EsaiJejak Kata

Rocky Gerung dan Nasib Kritik: Tajam Saat di Luar, Adem Ketika di Dalam?

×

Rocky Gerung dan Nasib Kritik: Tajam Saat di Luar, Adem Ketika di Dalam?

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

OPINI — Rocky Gerung sedang berada di laboratorium politik yang menarik. Dulu, termometernya rajin mengukur suhu pemerintahan Jokowi. Sedikit panas, kritik meluncur. Kini ketika pemerintahan berganti, publik mulai bertanya: termometernya masih bekerja atau baterainya mulai lemah?

Pegiat media sosial Jonru Ginting menilai Rocky tak lagi setajam dulu terhadap kekuasaan. Bahkan muncul istilah “masuk angin”.

Tentu, itu penilaian Jonru, bukan hasil pemeriksaan dokter. Belum ada laboratorium yang mampu menguji kadar angin kekuasaan dalam tubuh seorang intelektual.

Perubahan sikap sendiri bukanlah kejahatan. Orang boleh berubah pikiran. Tetapi publik juga berhak menguji konsistensinya.

Sebab menjadi kritikus itu mudah ketika berdiri di luar pagar. Justru yang sulit adalah tetap kritis ketika pintu pagar mulai terbuka dan kursi di dalam terlihat empuk.

Rocky dikenal sebagai pesilat kata. Diksinya bisa membuat kalimat sederhana terdengar seperti kuliah filsafat. Tapi pada akhirnya, publik tak hanya membaca kata. Mereka juga melihat arah angin.

Dan politik punya hukum alam sendiri: angin bisa berubah, tetapi jejak langkah tetap bisa dibaca.

Soal dugaan adanya pihak yang dulu melindungi Rocky, sebaiknya jangan buru-buru dipercaya. Tanpa bukti, dugaan tetaplah dugaan. Jangan sampai kritik kepada Rocky malah ikut masuk angin karena terlalu banyak spekulasi.

Ada pertanyaan sederhananya tetapi cukup menarik: Apakah kritik masih tajam ketika yang berkuasa bukan lagi lawan, melainkan kawan? Sebab kalau pisau kritik hanya tajam ke satu arah, mungkin yang bermasalah bukan pisaunya. Bisa jadi sarungnya. (*


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *