JEJAK KATA, Jakarta — Data iklim tak cukup berhenti sebagai prakiraan cuaca. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendorong informasi iklim dipakai untuk menentukan waktu tanam, memilih komoditas, mengatur kebutuhan air, hingga menghitung kebutuhan pupuk.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, pendekatan berbasis data semakin penting di tengah ancaman banjir, kekeringan, dan perubahan kalender tanam. Lebih dari 90 persen bencana di Indonesia, kata dia, merupakan bencana hidrometeorologi.
“Informasi iklim hadir untuk menjawab dua pertanyaan penting, yaitu kapan waktu yang tepat untuk menanam dan di mana produksi paling berpeluang berhasil,” ujar Faisal dalam diskusi yang digelar Pupuk Indonesia di Jakarta, Senin, 14 September 2026.
Menurut Faisal, perencanaan pertanian tak bisa diseragamkan. Indonesia memiliki 699 Zona Musim dengan karakteristik berbeda. Karena itu, informasi iklim perlu diterjemahkan menjadi keputusan spesifik di tiap wilayah, termasuk untuk menentukan waktu dan distribusi pupuk.
Kondisi iklim saat ini juga menjadi perhatian. BMKG menyebut El Niño pada Juli–September 2026 berada dalam kategori sangat kuat. Sebanyak 451 Zona Musim atau sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan di bawah normal pada periode tersebut.
BMKG dan Pupuk Indonesia pun didorong memperkuat integrasi data iklim dalam perencanaan kebutuhan serta distribusi pupuk. Tujuannya sederhana: pupuk tersedia ketika petani membutuhkannya, bukan setelah musim tanam lewat. (*
Sumber: BMKG






