Soft News

Jejak Batik Lasem yang Berkembang Melampaui Batas Wilayah, Desa Pohlandak

×

Jejak Batik Lasem yang Berkembang Melampaui Batas Wilayah, Desa Pohlandak

Sebarkan artikel ini
Seorang perajin batik Lasem di Desa Pohlandak, Kecamatan Pancur, kabupaten Rembang, Jawa Tengah | Foto: Dok. Widi Hatmoko

BUDAYA — Nama Lasem begitu lekat dengan batik pesisir. Tetapi kain yang menyandang nama itu tidak selalu lahir di Kecamatan Lasem. Di Desa Pohlandak, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, tradisi membatik tumbuh dari rumah-rumah warga. Canting bergerak, malam mencair, dan motif khas Lasem diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Secara administratif hari ini, Pohlandak berada di Kecamatan Pancur. Namun jika sejarah pemerintahan ditarik ke belakang, hubungan Pancur dan Lasem memiliki cerita yang lebih panjang.

Pancur secara administratif dimekarkan dari Kecamatan Lasem pada 1992 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1992 tentang Pembentukan Kecamatan di Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Rembang. Sebelum pemekaran, wilayah Pancur merupakan bagian dari wilayah administrasi yang berada dalam naungan Kecamatan Lasem.

Karena itu, menyebut Pohlandak sebagai salah satu kantong produksi batik bercorak Lasem bukan semata perkara letak geografis. Ada jejak sejarah administrasi, mobilitas masyarakat, perdagangan, dan pewarisan keterampilan yang membuat identitas batik bergerak melampaui garis batas kecamatan.

Di tangan perajin Pohlandak, selembar kain dimulai dari pekerjaan yang nyaris sunyi. Pola digambar, malam ditorehkan dengan canting, lalu kain melalui proses pewarnaan dan pengolahan berulang. Tidak ada tombol undo. Satu garis yang meleset dapat mengubah rupa seluruh motif.

Membatik bukan sekadar produksi kain. Ia juga menjadi keterampilan sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Pengetahuan tentang motif, teknik, warna, dan ketelitian berpindah melalui praktik sehari-hari.

Salah satu tempat yang dikenal di Pohlandak adalah Batik Kresno Aji. Showroom ini menjadi ruang pertemuan antara perajin, kain, dan pembeli. Ragam desain dan warna memperlihatkan bahwa batik tradisional tidak berhenti sebagai benda masa lalu, melainkan terus menemukan pasar dan penafsiran baru.

Ketika Jawa Bertemu Tionghoa

Kekuatan batik Lasem terletak pada sejarah perjumpaan budaya. Lasem sejak berabad-abad lalu menjadi salah satu kawasan penting komunitas Tionghoa di pesisir Jawa. Pengaruh itu kemudian masuk ke dunia batik melalui motif, warna, dan ragam hias.

Burung hong, naga, kupu-kupu, dan bunga menjadi bagian dari khazanah visual yang kerap dikaitkan dengan pengaruh Tionghoa. Tetapi batik Lasem tidak berhenti di sana. Ia berdialog dengan lingkungan pesisir dan tradisi Jawa.

Latohan, misalnya, terinspirasi dari tanaman laut. Pasiran menghadirkan kesan butiran pasir. Sementara Watu Pecah atau Kricak kerap dikaitkan dengan ingatan sejarah pembangunan jalan pada masa kolonial.

Pengaruh tradisi Jawa juga tampak melalui motif Parang, Kawung, dan Sekar Jagad. Dalam batik pesisir, motif-motif itu dapat berjumpa dengan naga atau burung hong. Batas budaya justru menjadi ruang kreativitas.

Lalu ada warna merah yang menjadi ciri kuat batik Lasem dan populer disebut getih pitik. Dari tradisi pewarnaan inilah nama Lasem ikut dikenal dalam sejarah Batik Tiga Negeri, yang mempertemukan karakter warna dari sejumlah pusat batik di Jawa.

Hari ini, ragam motif Lasem tetap hidup dan berkembang. Burung Hong, Naga, Latohan, Watu Pecah, Pasiran, Sekar Jagad, Parang, Kawung, hingga Gunung Ringgit menjadi sejumlah motif yang populer dan terus diproduksi.

Pohlandak akhirnya menunjukkan bahwa kebudayaan jarang patuh pada garis di peta. Administrasi boleh memisahkan Pancur dari Lasem, tetapi sejarah, keterampilan, dan kain dapat terus menyambungkannya. Di tangan perajin, hubungan itu dijahit kembali—dengan canting, malam, dan kesabaran. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *