KULINER — Surabaya punya panas yang kadang membuat orang mencari tempat teduh. Belakangan, tempat teduh itu tidak selalu berupa mal berpendingin udara. Cukup sebuah rumah, teras, garasi, halaman belakang, secangkir kopi, dan kursi yang tidak terlalu banyak.
Kedai kopi berkonsep rumahan sedang menemukan panggungnya di Kota Pahlawan. Rumah tinggal, bangunan lama, bahkan garasi disulap menjadi tempat ngopi. Ukurannya boleh kecil, tetapi urusan membuat betah tidak kalah dengan kafe yang punya lampu gantung dan nama menu berbahasa asing.
Di tengah Surabaya yang bergerak cepat, konsep homey menawarkan kemewahan sederhana: suasana tidak terlalu berisik.
Salah satu yang membawa nuansa itu adalah Kedai Tambora. Konsepnya mengingatkan pada suasana rumah era 1990-an. Ada kesan jadul, teduh, dan akrab. Datang ke sana seperti berkunjung ke rumah lama—bedanya, kali ini tuan rumah menjual kopi.
Di Sukolilo, Kopi Mama Ury menawarkan suasana halaman belakang yang lebih lapang. Kebun kecil menjadi semacam ruang tamu tanpa dinding. Pada waktu tertentu, musik akustik ikut mengisi sore hingga malam.
Sementara itu, Moengkopi JiwARTspace membawa kopi bertemu seni. Tempat ini menggabungkan kedai dengan ruang seni kecil. Buku-buku arsitektur dan suasana yang relatif tenang membuatnya cocok bagi mereka yang ingin bekerja dari kafe atau sekadar berpura-pura produktif sambil menatap laptop.
Ada pula KVRASI di kawasan Darmo. Bangunan rumah tinggal dipertahankan sebagai bagian dari pengalaman ngopi. Hasilnya bukan sekadar kedai, melainkan ruang yang terasa personal.
Konsep serupa terlihat di Garasi Kopi 75. Garasi dan teras rumah diberi kehidupan kedua sebagai tempat nongkrong. Konsepnya sederhana, tetapi justru di situlah daya tariknya: tidak perlu berpura-pura menjadi kafe mahal untuk menjual secangkir kopi.
Adapun Fifteenth Cafe by Mark Design menawarkan permainan suasana yang sedikit berbeda. Arsitektur bergaya kolonial berpadu dengan taman tropis. Ruangnya dirancang untuk bersantai maupun bekerja.
Fenomena kedai kopi rumahan ini tidak muncul dari ruang kosong. Surabaya punya populasi mahasiswa, pekerja kreatif, dan pekerja digital yang membutuhkan tempat untuk bertemu, bekerja, atau sekadar melarikan diri dari meja kantor.
Konsep work from cafe ikut mengubah fungsi kedai kopi. Colokan listrik kini sama pentingnya dengan mesin espresso. Wi-Fi bisa menjadi alasan datang. Kursi nyaman adalah investasi. Bahkan tingkat kebisingan bisa menentukan apakah seseorang akan memesan gelas kedua.
Harga juga menjadi pertimbangan. Kedai rumahan umumnya tidak membutuhkan ruang sebesar kafe di pusat perbelanjaan. Biaya operasional yang lebih ringan memungkinkan harga minuman tetap relatif bersahabat.
Pada akhirnya, kopi mungkin hanya alasan. Yang dicari sebagian orang adalah perasaan pulang tanpa benar-benar pulang.
Di kota sebesar Surabaya, sebuah teras kecil bisa menjadi tempat berteduh dari kemacetan. Sebuah garasi bisa berubah menjadi ruang pertemuan. Dan secangkir kopi bisa menjadi alasan untuk duduk lebih lama. Sebab kadang yang membuat kopi terasa enak bukan bijinya, melainkan suasana ketika meminumnya. (*






