Jejak KataSoft News

Bulan Bahasa, Wowok Risau Anak Muda Melupakan Kaidah Bahasa Indonesia

×

Bulan Bahasa, Wowok Risau Anak Muda Melupakan Kaidah Bahasa Indonesia

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI: Wowok Hesti Prabowo | Istimewa

BUDAYA — Bahasa terus berubah mengikuti zaman. Anak-anak muda menciptakan istilah baru, merangkai kata sesuka hati, dan menjadikan bahasa gaul sebagai penanda pergaulan. Bagi sastrawan Tangerang, Wowok Hesti Prabowo, kreativitas itu bukan masalah. Yang mengusiknya adalah ketika bahasa pergaulan justru membuat generasi muda abai terhadap kaidah bahasa Indonesia yang benar.

Keprihatinan Wowok menjadi catatan dalam refleksi Bulan Bahasa yang diperingati setiap Oktober. Momentum ini semestinya tidak berhenti pada lomba membaca puisi, menulis cerpen, atau pidato. Lebih dari itu, Bulan Bahasa mengajak masyarakat menengok kembali hubungan antara bahasa, pengetahuan, dan identitas kebangsaan.

Wowok tidak meminta anak muda meninggalkan bahasa gaul. Ia justru mengingatkan agar kreativitas berbahasa berjalan beriringan dengan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Sebab, bahasa bukan sekadar alat bercakap-cakap, melainkan sarana menyampaikan pikiran dan perasaan.

Apa yang diucapkan atau dituliskan, menurut dia, perlu selaras dengan maksud yang ingin disampaikan. Pilihan kata yang kurang tepat dan susunan kalimat yang tidak jelas dapat membuat pesan melenceng dari tujuan semula.

Persoalannya, kecakapan berbahasa tidak tumbuh begitu saja. Salah satu jalannya adalah membaca. Dari buku, seseorang mengenal kosakata, mempelajari susunan kalimat, dan menemukan beragam cara untuk mengungkapkan gagasan.

“Ya kembali membaca buku. Sumber ilmu pengetahuan dan inspirasi itu di buku. Buku itu jendela dunia,” ujar Wowok, Senin, 19 Oktober 2026.

Membaca, dalam pandangannya, bukan semata-mata kegiatan akademis atau kewajiban pelajar. Kebiasaan itu membantu seseorang menyusun pikiran secara runtut dan memperluas wawasan. Kemampuan tersebut diperlukan ketika anak muda harus menyampaikan pendapat, menulis, berdiskusi, ataupun memahami persoalan di sekitarnya.

Ia juga memperluas makna membaca hingga mencakup kehidupan. Peristiwa sosial, pengalaman sehari-hari, dan perjumpaan dengan orang lain menyediakan pelajaran yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.

“Perintah membaca itu jelas dalam agama. Termasuk membaca kehidupan,” katanya.

Karena itu, Wowok mendorong orang tua membangun kebiasaan membaca di lingkungan keluarga. Anak-anak perlu mendapat kesempatan untuk mengenal buku dan berdialog tentang apa yang mereka baca. Dengan begitu, membaca tidak hanya menjadi tugas sekolah, tetapi tumbuh sebagai kebutuhan untuk memahami dunia.

“Saatnya orang tua mendorong anak-anaknya membaca buku. Biar anak-anak berwawasan luas,” ungkapnya.

Bahasa Persatuan yang Perlu Dirawat

Bulan Bahasa memiliki hubungan erat dengan peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Dalam Kongres Pemuda II, para pemuda dari berbagai latar belakang daerah dan organisasi mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan bahasa Indonesia sebagai pemersatu masyarakat yang beragam. .

Oktober kemudian diperingati sebagai Bulan Bahasa untuk merawat semangat kebahasaan yang lahir dari momentum tersebut. Dalam perkembangannya, kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra menjadi ruang untuk mengembangkan bahasa Indonesia, merawat bahasa daerah, serta mendorong apresiasi terhadap karya sastra. Peringatan ini sekaligus mengingatkan bahwa bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari identitas nasional yang dibangun melalui sejarah panjang persatuan. .

Dalam konteks itulah, kegelisahan Wowok menemukan relevansinya. Menjaga bahasa Indonesia tidak berarti membekukan perkembangannya atau menganggap bahasa gaul sebagai ancaman. Bahasa pergaulan tetap menjadi bagian dari kreativitas masyarakat, selama penuturnya mampu membedakan penggunaannya dengan bahasa yang dibutuhkan dalam pendidikan, pekerjaan, penulisan, dan ruang resmi.

Tantangannya adalah memastikan generasi muda tidak kehilangan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia sesuai konteks. Kebebasan menciptakan istilah baru perlu berjalan bersama pemahaman tentang ketepatan kata, kejelasan kalimat, dan tanggung jawab menyampaikan pesan.

Bagi Wowok, merawat bahasa persatuan juga berarti membangun kebiasaan membaca dan memperluas pengetahuan. Bahasa yang dikuasai dengan baik memungkinkan seseorang menyampaikan gagasan secara lebih jernih, memahami orang lain, dan terlibat dalam percakapan publik tanpa mudah terjebak salah pengertian.

Ia pun mengajak masyarakat, terutama generasi muda, menjadikan Bulan Bahasa sebagai pengingat untuk tidak sekadar bangga terhadap bahasa Indonesia, tetapi juga menggunakannya secara tepat.

“Kita berbahasa persatuan: bahasa Indonesia. Mari kita gunakan bahasa persatuan ini dengan baik dan benar,” tandasnya. (*

Tinggalkan Balasan