JEJAK KATA, Jakarta — Cerita tentang Indonesia tak selalu lahir dari studio besar. Di tangan kreator, kisah tentang budaya, keseharian, identitas, dan harapan bisa bermula dari layar ponsel—lalu berakhir di bioskop.
Itulah yang ditunjukkan AI Content Fest 2026 yang digelar CapCut di CGV Grand Indonesia, Jakarta. Sepuluh film pendek karya kreator dari berbagai daerah diputar di layar ScreenX dalam ajang bertema “Small Stories. Big Screen. One Nation”.
Festival ini menjadi ruang pertemuan antara kreativitas manusia dan teknologi AI. Para finalis menggunakan berbagai fitur CapCut untuk mengembangkan ide, visual, hingga penyuntingan film.
Karya mereka kemudian mendapat penilaian dari sejumlah pelaku industri kreatif, antara lain Angga Dwimas Sasongko, Mouly Surya, Upie Guava, Dinda Prasetyo, dan Gustav Anandhita.
Delapan penghargaan diberikan, termasuk Best Story, Best Visual, Best AI Micro Film, Next Icon Award, dan Most Popular AI Microfilm.
Di tengah perdebatan apakah AI akan menggantikan manusia dalam industri kreatif, festival ini menawarkan jawaban yang lebih sederhana: teknologi boleh membantu mengerjakan, tetapi rasa tetap milik manusia.
Sutradara Mouly Surya, aktor Lukman Sardi, dan kreator Gustav Anandhita menilai AI dapat mempercepat eksplorasi ide dan produksi. Namun, keputusan kreatif tetap berada di tangan pembuat karya.
CapCut juga menampilkan kolaborasinya dengan musisi Raim Laode melalui video musik berbasis AI untuk lagu Dunia Yang Nanti.
Dari layar ponsel menuju layar bioskop, festival ini seperti mengingatkan satu hal: cerita besar kadang memang dimulai dari layar yang kecil. (*






