Soft News

Watu Pecah: Ketika Kerja Paksa Daendels Diabadikan di Selembar Batik

×

Watu Pecah: Ketika Kerja Paksa Daendels Diabadikan di Selembar Batik

Sebarkan artikel ini
Batik watu pecah Lasem memiliki simbol dan rekam jejaka sejarah Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan | Foto: Dok. Istimewa

HISTORI — Batu-batu kecil itu tampak sederhana. Dalam kain batik Lasem, ia hanya berupa pecahan yang tersusun rapat menjadi pola. Namun di balik bentuknya tersimpan ingatan tentang jalan, kerja paksa, dan penderitaan masyarakat pada masa kolonial.

Motif itu dikenal sebagai Watu Pecah atau Kricak. Sejumlah sumber sejarah dan kajian batik mengaitkannya dengan pembangunan Jalan Raya Pos atau De Grote Postweg pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada awal abad ke-19. Lasem menjadi salah satu wilayah yang dilalui jalur tersebut.

Pembangunan jalan yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan melibatkan mobilisasi penduduk melalui kewajiban kerja. Dalam kisah yang berkembang di masyarakat Lasem, sebagian warga dikerahkan untuk memecah batu menjadi bagian-bagian kecil atau kricak. Sejumlah kajian batik mencatat peristiwa tersebut sebagai latar munculnya motif Watu Pecah.

Batu yang dahulu dipecahkan dengan tenaga manusia kemudian berpindah bentuk. Bukan lagi menjadi material jalan, melainkan menjadi guratan malam di atas kain.

Di situlah batik bekerja seperti arsip. Ia tidak menggunakan tinta sejarah, melainkan canting. Tidak menyimpan dokumen dalam lemari, tetapi menggambar ingatan pada kain.

Namun kisah asal-usul Watu Pecah juga perlu ditempatkan secara hati-hati. Sejumlah pemerhati batik menyebut makna motif ini sebagai kenangan atas kerja paksa pembangunan Jalan Raya Pos. Sementara penafsiran lain mengaitkannya dengan karakter tanah berbatu dan retak di kawasan Lasem. Jadi, hubungan motif dengan tragedi kerja paksa merupakan bagian dari tradisi tutur dan historiografi batik yang berkembang di Lasem, bukan satu-satunya tafsir yang diterima semua pihak.

Secara visual, Watu Pecah biasanya menghadirkan bentuk-bentuk kecil menyerupai pecahan batu sebagai ornamen utama atau isen-isen. Polanya dapat dipadukan dengan bunga, daun, kupu-kupu, hingga unsur ragam hias lain. Kajian visual terhadap batik Kricak Lasem juga menemukan penggunaan cecek, sawut, dan ukel untuk membangun tekstur pada bidang motif.

Sebagai batik pesisiran, Lasem dikenal dengan warna yang berani. Merah khas yang kerap disebut getih pitik, biru, serta cokelat sogan menjadi bagian dari kekayaan warnanya. Motif Watu Pecah pun dapat berdampingan dengan ragam hias hasil perjumpaan budaya Jawa dan Tionghoa, seperti naga, burung hong, dan tumbuhan.

Batik Lasem dengan demikian bukan cuma perkara kain dan motif. Di dalamnya terdapat perjalanan masyarakat pesisir, perjumpaan budaya, sekaligus cara orang Lasem menyimpan ingatan.

Jalan Raya Pos mungkin kini telah berubah menjadi jalan yang dilalui kendaraan. Batu-batu yang dahulu dipukul hingga pecah pun telah kehilangan bentuk aslinya. Tetapi pada selembar batik, pecahan itu tetap tinggal.

Ia mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu disimpan dalam prasasti. Kadang, sejarah memilih hidup lebih lama melalui selembar kain. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *