EDUKASI — Penampilannya menyerupai naga mini. Deretan duri menghiasi punggungnya, dagunya bergelambir, sementara ekornya memanjang seperti cambuk. Namun, jangan buru-buru menganggap iguana hijau sebagai monster kecil yang gemar menyerang. Reptil bernama ilmiah Iguana iguana ini justru lebih banyak menghabiskan waktunya di pepohonan, berjemur, dan menyantap dedaunan.
Iguana hijau berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan, dengan wilayah persebaran alami hingga sejumlah pulau di Karibia. Di Indonesia, satwa ini dikenal sebagai hewan eksotis yang digemari para pencinta reptil. Artinya, iguana hijau bukan bagian dari fauna asli Nusantara.
Di Tangerang City Mal, Kota Tangerang, Sabtu, 16 Oktober 2026, iguana hijau menarik perhatian pengunjung. Reptil berpenampilan eksotis itu hadir dalam sebuah pameran yang digelar komunitas pencinta reptil Tangerang, yang digagas Alvin bersama rekan-rekannya.
Berdasarkan berbagai sumber dan catatan, panjang tubuh iguana hijau bisa mencapai 1,5–2 meter, termasuk ekor, dengan bobot sekitar 4–8 kilogram. Iguana jantan umumnya lebih besar daripada betina. Warna hijau yang menjadi ciri khasnya pun tidak selalu menetap. Faktor usia, suhu, kondisi fisiologis, dan lingkungan dapat memengaruhi penampilannya hingga tampak keabu-abuan atau kecokelatan.
Ada tiga bagian tubuh yang mudah dikenali: deretan duri di sepanjang punggung, lipatan kulit di bawah rahang yang disebut dewlap, serta sisik bulat besar di belakang mata. Bagian-bagian itu bukan sekadar hiasan. Iguana memanfaatkannya untuk berkomunikasi, membantu mengatur suhu tubuh, dan mempertahankan diri ketika menghadapi ancaman.
Bukan Pemburu Manusia
Anggapan bahwa reptil selalu agresif kerap membuat orang memilih menjaga jarak. Padahal, iguana hijau merupakan herbivora alias pemakan tumbuhan. Daun menjadi menu utamanya, dilengkapi bunga dan buah dalam komposisi yang sesuai. Satwa ini aktif pada siang hari, piawai memanjat, dan mampu berenang dengan baik.
Di habitat alaminya, iguana menghuni hutan tropis, hutan kering, hingga kawasan bakau, terutama di dataran rendah dekat sumber air. Pepohonan menjadi tempat berlindung, mencari makan, dan berjemur untuk membantu mengatur suhu tubuhnya.
Ketika bertemu manusia, iguana umumnya memilih menghindar jika masih memiliki kesempatan. Namun, bukan berarti reptil ini selalu jinak. Saat terpojok atau merasa terancam, cakarnya bisa menggores kulit, ekornya dapat menyabet dengan keras, dan giginya mampu menimbulkan luka gigitan.
Ada pula risiko yang tak terlihat mata. Iguana dapat membawa bakteri Salmonella tanpa menunjukkan gejala sakit. Karena itu, mencuci tangan setelah menyentuh tubuhnya, peralatan, atau kandang merupakan kebiasaan penting. Anak-anak juga perlu diawasi ketika berinteraksi dengan reptil ini.
Lucu Saat Kecil, Repot Ketika Dewasa
Penampilannya yang eksotis membuat iguana digemari komunitas pencinta reptil. Sebagian pemilik tertarik pada warna tubuhnya, sementara yang lain menikmati proses mengamati perilaku dan pertumbuhannya. Iguana yang terbiasa berinteraksi secara tenang dapat menjadi lebih toleran terhadap manusia. Namun, kedekatan itu bukan jaminan bahwa ia akan selalu nyaman disentuh.
Persoalan mulai muncul ketika tubuhnya membesar. Iguana dapat hidup selama 15–20 tahun atau lebih. Memeliharanya, karena itu, bukan keputusan yang seharusnya diambil hanya karena mengikuti tren. Kandang mesti menyediakan ruang yang memadai, cabang untuk memanjat, suhu yang sesuai, serta pencahayaan ultraviolet B (UVB) untuk mendukung metabolisme kalsium dan menjaga kesehatan tulang.
Urusan pakan juga tak cukup diselesaikan dengan memberikan sisa sayuran atau potongan buah. Iguana membutuhkan susunan makanan nabati yang tepat, dengan memperhatikan keseimbangan nutrisi. Biaya perawatan jangka panjang dan akses ke dokter hewan yang memahami reptil perlu diperhitungkan sejak awal.
Secara global, status konservasi iguana hijau tercatat sebagai Least Concern atau berisiko rendah menurut IUCN. Meski demikian, perburuan dan perdagangan ilegal tetap menjadi ancaman di sejumlah wilayah. Di Florida, Amerika Serikat, iguana hijau bahkan berkembang menjadi spesies invasif setelah diperkenalkan di luar habitat alaminya.
Di sinilah ironi memelihara satwa eksotis muncul. Ketika tubuhnya masih mungil, iguana tampak seperti penghuni akuarium yang mudah diurus. Namun, ketika tumbuh besar, kebutuhan ruang, pakan, dan perawatannya tak lagi bisa dianggap sepele.
Melepasliarkan iguana sembarangan bukan jalan keluar ketika pemilik tak sanggup merawatnya. Tindakan itu dapat membahayakan satwa sekaligus mengganggu ekosistem jika iguana berkembang biak di lingkungan yang bukan habitat aslinya.
Iguana hijau memang bukan naga penjaga harta karun. Namun, ia juga bukan mainan yang bisa ditinggalkan ketika pemilik bosan. Memahami perilaku, kebutuhan hidup, dan tanggung jawab memeliharanya jauh lebih penting daripada sekadar terpikat oleh penampilannya. (*)






