WISATA — Airnya bisa tampak biru, pada sudut lain berwarna hijau toska. Di antara dinding tanah bekas galian pasir, Telaga Biru Cigaru menyuguhkan pemandangan yang mudah memancing rasa ingin tahu. Namun, bagi sebagian orang, pesonanya bukan semata perkara warna air. Ada cerita tentang bidadari, penunggu gaib, hingga khasiat air yang konon bisa membuat wajah awet muda.
Telaga Biru Cigaru berada di Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, Banten. Destinasi ini tumbuh dari lanskap yang tak dirancang sebagai tempat wisata. Jauh sebelum menjadi tujuan orang berburu foto, kawasan tersebut merupakan bekas galian pasir yang kemudian terisi air.
Di tengah pemandangan yang tak biasa itu, cerita mistis berkembang. Salah satu legenda yang beredar menyebut perubahan warna air telaga berkaitan dengan selendang bidadari yang jatuh ke dalamnya. Ada pula kisah tentang sosok bernama Ratu Pelangi yang dipercaya sebagian orang sebagai penjaga kawasan tersebut.
Cerita lain menyebut adanya tiga penunggu gaib, masing-masing dikaitkan dengan telaga di kawasan itu. Pengalaman merasa diawasi atau cerita tentang orang yang mengalami kesurupan turut menambah lapisan misteri. Namun, kisah-kisah tersebut merupakan kepercayaan dan cerita yang beredar, bukan bukti bahwa keberadaan makhluk gaib telah terverifikasi.
Legenda semacam ini bukan hal asing dalam kebudayaan lokal. Alam yang memiliki bentuk tak lazim, warna mencolok, atau kedalaman yang sulit diterka kerap melahirkan cerita untuk menjelaskan sesuatu yang belum dipahami. Cerita kemudian diwariskan, berubah mengikuti penuturan, dan menjadi bagian dari identitas suatu tempat.
Di Cigaru, legenda bidadari bisa dibaca sebagai cara masyarakat memberi makna pada lanskap yang terbentuk secara tak biasa. Cerita itu menarik sebagai warisan lisan, tetapi tidak harus diterima sebagai penjelasan harfiah tentang apa yang terjadi di dalam telaga.
Warna air bukan pertanda gaib
Secara ilmiah, perubahan warna air tidak dengan sendirinya menunjukkan keberadaan sesuatu yang supranatural. Warna yang terlihat dapat dipengaruhi oleh kedalaman, partikel yang tersuspensi, mineral, kondisi dasar perairan, pertumbuhan organisme, serta pantulan cahaya dan warna langit. Pada telaga bekas galian, perbedaan kondisi antarlokasi juga dapat menghasilkan penampakan warna yang berbeda.
Namun, tanpa pengujian sampel air dan kajian geologi setempat, penyebab spesifik warna biru dan hijau toska di Telaga Biru Cigaru tidak bisa dipastikan hanya melalui pengamatan mata.
Ada pula mitos bahwa air telaga dapat meningkatkan aura kecantikan atau membuat wajah awet muda. Cerita ini tidak memiliki bukti ilmiah yang cukup untuk dijadikan dasar manfaat perawatan kulit. Membasuh wajah dengan air dari perairan yang kualitasnya belum diketahui juga bukan pilihan yang bijak, terutama jika air mengandung zat atau mikroorganisme yang berisiko bagi kesehatan.
Kondisi air bekas galian tidak bisa dinilai aman atau berbahaya hanya dari warnanya. Diperlukan pengujian untuk mengetahui tingkat keasaman, kandungan mineral, dan kemungkinan pencemar. Karena itu, air telaga sebaiknya tidak diminum atau digunakan untuk perawatan tubuh tanpa kepastian mengenai kualitasnya.
Di balik legenda, ada lanskap bekas tambang
Riwayat Telaga Biru Cigaru memberi penjelasan yang lebih membumi tentang asal-usulnya. Kawasan ini dikenal sebagai bekas galian pasir yang ditinggalkan setelah aktivitas penambangan, sekitar 2006–2012 menurut informasi yang beredar. Cekungan bekas pengerukan kemudian terisi air hujan dan kemungkinan air tanah.
Perubahan dari lahan tambang menjadi telaga memang dapat menghasilkan pemandangan yang memikat. Tetapi bentang alam semacam ini juga menyimpan risiko yang tidak selalu terlihat dari permukaan. Dinding galian bisa curam, sementara kedalaman air dapat berubah dan sulit diperkirakan tanpa pengukuran.
Risiko itu bukan sekadar perkara cerita. Pada Juni 2019, kawasan Telaga Biru Cigaru pernah menjadi sorotan setelah insiden wisatawan tenggelam akibat sampan terbalik. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa keindahan telaga tidak menghapus bahaya yang melekat pada perairan bekas galian.
Bagi pengunjung, kewaspadaan semestinya lebih nyata daripada ketakutan terhadap penunggu gaib. Hindari berenang atau menaiki perahu tanpa fasilitas keselamatan yang memadai, jangan mendekati tepi yang rapuh, dan patuhi pembatas maupun petunjuk pengelola.
Misteri sebagai cerita, keselamatan sebagai kenyataan
Legenda Ratu Pelangi dan selendang bidadari mungkin akan terus hidup dalam percakapan warga dan wisatawan. Cerita itu memberi Telaga Biru Cigaru daya tarik tersendiri, sekaligus memperlihatkan bagaimana manusia merawat ingatan kolektif melalui kisah tentang alam.
Namun, menghargai cerita rakyat tidak mengharuskan orang mengabaikan penalaran. Mitos dapat dipahami sebagai bagian dari kebudayaan, sementara warna air dapat diteliti melalui ilmu pengetahuan dan risiko wisata harus ditangani dengan langkah keselamatan yang nyata.
Di Telaga Biru Cigaru, keduanya bisa berjalan beriringan. Pengunjung tetap dapat menikmati lanskap dan mendengar legenda yang menyertainya, tanpa harus menyimpulkan bahwa setiap perubahan warna merupakan pertanda gaib atau bahwa airnya menyimpan khasiat khusus.
Sebab, misteri yang paling penting dari bekas galian pasir ini bukanlah siapa yang konon tinggal di dalamnya. Pertanyaan yang lebih mendesak ialah bagaimana manusia memahami, mengelola, dan menikmati lanskap tersebut tanpa melupakan batas keselamatan. (*






