JEJAK KATA, Tangerang – Ada ungkapan Jawa yang sederhana, tetapi maknanya dalam: “Wong Jowo kuwi ojo nganti ilang Jawane.” Orang Jawa jangan sampai kehilangan kejawaannya. Barangkali, kalimat itu sangat pas disematkan kepada Sukardiyo, tokoh masyarakat asal Gunungkidul yang kini menetap dan berkarya di Kabupaten Tangerang.
Di tengah deretan bangunan modern, kawasan industri, dan perumahan yang terus menjamur, Pakde Kardiyo begitulah panggilan akrabnya, justru memilih menghadirkan sepotong Gunungkidul di tempat kerjanya. Bukan lewat spanduk bertuliskan “Selamat Datang di Gunungkidul“, melainkan dengan sesuatu yang lebih mengena: sebuah bangunan Joglo dari kayu jati asli yang didatangkan langsung dari kampung halamannya.
Begitu melangkah masuk, aroma kayu jati yang khas langsung menyapa. Dinding, tiang atau soko guru khas rumah tradisional Jawa seolah membawa siapa pun pulang ke desa-desa di lereng Pegunungan Sewu. Rasanya bukan sedang berada di Kabupaten Tangerang, melainkan sedang mampir ngopi di sebuah rumah Joglo di Gunungkidul.
Kalau sudah begini, istilah “obat kangen kampung” bukan lagi sekadar pepatah. Pakde Kardiyo benar-benar meraciknya menjadi sebuah ruang yang hidup.
Wayang Bukan Sekadar Pajangan
Rumah Joglo itu bukan satu-satunya yang membuat tempat tersebut istimewa. Di berbagai sudut ruangan berjajar koleksi wayang kulit. Tokoh-tokoh Pandawa seperti Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa berdiri anggun. Sesekali terlihat pula sosok Kresna yang penuh kebijaksanaan hingga Semar yang sederhana tetapi sarat makna.
Bagi sebagian orang, wayang mungkin hanya dianggap dekorasi klasik yang cocok dipasang di ruang tamu. Tetapi bagi Pakde Kardiyo, wayang adalah guru kehidupan.
“Wayang itu bukan benda mati. Di balik tokohnya ada pelajaran tentang hidup,” kira-kira begitu filosofi yang selalu ia pegang.
Tak heran jika ia begitu mencintai seni pertunjukan wayang kulit. Selain merupakan warisan budaya adiluhung Nusantara, wayang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Pengakuan internasional itu justru semakin menguatkan keyakinannya bahwa budaya tidak boleh hanya dipajang di museum, melainkan harus tetap hidup di tengah masyarakat.
Dari Bayangan Menuju Cahaya
Menariknya, kecintaan Pakde Kardiyo terhadap wayang bukan sekadar romantisme masa kecil. Ia memahami bahwa wayang menyimpan filosofi yang sangat dalam. Kata wayang dipercaya berasal dari kata bayangan, yang melambangkan jiwa dan pikiran manusia. Ada pula tafsir yang mengaitkannya dengan istilah ma hyang, perjalanan manusia menuju Sang Pencipta.
Maka jangan heran jika dalam setiap lakon wayang selalu ada pertarungan antara baik dan buruk. Bukan sekadar perang Pandawa melawan Kurawa, melainkan perang yang sesungguhnya terjadi di dalam diri manusia.
Bima mengajarkan keteguhan. Arjuna mengajarkan ketelitian dan pengendalian diri. Yudhistira mengajarkan kejujuran. Semar mengajarkan bahwa kebijaksanaan sering kali hadir dalam kesederhanaan. Sedangkan Kurawa mengingatkan bahwa keserakahan, kesombongan, dan hawa nafsu yang tak terkendali pada akhirnya hanya akan membawa kehancuran.
Itulah mengapa orang Jawa sering mengatakan, “Urip iku mung mampir ngombe.” Hidup hanyalah persinggahan. Yang abadi bukan jabatan, bukan kekayaan, melainkan jejak kebaikan.
Modern Boleh, Akar Jangan Dicabut
Kabupaten Tangerang kini berkembang pesat. Kota-kota mandiri tumbuh, gedung menjulang, pusat perbelanjaan semakin ramai. Modernisasi menjadi sesuatu yang tak bisa dihindari.
Namun di tengah perubahan itu, Pakde Kardiyo menunjukkan bahwa menjadi modern tidak berarti harus melupakan akar budaya. Justru identitas lokal menjadi penyeimbang agar manusia tidak kehilangan arah. Sebab kemajuan tanpa budaya ibarat rumah megah tanpa pondasi—indah dipandang, tetapi rapuh ketika diterpa zaman.
Joglo yang ia bangun bukan sekadar arsitektur tradisional. Ia adalah simbol bahwa sejauh apa pun seseorang merantau, kampung halaman tetap memiliki ruang di hati.
“Ojo Lali Asale”
Ada pepatah Jawa yang berbunyi, “Kacang ojo ninggal lanjaran.” Jangan menjadi kacang yang lupa pada para-para tempat ia tumbuh. Pakde Kardiyo tampaknya memahami betul falsafah itu. Ia merawat budaya bukan dengan pidato panjang, melainkan lewat tindakan sederhana: membangun Joglo, mengoleksi wayang, bercerita tentang filosofi hidup, dan mengenalkan warisan leluhur kepada siapa saja yang datang berkunjung.
Di zaman ketika budaya asing begitu mudah masuk melalui layar gawai, upaya seperti ini terasa semakin berharga. Sebab melestarikan budaya tidak selalu harus lewat festival besar atau seremoni megah. Kadang cukup dengan menjaga satu pendopo, merawat beberapa lembar wayang, lalu mengajak orang duduk, minum teh hangat, dan mendengarkan kisah Pandawa.
Karena sejatinya, wayang tidak pernah hanya bercerita tentang masa lalu. Ia selalu berbicara tentang hari ini—tentang manusia yang terus belajar memilih antara kebenaran dan keserakahan, antara kebijaksanaan dan ambisi.
Dan mungkin, di situlah letak pesan terbesar yang ingin diwariskan Pakde Kardiyo: modernisasi boleh melaju sekencang-kencangnya, tetapi budaya jangan sampai tertinggal. Sebab orang yang tahu ke mana ia akan melangkah adalah mereka yang tidak pernah lupa dari mana ia berasal.
“Nguri-uri kabudayan iku dudu mung tugas seniman, nanging tanggung jawab kabeh.” Melestarikan budaya bukan hanya tugas para seniman, melainkan tanggung jawab kita semua. (*






