LIFE STYLE — Daun-daun tak selalu berakhir menjadi kompos. Di tangan Primitiva Yulandari, dedaunan meninggalkan jejak warna dan motif pada kain, lalu menjelma menjadi produk fesyen ramah lingkungan melalui merek Tivana Eco Print.
Bagi Primitiva, eco print bukan sekadar teknik menghias kain dengan unsur alami. Di balik motif yang terbentuk, ada peluang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan produk fesyen sekaligus memperluas pasar kerajinan lokal.
Usaha itu ia tekuni setelah pensiun. Kini, Primitiva juga bergabung dengan Asosiasi Desainer Eco Print, yang menghimpun pelaku dan desainer di bidang tersebut, termasuk di Banten.
“Saya memang desainer, tetapi khusus eco print,” kata Primitiva dalam acara puncak Festival Dekranasda Kabupaten Tangerang di Mal Ciputra CitraRaya, Minggu, 18 Oktober 2026.
Ia tak hanya mengandalkan produk jadi untuk memperkenalkan karyanya. Peragaan busana menjadi salah satu cara untuk membawa kain bermotif alami ke hadapan publik. Melalui panggung fesyen, eco print berpeluang dikenal lebih luas, tak sebatas sebagai kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari gaya berpakaian sehari-hari.
Primitiva melihat ruang promosi bagi produk kreatif lokal di Tangerang mulai berkembang. Ia menilai jumlah peserta lomba batik dalam kegiatan tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Peragaan busana juga menjadi bagian dari rangkaian acara.
Namun, peluang tampil tak selalu datang dengan persiapan yang cukup. Primitiva menyayangkan informasi kegiatan yang diterimanya terlalu mendadak. Ia mengetahui agenda tersebut melalui Instagram, media sosial yang tidak rutin dibukanya.
“Saya sebenarnya ingin ikut berpartisipasi. Tetapi, waktunya hanya tiga hari. Tidak mungkin menyiapkan baju dengan tema khas Tangerang dalam waktu sesingkat itu,” ujarnya.
Bagi seorang desainer, tiga hari bukan waktu yang leluasa untuk merancang busana bertema daerah. Ada konsep yang perlu dimatangkan, bahan yang harus disiapkan, serta desain yang mesti disesuaikan dengan karakter acara. Informasi yang disampaikan lebih awal, menurut Primitiva, akan membuka kesempatan lebih besar bagi pelaku kreatif untuk berpartisipasi.
Dari persoalan promosi itu, ia mengajukan gagasan yang lebih jauh: menjadikan eco print bagian dari identitas fesyen Tangerang melalui penggunaan seragam di lingkungan pemerintahan.
“Saya ingin di Tangerang ada satu hari khusus ketika pegawai atau instansi pemerintah menggunakan pakaian atau seragam eco print,” kata Primitiva.
Gagasan tersebut bukan sekadar ajakan mengganti bahan seragam. Penggunaan produk lokal oleh aparatur pemerintah, menurut dia, dapat menjadi sarana promosi sekaligus membuka peluang pasar bagi desainer dan perajin.
Primitiva membayangkan setiap instansi memiliki desain berbeda, tanpa harus menggunakan motif dan model yang sama. Keragaman itu justru dapat memperlihatkan kekayaan kreativitas para pelaku eco print di Banten.
“Seragamnya bisa berbeda-beda, tetapi tetap terlihat bagus. Pelaku eco print di Banten juga banyak, jadi karya mereka bisa dimanfaatkan,” tuturnya.
Jika diwujudkan, gagasan tersebut membutuhkan perencanaan yang matang. Standar kualitas, kapasitas produksi, harga, serta mekanisme pengadaan perlu diperhitungkan agar kebijakan itu tidak berhenti sebagai seremoni dan manfaat ekonominya dapat dirasakan pelaku UMKM secara lebih luas.
Primitiva berharap pemerintah daerah mempertimbangkan agenda penggunaan seragam eco print secara berkala, setidaknya satu hari dalam setahun. Baginya, kebijakan semacam itu dapat menjadi ruang pertemuan antara kreativitas, promosi produk lokal, dan dukungan terhadap usaha kecil.
“Harapan saya, suatu saat Banten punya agenda penggunaan seragam eco print. Paling tidak, ada satu hari dalam setahun untuk mengenakannya,” katanya.
Melalui Tivana Eco Print, Primitiva terus mengembangkan fesyen berbasis unsur alami. Kini, ia ingin karya para desainer dan perajin memperoleh ruang yang lebih luas, termasuk melalui dukungan pemerintah daerah.
Sebab, motif daun pada selembar kain bukan hanya perkara estetika. Di sana ada peluang ekonomi yang membutuhkan pasar, promosi yang terencana, dan kebijakan yang memberi kesempatan bagi produk lokal untuk tumbuh. (*






