KULINER — Di Surabaya, pagi bukan sekadar pergantian jam. Ia bisa dimulai dari kepulan kuah soto, aroma rawon yang pekat, atau secangkir kopi tarik yang datang bersama roti panggang kaya.
Memang, bagi sebagian orang, sarapan cukup dengan kopi dan roti. Namun, bagi warga Surabaya, urusannya bisa lebih serius: semangkuk soto lengkap dengan jeroan, nasi campur dengan lauk bertumpuk, atau bubur ayam, biasanya harus disantap sebelum matahari terlalu tinggi.
Untuk memenuhi kebutuhan itu, sejumlah tempat masih menjadi pilihan favorit dan menjadi tujuan sejak pagi.
Soto, Bubur, dan Kuah yang Mengundang Lapar
Soto Ayam Cak To di Undaan Wetan menjadi salah satu pilihan bagi pencinta sarapan berkuah. Tempat ini dikenal menyajikan soto ayam bergaya Lamongan dengan kuah kuning berbumbu kuat. Taburan koya bisa ditambahkan sesuai selera.
Tempat ini mulai melayani pelanggan sejak sekitar pukul 05.30 WIB. Waktu yang tepat bagi mereka yang percaya bahwa sarapan terbaik adalah sarapan sebelum rasa lapar berubah menjadi keputusan impulsif.
Pilihan lain adalah Bubur Ayam Spensix Bang Salim. Warung yang pernah berpindah lokasi ini tetap mempunyai pelanggan setia. Buburnya bercita rasa gurih dengan taburan ayam dan kacang sebagai pelengkap.
Di Jalan Jawa, kawasan Gubeng, pelanggan bahkan sudah mulai berdatangan sejak pagi. Bubur ini cocok untuk mereka yang menganggap semangkuk bubur bukan makanan pengantar tidur, melainkan bahan bakar untuk memulai hari.
Kalau ingin sarapan dengan rasa yang lebih “berani”, Rawon Pak Pangat Wonokromo layak masuk daftar. Menu rawon menjadi salah satu kuliner klasik Surabaya yang dicari karena kuah hitamnya yang pekat.
Selain rawon suwiran, tersedia pula rawon krengsengan dengan karakter rasa gurih, manis dan pedas. Tempat sederhana ini mulai buka sekitar pukul 06.30 WIB.
Ketika Sarapan Berarti Makan Besar
Surabaya juga mempunyai tradisi sarapan yang tidak mengenal istilah “sedikit saja”.
Depot Nasi Campur Pojok Tambak Bayan, misalnya, menyajikan nasi campur komplit dengan berbagai lauk. Empal, telur semur, tahu hingga soun goreng menjadi teman nasi.
Porsinya cocok bagi mereka yang setelah sarapan langsung menghadapi pekerjaan, perjalanan panjang, atau sekadar menghadapi kemacetan Surabaya yang kadang lebih membutuhkan energi daripada rapat pagi.
Ada pula Nasi Kuning Avon. Sajian ini menawarkan karakter berbeda dari nasi kuning yang umum dijumpai di Jawa. Nasi beraroma rempah dipadukan dengan lauk seperti tongkol pedas dan sambal.
Buka sejak sekitar pukul 05.30 WIB, tempat ini bisa menjadi pilihan bagi pemburu sarapan yang ingin sesuatu yang lebih nendang.
Kopitiam: Sarapan Lama dengan Wajah Baru
Surabaya juga punya wajah sarapan yang lebih modern. Salah satunya Ah Pek Kopitiam di Jalan Tunjungan.
Berada di kawasan bersejarah, kopitiam ini menawarkan menu seperti kopi butter, kaya toast, egg tart dan nasi lemak ayam rempah. Konsepnya cocok bagi mereka yang selesai berolahraga pagi atau sekadar ingin memulai hari dengan kopi sambil menikmati suasana pusat kota.
Ada pula Kedai Kopi, kopitiam modern yang beroperasi 24 jam. Menu bubur bakar claypot menjadi salah satu pilihan sarapan. Bubur disajikan panas dengan pilihan topping, lalu ditemani kopi tarik.
Di sini, sarapan tidak lagi sekadar soal kenyang. Ia juga soal tempat, suasana, dan tentu saja foto yang tidak buru-buru dihapus dari galeri.
Jangan Kesiangan!
Untuk kuliner pagi yang sudah dikenal luas, datang terlalu siang bisa menjadi perjudian. Soto, bubur, atau nasi campur tertentu dapat ramai sejak pagi.
Jika ingin lebih leluasa, datang sebelum pukul 07.30 WIB bisa menjadi pilihan. Akhir pekan biasanya menjadi waktu ketika meja makan lebih cepat terisi.
Sebab di Surabaya, sarapan bukan sekadar urusan mengganjal perut. Ia adalah cara kota ini mengatakan selamat pagi—dengan kuah panas, nasi mengepul, sambal, dan secangkir kopi.
Dan seperti banyak hal di kota besar, untuk mendapatkan yang enak, ada satu hukum tidak tertulis: datang lebih awal atau bersiap melihat orang lain makan lebih dulu. (*






