Jejak KataLiputan

Budiman Sudjatmiko Apresiasi Mentan, Klaim Swasembada Beras Tercapai dalam Setahun

×

Budiman Sudjatmiko Apresiasi Mentan, Klaim Swasembada Beras Tercapai dalam Setahun

Sebarkan artikel ini
Foto: Dok. Istimewa

JEJAK KATA, Jakarta — Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, mengapresiasi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman atas pencapaian target swasembada beras yang, menurutnya, terealisasi dalam setahun. Target yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto itu semula dipatok dalam waktu empat tahun.

Budiman menyampaikan apresiasi tersebut pada Selasa, 20 Oktober 2026, bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia menilai percepatan itu tidak lepas dari kebijakan peningkatan produksi dalam negeri dan pelaksanaan arahan presiden.

“Kita tahu target Pak Presiden untuk swasembada adalah empat tahun. Namun, Kementerian Pertanian di bawah Pak Amran berhasil mencapainya dalam waktu satu tahun. Ini merupakan capaian yang patut diapresiasi,” ujar Budiman.

Menurut Budiman, kemandirian pangan menjadi semakin penting di tengah ancaman perubahan iklim, fenomena El Niño, dan ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok pangan global. Peningkatan produksi domestik dinilai dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan beras dari luar negeri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,69 juta ton, naik 13,29 persen dibandingkan dengan 2024 yang sebesar 30,62 juta ton. Produksi padi pada tahun yang sama mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG), dengan luas panen sekitar 11,32 juta hektare.

Pemerintah juga menyatakan tidak melakukan impor beras konsumsi pada 2025. Presiden Prabowo mengumumkan swasembada pangan pada 7 Januari 2026 di Karawang, Jawa Barat.

Selain produksi, Budiman menyoroti kesejahteraan petani. Data BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada September 2026 mencapai 131,11, meningkat 1,49 persen. Indikator tersebut menggambarkan perkembangan daya beli petani, meski belum cukup untuk menunjukkan pemerataan kesejahteraan di seluruh wilayah dan kelompok petani.

“Keberhasilan sektor pertanian tidak hanya diukur dari peningkatan produksi, tetapi juga dari kesejahteraan petaninya,” kata Budiman.

Pengadaan gabah dan beras dalam negeri oleh Perum Bulog juga menjadi salah satu indikator yang disoroti. Hingga 8 Oktober 2026, realisasinya mencapai 4.115.014 ton setara beras atau 102,88 persen dari target pemerintah sebesar 4 juta ton. Angka itu melampaui realisasi pengadaan sepanjang 2025 yang mencapai 3.191.969 ton setara beras.

Sementara itu, produksi beras nasional selama Januari-Agustus 2026 dilaporkan mencapai 25,29 juta ton. Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) pada September 2026 tercatat sekitar 4,61 juta ton.

Budiman mengingatkan bahwa pencapaian swasembada perlu diikuti kebijakan berkelanjutan. Pemerintah, menurut dia, masih harus menjaga produktivitas, stabilitas harga, cadangan pangan, dan pendapatan petani.

“Ke depan, tantangannya adalah menjaga agar swasembada ini berkelanjutan. Produksi harus tetap kuat, cadangan pangan harus terjaga, dan kesejahteraan petani harus terus meningkat,” ujarnya.

Budiman mengaitkan pembangunan pertanian dengan agenda pengentasan kemiskinan. Sebagian masyarakat perdesaan menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian sehingga peningkatan produksi perlu berjalan beriringan dengan perbaikan pendapatan dan perluasan kesempatan ekonomi.

Ia menilai koordinasi antara kementerian, pemerintah daerah, petani, dan pemangku kepentingan lain diperlukan agar manfaat pembangunan pertanian tidak berhenti pada angka produksi, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor tersebut. (*

Tinggalkan Balasan