atau lilin panas digunakan sebagai perintang warna. Perajin menorehkannya mengikuti pola, lalu kain dicelup. Bagian yang tertutup malam tidak menyerap warna. Proses itu dapat diulang untuk menghasilkan lapisan warna dan motif yang rumit.

Di masa lalu, membuat batik atau membatik berkembang kuat di lingkungan keraton. Motif tertentu berkaitan dengan tata sosial dan penggunaan dalam upacara. Tetapi kain tidak selamanya tinggal di balik tembok istana. Keterampilan membatik menyebar ke masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan ekonomi, terutama di Pulau Jawa.

Batik Lasem merupakan salah satu batik lokal yang sudah menembus pasar dunia | Foto: Dok. Widi Hatmoko

Batik kemudian tumbuh menjadi dunia yang luas. Ada batik tulis, batik cap, beragam pusat produksi, serta motif yang mencerminkan lingkungan dan sejarah setempat. Pengaruh budaya luar pun tidak asing. Dalam dokumen UNESCO disebutkan, ragam motif batik Indonesia memperlihatkan perjumpaan dengan berbagai pengaruh, antara lain kaligrafi Arab, ornamen Eropa, phoenix Cina, bunga sakura Jepang, serta motif dari India dan Persia.

Yang membuat batik istimewa bukan semata kainnya. UNESCO mencatat teknik, simbolisme, dan budaya yang mengelilingi batik hadir dalam berbagai fase kehidupan masyarakat Indonesia—dari kelahiran, pakaian sehari-hari, perkawinan dan kehamilan, pertunjukan seni, hingga ritual tertentu. Pengetahuan itu juga diwariskan lintas generasi.

Dari Kain Tradisi Menjadi Warisan Dunia

Salah seorang perajin batik tulis di Lasem sedang beraktivitas di salah satu sentra pembuatan batik | Foto: Dok. Widi Hatmoko

Perjalanan batik kemudian sampai pada panggung internasional. Dalam sidang Komite Antarpemerintah UNESCO di Abu Dhabi pada 2009, Indonesian Batik ditetapkan masuk Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Keputusan itu bukan sekadar penghargaan terhadap selembar kain, melainkan pengakuan terhadap pengetahuan, keterampilan, simbol, dan praktik budaya yang hidup di belakangnya.

Pengakuan UNESCO tersebut kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan batik Indonesia. Pemerintah menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009. Keppres itu ditetapkan pada 17 November 2009 dan menyebut 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Hari tersebut bukan hari libur.

Sejak itu, setiap 2 Oktober batik kembali mendapat panggung. Orang mengenakannya ke kantor, sekolah, kampus, bahkan acara keluarga. Motif yang dulu mungkin hanya dikenal di sebuah daerah kini bisa berjalan melintasi batas pulau dan negara.

Batik akhirnya membuktikan satu hal: warisan budaya tidak selalu bertahan karena disimpan. Ia justru hidup karena dipakai, dipelajari, ditafsirkan ulang, dan diwariskan.

UNESCO mencatat batik Indonesia sebagai warisan yang terus berkembang tanpa kehilangan makna tradisionalnya.

Dari tangan perajin ke lemari pakaian, dari keraton ke jalanan, dari Jawa ke panggung dunia—batik tidak sekadar menjadi sejarah. Ia terus membuat sejarah. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *