Jejak KataLiputan

Rupiah Tertekan Dua Hari Usai MSCI Soroti Pasar Modal Indonesia

×

Rupiah Tertekan Dua Hari Usai MSCI Soroti Pasar Modal Indonesia

Sebarkan artikel ini
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti | Foto: Dok. Abimanyu

JEJAK KATA, Jakarta — Nilai tukar rupiah sempat tertekan selama dua hari setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Bank Indonesia (BI) mengakui perkembangan tersebut turut memengaruhi pergerakan rupiah. Meski demikian, bank sentral menilai tekanan yang terjadi masih dalam batas normal, di tengah kondisi pasar regional yang juga kurang kondusif.

“MSCI tentu menjadi perhatian kita juga. Kami juga melakukan asesmen dan memang sempat dua hari juga rupiah mengalami tekanan pada saat itu,” kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.

Destry mengatakan BI terus memantau perkembangan pasar keuangan, termasuk arus modal keluar atau capital outflow setelah pengumuman MSCI. Bank sentral juga membahas respons kebijakan untuk mengantisipasi dampak perubahan sentimen investor.

Namun, menurut Destry, tekanan terhadap rupiah tidak bisa dilepaskan dari situasi pasar regional yang sedang menghadapi kondisi kurang menguntungkan.

“Kami juga melakukan pembahasan secara intensif untuk menentukan respons kebijakan yang tepat dalam menghadapi dinamika pasar keuangan,” ujarnya.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupaya merespons kekhawatiran investor melalui reformasi pasar modal. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan lembaganya memperkuat transparansi, integritas, likuiditas, serta penegakan hukum untuk meningkatkan kepercayaan investor.

OJK, kata Friderica, menghormati penilaian independen MSCI dan berkomitmen menindaklanjuti berbagai persoalan yang menjadi perhatian lembaga penyedia indeks global tersebut.

“Kepercayaan investor harus dibangun melalui tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan,” kata Friderica.

Ia menegaskan reformasi pasar modal harus menghasilkan perubahan konkret dan terukur. Tujuannya, membangun pasar yang adil, transparan, kompetitif, serta memiliki kredibilitas di mata investor internasional.

Friderica juga menyatakan fundamental pasar modal Indonesia masih kuat. Kapitalisasi pasarnya mencapai sekitar US$ 589 miliar, terbesar kedua di ASEAN. Jumlah investor tercatat mencapai 31,1 juta.

Kinerja perusahaan tercatat pun menunjukkan pertumbuhan positif. Dalam periode 12 bulan hingga Juni 2026, pendapatan perusahaan tercatat tumbuh 15,9 persen, sedangkan laba bersih meningkat 16,3 persen.

Meski demikian, besarnya kapitalisasi pasar dan pertumbuhan kinerja emiten belum menghapus persoalan yang menjadi sorotan MSCI. Lembaga tersebut menyoroti transparansi kepemilikan saham serta dugaan praktik perdagangan terkoordinasi yang memunculkan pertanyaan mengenai kelayakan investasi di pasar modal Indonesia.

Risiko penurunan klasifikasi menjadi perhatian karena dapat memengaruhi posisi saham Indonesia dalam indeks global. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi keputusan investor institusi internasional dalam mengalokasikan dana ke pasar saham domestik.

Bagi otoritas keuangan, tantangannya bukan sekadar meredam tekanan rupiah dalam jangka pendek. Kejelasan kepemilikan saham, integritas perdagangan, dan keterbukaan informasi menjadi pekerjaan penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia. (*

Tinggalkan Balasan