KULINER — Ada kota yang tidur setelah lampu jalan menyala. Surabaya punya cara lain. Ketika malam turun dan sebagian kantor mematikan komputer, kawasan Kedung Doro justru seperti baru menekan tombol on.
Sekitar pukul 18.00, Jalan Kedung Doro mulai berganti wajah. Deretan warung dan tenda kaki lima membuka lapak. Asap dari penggorengan naik ke udara, aroma sambal bercampur kuah kaldu, sementara suara sendok beradu dengan mangkuk menjadi musik jalanan.
Orang Surabaya punya istilah yang pas untuk suasana semacam ini: embong mangan—jalan untuk makan.
Kedung Doro memang bukan sekadar tempat mengisi perut. Kawasan ini telah lama dikenal sebagai salah satu tujuan kuliner malam di pusat Surabaya. Pilihannya pun seperti daftar isi perut manusia: dari bubur sampai sop, penyetan, bebek, mi, makanan Cina, steak, hingga minuman hangat untuk menutup malam.
Salah satu yang diburu adalah Bubur Ayam Mang Dudung. Buburnya disajikan dengan porsi melimpah, ditemani telur setengah matang dan jeroan ati ampela. Tengah malam bukan alasan untuk sarapan. Di sini, bubur justru bisa menjadi makan malam yang datang terlambat.
Bagi penggemar kuah, Sop Kaki Kambing Bang Oya menawarkan mangkuk berisi potongan daging kambing atau sapi dengan kuah gurih dan rempah. Ada pula Sop Kaki Kambing Dua Saudara, pilihan lain bagi mereka yang percaya bahwa malam akan terasa lebih damai setelah bertemu semangkuk kuah panas.
Lalu ada dunia penyetan.
JM 354, Bebek Gandul, dan Penyetan Cak Gito menjadi beberapa nama yang dikenal di kawasan tersebut. Bebek goreng, sambal, lauk beragam—semuanya seperti memiliki satu kesepakatan: rasa pedas harus membuat orang berkeringat sebelum mengantuk.
Bagi yang ingin bergeser dari sambal ke wok, Kedung Doro juga punya pilihan makanan bergaya Tionghoa. Apeng Kwetiau Medan, misalnya, dikenal dengan kwetiau goreng dan kwetiau siram. Sementara Depot Sri Rejeki menawarkan pilihan Chinese food halal dengan menu seperti nasi goreng, mi goreng, dan capcay.
Ada pula Pangsit Mie Ujung Pandang bagi pemburu mi dengan tekstur kenyal dan porsi yang mengenyangkan.
Menariknya, Kedung Doro tidak memaksa lidah memilih kelas sosial. Ingin steak tetapi dompet tidak sedang berbaik hati? Master Steak menjadi salah satu pilihan street food. Setelah itu, malam bisa ditutup dengan ronde jahe merah atau angsle.
Angsle adalah semacam pelukan dalam mangkuk: ketan, sagu mutiara, roti manis, dan kuah jahe hangat. Cocok disantap ketika malam Surabaya mulai kehilangan panasnya.
Tetapi kulineran di Kedung Doro punya satu pekerjaan rumah: parkir. Jalur ini berada di kawasan yang ramai sehingga ruang untuk kendaraan, terutama mobil, tidak selalu bersahabat.
Maka datanglah dengan kendaraan yang lebih ringkas atau gunakan transportasi daring. Sebab di Kedung Doro, persoalan terbesar mungkin bukan mencari makanan. Makanan terlalu banyak. Yang sulit justru memutuskan kapan harus berhenti. Dan seperti kota yang tidak benar-benar tidur, perut pun kadang punya jam kerjanya sendiri. (*






