Jejak KataSeni dan Hiburan

Nasirun, Impian yang Tuntas Setelah Pergi: Bersimpuh di Kaki Para Guru

×

Nasirun, Impian yang Tuntas Setelah Pergi: Bersimpuh di Kaki Para Guru

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

SENI — Ada seniman yang meninggalkan lukisan. Ada pula yang meninggalkan cara memandang dunia. Nasirun termasuk yang kedua.

Kepergiannya pada 1 Agustus 2026 tidak serta-merta menutup percakapan tentang karyanya. Justru sebuah pameran di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, membuka kembali dialog yang selama hidupnya ingin ia lakukan: bertemu dengan para guru yang membentuk jalan keseniannya.

Pameran tunggal “Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru” berlangsung 13 September–11 Oktober 2026. Judulnya terdengar rendah hati, bahkan seperti seorang murid yang sengaja menanggalkan gelar kemahirannya.

Di ruang pamer, karya-karya Nasirun berdampingan dengan karya para seniman yang ia hormati—dari Affandi, Hendra Gunawan, Djoko Pekik, Ahmad Sadali, S. Sudjojono, Widayat hingga Zaini.

Ini bukan sekadar pameran penghormatan. Ia seperti ruang kelas yang gurunya telah tiada, tetapi papan tulisnya masih penuh coretan.

Nasirun tumbuh dari persilangan yang tidak sederhana. Cerita pewayangan yang diwariskan ibunya bertemu dengan nilai tasawuf dari sang ayah. Pendidikan seni di Yogyakarta kemudian memberinya perangkat untuk mengolah warisan itu menjadi bahasa visualnya sendiri.

Di tangannya, tradisi tidak menjadi benda museum. Wayang, spiritualitas, simbol, dan kehidupan sehari-hari berkelindan menjadi lukisan dan karya rupa yang penuh warna, figur, serta lapisan makna.

Karya Persembahan untuk Bathara Guru misalnya, telah menjadi koleksi Galeri Nasional Indonesia sejak 2013. Judulnya seperti merangkum sikap Nasirun terhadap dunia seni: berkarya bukan hanya soal menunjukkan kemampuan, tetapi juga mengakui dari mana pengetahuan itu datang.

Ada ironi kecil dalam pameran ini.

Nasirun ingin berpameran bersama para gurunya ketika masih hidup. Keinginan itu baru terwujud ketika namanya sudah ditulis dengan tanda kurung tahun kelahiran dan kematian: 1965–2026.

Barangkali begitulah seni bekerja. Seniman bisa pergi, tetapi gagasannya tidak mengenal tanggal kedaluwarsa.

Di antara karya para maestro, Nasirun akhirnya bukan lagi sekadar murid. Ia justru tampak seperti seseorang yang telah menemukan tempatnya dalam percakapan panjang seni rupa Indonesia.

Ia bersimpuh di kaki para guru. Tetapi dari lantai tempat ia bersimpuh itulah, karya-karyanya berdiri tegak. (*


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *