JEJAK KATA, Tangerang — Menjadi Duta Anak bukan sekadar soal gelar. Di Kabupaten Tangerang, para wakil anak diharapkan ikut menyuarakan hak anak, mencegah perundungan, hingga mengajak teman sebaya menghadapi perkembangan teknologi digital.
Harapan itu disampaikan Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah saat membuka Penganugerahan Duta Anak Kabupaten Tangerang 2026 di Aula Kantor Dinas Perlindungan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DPPPA), Kamis, 15 Oktober 2026.
Ajang yang mengusung tema “Bergerak Bersama Melestarikan Budaya dan Permainan Tradisional” tersebut diikuti 97 peserta dari 29 kecamatan. Sebanyak 35 finalis kemudian mengikuti seleksi lanjutan hingga ditetapkan enam besar Duta Anak serta perwakilan klaster pemenuhan hak anak.
Intan mengatakan, pemilihan Duta Anak tidak semestinya berhenti sebagai kompetisi untuk mencari peserta terbaik. Kegiatan itu, menurut dia, menjadi ruang pembentukan karakter, pengembangan potensi, dan peningkatan kepedulian terhadap pemenuhan hak serta perlindungan anak.
Ia berharap para duta terpilih dapat menjadi representasi suara anak-anak Kabupaten Tangerang. Mereka juga diharapkan mengedukasi teman sebaya mengenai pencegahan perundungan dan kekerasan, sekaligus mendorong penggunaan media sosial secara bijak.
“Pemenuhan hak dan perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan dukungan semua pihak,” kata Intan.
Kepala Bidang Pengelolaan Data Gender dan Pemenuhan Hak Anak DPPPA Kabupaten Tangerang, M. Farid Ma’aruf, mengatakan penilaian peserta mencakup bakat seni, kemampuan berbicara di depan umum, penampilan bakat, serta kesiapan menjalankan peran sebagai pelopor dan pelapor pemenuhan hak anak.
Menurut Farid, Duta Anak terpilih nantinya akan berkolaborasi dengan perangkat daerah sesuai klaster masing-masing. Kolaborasi itu diharapkan membuat peran mereka tidak hanya sebatas simbol atau ikon daerah.
Salah satu peserta terpilih, Sofiyatul Zannah dari Kecamatan Cisauk, membawa gagasan program Naraya, singkatan dari Nafas Baru Anak Berdaya. Program itu berangkat dari pengalaman pribadi yang mendorongnya menyampaikan pesan bahwa persoalan keluarga, ekonomi, dan kesehatan tidak seharusnya mematikan kesempatan anak untuk berkembang.
“Anak-anak di Kabupaten Tangerang tetap memiliki kesempatan untuk menggapai masa depan yang lebih baik,” ujar Sofiyatul.
Ia berencana mengembangkan Naraya melalui platform digital sekaligus mendorong pelestarian budaya dan permainan tradisional. Menurut dia, tradisi dan teknologi tidak harus saling menyingkirkan.
Sofiyatul juga ingin mengajak anak-anak mempersiapkan diri menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Gagasan itu memperluas tantangan Duta Anak: bukan hanya mengampanyekan perlindungan anak, melainkan juga membantu teman sebaya memahami perubahan zaman. Namun, efektivitas program tersebut pada akhirnya akan ditentukan oleh pelaksanaan dan jangkauan manfaatnya bagi anak-anak di Kabupaten Tangerang. (*






