Jejak KataWisata dan Kuliner

Menu Rumahan di CitraRaya yang Bikin Kangen Ndeso: Buntil, Olahan Pare dan Cumi

×

Menu Rumahan di CitraRaya yang Bikin Kangen Ndeso: Buntil, Olahan Pare dan Cumi

Sebarkan artikel ini
Tumis cumi di Warung Gudeg Kota Seni Taman Raya CitraRaya | Foto: Dok. Widi Hatmoko

KULINER — Ada makanan yang tak perlu datang dengan piring mahal untuk terasa istimewa. Cukup nasi putih mengepul, sambal, dan lauk yang bumbunya seperti baru saja keluar dari dapur ibu.

Buntil, oseng teri campur pare, dan tumis cumi adalah tiga menu yang punya kemampuan semacam itu. Mereka tidak banyak gaya. Rasanya justru bekerja dengan cara sederhana: gurih, pedas, asin, sedikit pahit, dan aroma bumbu yang akrab bagi lidah kampung.

Tiga menu rumahan itu bisa ditemui di Warung Gudeg Kota Seni Taman Raya Citra Raya, Blok K3/17, Taman Raya Citra Raya, Tangerang.

Warung ini memang dikenal dengan menu gudegnya. Namun, bagi pencinta masakan rumahan, tiga menu tersebut punya cerita sendiri. Mereka seperti pintu kecil menuju ingatan lama—ketika makan bukan perkara memotret hidangan, melainkan menunggu nasi matang dan berebut lauk di meja.

Buntil, Gulungan Daun yang Bikin Nasi Cepat Habis

Buntil di Warung Gudeg Kota Seni Taman Raya CitraRaya | Foto: Dok. Widi Hatmoko

Buntil adalah salah satu masakan yang sulit disebut sederhana setelah masuk ke mulut.

Daun singkong atau daun pepaya dibentuk menjadi gulungan. Di dalamnya terdapat isian kelapa parut berbumbu. Semuanya kemudian dimasak dalam kuah santan dengan cita rasa gurih dan pedas.

Tekstur daun bertemu kelapa berbumbu, lalu disiram kuah santan. Rasanya bertingkat. Gurih datang lebih dulu, disusul pedas dan aroma bumbu yang membuat nasi hangat terasa seperti punya alasan untuk ditambah.

Buntil juga punya karakter khas masakan rumahan: tidak banyak basa-basi.

Ia tidak membutuhkan presentasi rumit. Yang dibutuhkan hanya nasi pulen dan kuah santan yang cukup untuk disiram ke pinggir piring.

Jika menggunakan daun pepaya, rasa pahitnya justru menjadi bagian dari karakter. Pahit sedikit tidak selalu berarti buruk. Dalam masakan tradisional, rasa pahit kerap menjadi pasangan bagi gurih dan pedas.

Oseng Teri Pare, Pahit yang Diam-diam Dicari

Oseng pare campur teri di Warung Gudeg Kota Seni Taman Raya CitraRaya | Foto: Dok. Widi Hatmoko

Lalu ada oseng teri campur pare. Inilah menu yang mungkin membuat sebagian orang mengernyit sebelum mencicipinya. Pare membawa rasa pahit. Teri menyumbang asin dan gurih. Cabai memberikan sengatan.

Anehnya, kombinasi itu justru bekerja. Pare yang diiris dan ditumis bersama bumbu menghasilkan tekstur renyah dengan rasa pahit yang khas. Ketika bertemu teri, rasa asin dan gurihnya membuat pahit pare tidak lagi sendirian.

Cabai kemudian datang sebagai penutup percakapan.

Menu ini seperti masakan kampung yang tidak berusaha menyenangkan semua orang. Ia punya karakter. Kalau cocok, biasanya sulit berhenti di satu suapan.

Rahasia sederhana untuk menjaga tekstur teri adalah menggorengnya terlebih dahulu hingga garing dan memasukkannya menjelang akhir proses memasak. Dengan begitu, teri tetap memberikan sensasi renyah ketika bertemu pare.

Tumis Cumi, Penutup yang Gurih

Tumis cumi di Warung Gudeg Kota Seni Taman Raya CitraRaya | Foto: Dok. Widi Hatmoko

Setelah buntil yang bersantan dan oseng pare yang pedas-pahit, tumis cumi hadir dengan karakter berbeda.

Cumi memberikan tekstur kenyal dan rasa gurih yang kuat. Jika menggunakan cumi asin, rasa asinnya menjadi bagian penting dari masakan, meski perlu dikendalikan agar tidak mendominasi.

Bumbu iris menjadi kunci: bawang merah, bawang putih, cabai, tomat, dan rempah aromatik. Begitu masuk wajan, aromanya segera mengubah dapur menjadi tempat yang sulit ditinggalkan.

Cumi juga punya satu musuh: terlalu lama dimasak.

Jika menggunakan cumi asin, perendaman terlebih dahulu dapat membantu mengurangi rasa asin. Setelah itu, cumi ditumis bersama bumbu hingga matang tanpa membuat teksturnya berubah menjadi terlalu keras. Di piring, ia menjadi pasangan yang masuk akal untuk nasi hangat.

Masakan yang Tidak Perlu Berpura-pura

Buntil, oseng teri pare, dan tumis cumi punya satu kesamaan: ketiganya tidak membutuhkan kemewahan untuk terasa dekat. Mereka adalah jenis makanan yang mengandalkan bumbu, bahan sederhana, dan ingatan.

Ada rasa pahit yang mengingatkan halaman rumah. Ada teri yang dulu sering menjadi lauk penyelamat di akhir bulan. Ada santan yang membuat nasi bertambah tanpa terasa. Ada cumi yang ditumis cepat ketika ingin makan enak tanpa membuat dapur berubah menjadi laboratorium.

Di Warung Gudeg Kota Seni Taman Raya Citra Raya, tiga menu tersebut menjadi pilihan bagi mereka yang barangkali sedang mencari sesuatu yang lebih sederhana dari sekadar makanan.

Sebab kadang-kadang, yang dicari dari sepiring nasi bukan restoran mewah atau menu dengan nama panjang. Yang dicari adalah rasa yang pernah dikenal. Rasa dapur rumah. Rasa kampung. Rasa yang membuat seseorang, untuk beberapa menit, seperti pulang ke ndeso. (*

Tinggalkan Balasan