HISTORI — Dari sebuah kota pesisir di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, nama keluarga Han menembus batas wilayah, birokrasi kolonial, industri gula, hingga kekuasaan politik di Jawa Timur. Jejak mereka bermula dari seorang pendatang yang konon tiba di Jawa dalam keadaan miskin, sebelum keturunannya tumbuh menjadi salah satu keluarga Tionghoa peranakan paling berpengaruh pada abad ke-18 dan ke-19.
Leluhur keluarga ini adalah Han Siong Kong, yang disebut sebagai keturunan generasi ke-21 marga Han dari Tianbao, Fujian, Tiongkok, pada masa Dinasti Ming. Alasan kedatangannya ke Jawa tidak diketahui secara pasti. Ia menetap di Lasem, menikahi putri seorang tumenggung dari Rajegwesi—wilayah yang kini dikenal sebagai Bojonegoro—dan meninggal pada 1743.
Masa hidup Han Siong Kong bersinggungan dengan Geger Pacinan, pergolakan berdarah pada 1740–1743 yang melibatkan masyarakat Tionghoa, kelompok Jawa, dan VOC. Namun, pengaruh keluarga Han tidak berhenti pada gejolak tersebut. Keturunannya kemudian menyebar dan menduduki posisi penting dalam tatanan kolonial.
Sejarawan mencatat keluarga Han melahirkan sejumlah opsir Tionghoa, mulai dari letnan, mayor, hingga kapitan. Dalam perkembangannya, keluarga ini dikenal memiliki dua kecenderungan: Han Putih yang berkaitan dengan usaha dan industri gula, serta Han Hitam yang lebih banyak bergerak dalam birokrasi pemerintahan dan pendidikan.
Dua Saudara, Dua Jalan Sejarah
Dari tujuh anak Han Siong Kong, dua nama menonjol dalam pembentukan jejaring kekuasaan keluarga ini: Han Tjien Kong dan Han Bwee Kong. Keduanya menempuh jalan berbeda, tetapi sama-sama meninggalkan pengaruh besar di Jawa Timur.
Han Tjien Kong, lahir pada 1720, memeluk Islam dan dikenal dengan nama Muchsin serta gelar Raden Rangga Soero Prenollo. Ia berpindah dari Lasem ke Besuki, lalu Panarukan, dan menjadi orang kepercayaan pejabat VOC Hendrik Bretton.
Adiknya, Han Bwee Kong, lahir pada 1727 dan menjadi Kapitan Tionghoa di Surabaya. Jabatan itu menempatkannya dalam struktur perantara antara komunitas Tionghoa dan pemerintah kolonial. Keturunan keduanya kelak membentuk jaringan elite yang berpengaruh dalam pemerintahan, perdagangan, dan kehidupan sosial.
Dari garis Han Bwee Kong, Han Chan Piet meneruskan karier sebagai opsir Tionghoa dan pengelola kepentingan kolonial di Besuki serta Panarukan. Sementara itu, Han Kik Ko dikenal sebagai pemilik tanah dan pelopor industri gula di Jawa Timur. Ia pernah menjabat Mayor Tionghoa dan Bupati Probolinggo dengan gelar tumenggung.
Kekuasaan Han Kik Ko berakhir tragis pada 1813. Ia tewas ketika pemberontakan terhadap pemerintahan Inggris di bawah Stamford Raffles meluas ke wilayah kekuasaannya, saat ia tengah menjamu pejabat kolonial.
Di Antara Sejarah dan Mitos
Kisah keluarga Han juga diselimuti legenda. Tradisi lisan menyebut peti jenazah Han Siong Kong pernah teronggok di tengah hujan dan petir sebelum akhirnya terkubur secara misterius. Ada pula cerita tentang kutukan kepada keturunannya karena dianggap tidak berbakti.
Legenda lain mengisahkan dua anak yang menghabiskan harta ayah mereka, bahkan uang dari para pelayat, di meja judi. Sejumlah kemiripan membuat kisah itu diduga merujuk pada Han Siong Kong dan putra-putranya. Namun, cerita tersebut merupakan tradisi lisan yang tidak serta-merta dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah.
Sementara itu, garis keturunan Han Tjien Kong melahirkan sejumlah tokoh Muslim yang berkiprah dalam pemerintahan. Salah satunya Han Sam Kong, bernama Jawa Soemodiwirjo, yang memperoleh gelar Tumanggung Soero Adinegoro dan kemudian menjadi Bupati Malang pada 1809 di masa Daendels. Keturunan lainnya menduduki jabatan pemerintahan di kawasan Besuki dan Puger.
Kini, Lasem masih menyimpan jejak awal perjalanan keluarga tersebut. Rumah abu keluarga Han di Surabaya menjadi salah satu pengingat tentang jaringan kekerabatan yang pernah membentang dari pesisir utara Jawa hingga pusat-pusat kekuasaan di Jawa Timur.
Sejarah keluarga Han memperlihatkan bahwa identitas Tionghoa peranakan di Jawa tidak bergerak dalam satu garis lurus. Perdagangan, perkawinan, perpindahan agama, dan hubungan dengan penguasa kolonial membentuk jalan hidup yang beragam. Di antara dokumen sejarah dan cerita turun-temurun, nama Han tetap menjadi bagian dari kisah rumit tentang masyarakat, kekuasaan, dan perubahan di Jawa. (*






