Jejak KataSeni dan Hiburan

Tari Gedruk: Ketika Amarah Buto Menghentak Bumi yang Kian Rusak

×

Tari Gedruk: Ketika Amarah Buto Menghentak Bumi yang Kian Rusak

Sebarkan artikel ini
Tari gedruk dimainkan oleh anak-anak saay tampil pada sebuah acara di Paramount Petal, Tangerang | Foto: Dok. Widi Hatmoko

SENI BUDAYA — Kaki-kaki itu menghantam tanah. Gedruk, gedruk, gedruk. Bunyi hentakan beradu dengan gemerincing lonceng di kaki penari. Tubuh-tubuh berkostum raksasa bergerak enerjik, sementara wajah buto yang garang menyiratkan kekuatan yang seolah sulit dikendalikan.

Di panggung, Tari Gedruk memikat lewat gerak yang keras dan irama yang menghentak. Di luar panggung, hutan terbakar, sungai tercemar, dan ruang hidup satwa terus terdesak. Dua gambaran itu bertemu dalam sebuah tafsir: bagaimana jika amarah para buto menjadi cermin bagi alam yang kian rusak akibat ulah manusia?

Tentu, itu bukan klaim tentang makna asli Tari Gedruk. Tak ada cukup bukti untuk menyatakan bahwa tarian ini sejak awal diciptakan sebagai kritik terhadap kerusakan lingkungan. Namun, kesenian tradisional tak selalu berhenti pada makna masa lalu. Gerak dan simbolnya dapat dibaca kembali untuk menanggapi persoalan hari ini.

Tari Gedruk dikenal sebagai kesenian rakyat dari Magelang, Jawa Tengah, yang berkembang di kawasan sekitar lereng Gunung Merapi. Tarian ini juga dikenal dengan sebutan Buto Gedruk atau Rampak Buto. Penari berkostum raksasa, gerakan bertenaga, serta hentakan kaki menjadi ciri yang menonjol dalam pertunjukannya.

Siapa pencipta Tari Gedruk dan kapan persisnya kesenian ini muncul belum dapat dipastikan berdasarkan catatan sejarah yang tersedia. Karena itu, asal-usulnya perlu dibedakan dari berbagai penafsiran filosofis yang berkembang kemudian. Yang dapat ditelusuri, Tari Gedruk tumbuh dalam tradisi seni pertunjukan rakyat Jawa dan kemudian berkembang di luar daerah asalnya.

Tangerang menjadi salah satu ruang perjumpaan kesenian ini dengan masyarakat urban. Di kota yang lekat dengan kawasan industri dan permukiman pendatang tersebut, Tari Gedruk dilestarikan oleh komunitas yang berasal dari Magelang, Kulon Progo, dan daerah sekitarnya. Tradisi yang dibawa dari kampung halaman itu menemukan panggung baru di tengah kehidupan kota.

Nama gedruk merujuk pada gerakan menghentakkan kaki ke tanah. Gerakan tersebut bukan sekadar pemanis koreografi. Hentakan yang berulang, bunyi kerincing, dan iringan musik membangun karakter pertunjukan yang tegas, dinamis, sekaligus teatrikal.

Di balik riasan garang para penari, sosok buto menyimpan ruang tafsir yang luas. Dalam khazanah cerita dan seni pertunjukan Jawa, raksasa kerap hadir sebagai figur berkekuatan besar. Ia bisa menjadi ancaman, representasi kekuatan liar, atau tokoh yang membangun ketegangan dalam cerita. Maknanya bergantung pada konteks pertunjukan dan tradisi yang melingkupinya.

Dalam pembacaan lingkungan, buto dapat dibayangkan sebagai personifikasi alam yang murka. Hentakan kakinya seolah mewakili bumi yang terus dipaksa menanggung beban: hutan dibuka, lahan dibakar, sungai menampung limbah, dan habitat satwa menyusut karena aktivitas manusia.

Tafsir itu menemukan relevansinya ketika kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi ancaman di berbagai wilayah. Api tak hanya menghanguskan pepohonan, tetapi juga merusak habitat, mencemari udara dengan asap, dan melepaskan emisi gas rumah kaca. Di tempat lain, hilangnya tutupan vegetasi dapat memperbesar kerentanan terhadap erosi dan mengganggu tata air, bergantung pada kondisi lingkungan setempat.

Kerusakan alam sering kali berlangsung jauh dari panggung tempat manusia menikmati kesenian. Dampaknya, bagaimanapun, tak mengenal batas pertunjukan. Banjir, kekeringan, longsor, dan pencemaran udara dapat menjalar hingga ke permukiman, mengganggu kesehatan, mata pencaharian, serta kehidupan sehari-hari warga.

Alam memang tidak memiliki wajah garang seperti buto. Ia juga tidak menghentakkan kaki untuk menyampaikan protes. Namun, perubahan yang terjadi ketika keseimbangan ekosistem terganggu dapat menjadi peringatan yang sulit diabaikan. Persoalannya, manusia kerap baru menyadari peringatan itu setelah kerugian terjadi.

Di atas panggung, hentakan para buto seolah mengajukan pertanyaan yang lebih tajam daripada sekadar siapa yang paling kuat: sampai kapan manusia mengambil dari alam tanpa memperhitungkan kemampuan lingkungan untuk pulih?

Pertanyaan itu tidak mengharuskan sejarah Tari Gedruk diubah. Justru dengan memahami latar kemunculannya secara hati-hati, masyarakat dapat menemukan relevansi baru tanpa mencampuradukkan fakta sejarah dan tafsir masa kini.

Begitu pula dengan cerita yang menghubungkan Tari Gedruk dengan ritual tolak bala atau kepercayaan terhadap kekuatan gaib. Kisah tersebut perlu ditelusuri melalui keterangan pelaku, tradisi lisan, dan sumber lokal yang dapat dipertanggungjawabkan sebelum dinyatakan sebagai fakta sejarah. Tanpa dukungan itu, cerita ritual sebaiknya tidak ditempatkan sebagai asal-usul yang pasti.

Perjalanan Tari Gedruk ke berbagai daerah menunjukkan bahwa kesenian rakyat dapat bertahan melalui komunitas yang merawatnya. Kostum, musik, dan gerakan mungkin berkembang mengikuti karakter kelompok masing-masing. Di Tangerang, pelestarian oleh komunitas perantau juga memperlihatkan bahwa identitas budaya tidak selalu terikat pada tempat kelahirannya.

Kini, di tengah krisis lingkungan, sosok buto menawarkan cermin yang tak sepenuhnya nyaman. Makhluk yang tampak menakutkan itu dapat menjadi metafora bagi kekuatan alam yang selama ini dianggap bisa ditaklukkan. Padahal, manusia bergantung pada tanah yang subur, air yang bersih, udara yang layak dihirup, dan hutan yang tetap hidup.

Ketika para penari kembali menghentakkan kaki, bunyi gedruk tak hanya menghidupkan panggung. Dalam tafsir kontemporer, ia dapat terdengar seperti peringatan agar manusia berhenti memperlakukan bumi sebagai tempat mengambil tanpa batas.

Sejarah Tari Gedruk tetap berpijak pada tradisi kesenian rakyat Jawa. Maknanya, sementara itu, dapat terus berkembang bersama zaman. Dan ketika hutan terbakar serta sungai kehilangan kejernihannya, amarah buto menjadi metafora yang menggugah: jangan sampai manusia baru mendengar suara alam setelah kerusakannya telanjur menghantam kehidupan sendiri. (*

Tinggalkan Balasan