Jejak KataSoft News

Hubungan Ular dengan Manusia: Ketika Rasa Takut Mengalahkan Fakta

×

Hubungan Ular dengan Manusia: Ketika Rasa Takut Mengalahkan Fakta

Sebarkan artikel ini
Alvin bersama salah satu jenis ular Boa | Foto: Dok. Widi Hatmoko

EDUKASI — Ular punya reputasi buruk di mata manusia. Kemunculannya kerap memicu kepanikan. Sebagian orang memilih menjauh, sebagian lain justru mengambil kayu atau alat lain untuk mengusir, bahkan membunuhnya. Padahal, perilaku ular tak sesederhana cerita yang telanjur beredar.

Menurut Alvin, salah seorang pegiat reptil, ular pada umumnya lebih memilih menghindari manusia ketimbang berkonfrontasi.

“Ketika memiliki kesempatan, ular cenderung menjauh,” ujar Alvin di Tangerang City Mal, Kota Tangerang, Jumat, 16 Oktober 2026.

Sikap ini, menurut Alvin, berkaitan dengan upaya mempertahankan diri, bukan keinginan untuk menyerang manusia.

Ketakutan terhadap ular, menurut dia, kerap lebih banyak dibentuk cerita dibandingkan pemahaman atas perilaku hewan tersebut. Manusia takut karena menganggap ular selalu berbahaya. Sementara itu, ular pun cenderung menganggap manusia sebagai ancaman.

Namun, kata Alvin, bukan berarti semua ular tidak berbahaya. Risiko tetap bergantung pada jenis ular, kondisi perjumpaan, dan jarak manusia dengannya. Karena itu, memahami perilakunya menjadi penting agar ketakutan tidak berubah menjadi tindakan yang justru membahayakan kedua pihak.

Kobra, misalnya, dapat melebarkan bagian lehernya ketika merasa terancam. Perilaku ini bisa menjadi sinyal peringatan.

“Dalam situasi seperti itu, mendekat atau mencoba mengusirnya dengan kekerasan justru berpotensi meningkatkan risiko gigitan,” katanya.

Persoalannya, manusia kerap salah membaca tanda tersebut. Ular yang sedang mempertahankan diri dianggap sedang menantang. Respons yang muncul kemudian adalah menyerang balik. Padahal, menjaga jarak dan membiarkan ular pergi merupakan pilihan yang lebih aman.

“Kalau ketemu mereka, enggak usah takut. Itu kuncinya. Tinggalin, biarin aja,” tandasnya.

Ragam ular dan perubahan klasifikasi

Janis Bandotan Candi, dengan nama ilmiah Tropidolaemus wagleri atau nama lain Wagler’s Pit Viper / Temple Viper. Nama lokal di Sumatera adalah Ular Cinta Manis atau Ular Cantik Manis | Foto: Dok. Widi Hatmoko

Di balik citra menakutkan itu, ular menyimpan keragaman yang tidak sedikit. Indonesia memiliki beragam jenis reptil dengan ciri dan perilaku berbeda. Mengenalkannya kepada masyarakat menjadi salah satu tujuan kegiatan edukasi yang dilakukan para pegiat reptil.

Keragaman itu juga tercermin dalam perkembangan ilmu taksonomi, yakni ilmu yang mengelompokkan dan memberi nama organisme. Klasifikasi ular terus mengalami perubahan seiring penelitian yang semakin berkembang. Kelompok yang sebelumnya dihimpun dalam satu famili dapat ditata ulang ketika bukti ilmiah menunjukkan adanya perbedaan yang lebih mendasar.

Alvin megambil contoh famili Colubridae. Kelompok ini pernah menjadi semacam keranjang besar bagi banyak ular yang tidak dimasukkan ke dalam famili lain, seperti Pythonidae, Boidae, Viperidae, dan Elapidae. Namun, seiring penelitian, sejumlah kelompok ular kemudian dipisahkan dan ditempatkan dalam klasifikasi tersendiri.

Perubahan itu menunjukkan bahwa pengetahuan tentang ular bukan sesuatu yang berhenti pada satu kesimpulan. Penelitian terus memperbaiki pemahaman manusia mengenai hubungan kekerabatan, ciri, dan keanekaragaman spesies.

Alvin juga menyinggung perubahan klasifikasi king cobra. Ular yang dikenal dengan nama ilmiah Ophiophagus hannah itu selama ini dipahami sebagai satu spesies. Namun, penjelasan mengenai adanya empat spesies perlu merujuk pada sumber taksonomi terbaru agar nama dan pembagian spesiesnya dapat dipastikan secara akurat.

Bukan musuh di alam

Pengetahuan tentang ular semestinya tidak berhenti pada kemampuan mengenali bentuk atau membedakan jenisnya. Ada hal lain yang tak kalah penting: memahami perannya dalam ekosistem.

Setiap ular memiliki fungsi ekologis. Keberadaannya menjadi bagian dari hubungan antarmakhluk hidup di alam. Membunuh ular semata-mata karena takut bukan solusi yang tepat, terlebih jika tindakan itu dilakukan tanpa mengetahui jenis dan situasinya.

Pesan yang ingin disampaikan para pegiat reptil sederhana: ular bukan hewan yang perlu dicari untuk dihadapi. Jika bertemu ular, jangan mendekat, jangan memprovokasi, dan jangan mencoba menangkapnya sendiri. Beri ruang agar hewan itu menjauh. Jika ular berada di rumah atau lokasi yang membahayakan, hubungi petugas atau penangan reptil yang kompeten.

Rasa takut mungkin sulit dihilangkan sepenuhnya. Namun, rasa takut dapat diarahkan agar tidak berubah menjadi tindakan gegabah. Mengenali ular, memahami tanda peringatannya, dan mengetahui cara menjaga jarak adalah langkah awal untuk mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar. Sebab, dalam perjumpaan dengan ular, pilihan paling bijak sering kali bukan melawan, melainkan mundur dan membiarkannya pergi. (*

Tinggalkan Balasan