BUDAYA — Sebuah kerucut nasi berdiri di tengah tampah. Di sekelilingnya lauk-pauk ditata seperti pengiring sebuah upacara. Tumpeng tidak sekadar makanan yang disantap setelah doa selesai. Dalam tradisi Jawa, ia menjadi cara orang menyusun rasa syukur, harapan, dan kebersamaan ke dalam sepiring hidangan.
Tumpeng umumnya berupa nasi berbentuk kerucut yang disajikan bersama beragam lauk. Hidangan ini lekat dengan tradisi selamatan, perayaan, hingga berbagai hajatan keluarga dan masyarakat. Karena itu, memotong tumpeng sering kali bukan sekadar acara makan. Ada suasana simbolik yang menyertainya.
Bentuk kerucut tumpeng menjadi bagian paling mudah dikenali. Dalam kajian budaya Jawa, bentuk tersebut kerap dikaitkan dengan gambaran gunung sebagai simbol tempat yang tinggi dan sakral. Dalam perkembangan tradisi masyarakat Jawa, maknanya kemudian berkelindan dengan gagasan hubungan manusia dengan Tuhan.
Namun, penjelasan mengenai asal-usul dan filosofi tumpeng tidak selalu tunggal. Akronim seperti “yen metu kudu sing mempeng” maupun “tumapaking penguripan-tumindak lempeng-tumuju Pangeran” banyak beredar sebagai tafsir populer. Ungkapan tersebut menekankan pesan agar manusia menjalani kehidupan dengan sungguh-sungguh dan berada di jalan yang dianggap benar.
Begitu pula dengan warna nasi tumpeng. Nasi putih sering ditafsirkan sebagai lambang kesucian, sedangkan nasi kuning dikaitkan dengan kemakmuran dan kesejahteraan. Makna itu dapat berbeda menurut konteks dan tradisi masyarakat yang menjalankannya.
Yang menarik adalah angka tujuh. Dalam bahasa Jawa, tujuh disebut pitu. Dalam tafsir budaya populer, angka tersebut dikaitkan dengan pitulungan, atau pertolongan. Karena itu, keberadaan tujuh unsur lauk dalam tumpeng sering diberi makna sebagai harapan memperoleh pertolongan dan keselamatan.
Tumpeng pun memiliki banyak bentuk dan fungsi. Tumpeng Robyong, misalnya, dikenal dalam berbagai hajatan dan perayaan. Tumpeng Putih lazim dikaitkan dengan kegiatan yang bernuansa kesucian. Sementara Tumpeng Pungkur memiliki bentuk yang dibelah dan diletakkan saling membelakangi, serta dikenal dalam sejumlah tradisi kematian masyarakat Jawa.
Ada pula Tumpeng Nujuh Bulan atau tumpeng dalam tradisi mitoni, yang berkaitan dengan selamatan kehamilan ketika memasuki usia tujuh bulan.
Di atas tampah, semua unsur pada tumpeng itu akhirnya bertemu. Nasi, sayuran, lauk, doa, dan orang-orang yang duduk mengelilinginya.
Tumpeng mengajarkan satu hal sederhana: makanan bisa menjadi bahasa kebudayaan. Ia tidak hanya mengisi perut, tetapi juga menyimpan cara sebuah masyarakat memaknai kehidupan, rasa syukur, harapan, dan hubungan antar manusia.
Di tengah zaman ketika makanan kerap hadir sebagai foto untuk media sosial, tumpeng tetap punya cerita yang lebih panjang. Kerucut nasi itu adalah arsip budaya yang bisa dimakan—dan diwariskan. (*






