Liputan

Gempa Flores Mulai Mereda, BMKG Petakan Dampak dan Tsunami

×

Gempa Flores Mulai Mereda, BMKG Petakan Dampak dan Tsunami

Sebarkan artikel ini
Plh. Deputi Bidang Geofisika, Ardhasena Sopaheluwakan dalam Konferensi Pers Pemuktahiran Pascagempa Flores M7,7 di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta | Foto: Dok. BMKG

JEJAK KATA, Jakarta — Gempa susulan setelah gempa magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur, mulai meluruh. Namun jejak kerusakan dan tsunami yang ditinggalkannya menjadi catatan penting untuk mitigasi dan rekonstruksi.

BMKG mencatat 15.722 gempa susulan hingga Selasa, 15 September 2026 pukul 05.00 WIB. Sebanyak 190 di antaranya dirasakan warga. Frekuensinya terus turun dari 5.011 kejadian pada pekan pertama menjadi 2.421 pada pekan keempat.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan gempa bermagnitudo 5 ke atas yang sempat mencapai 26 kejadian kini tak lagi tercatat dalam sepekan terakhir. Gempa yang lebih kecil masih mungkin terjadi dalam beberapa pekan hingga bulan mendatang.

“Estimasi ini merupakan kecenderungan statistik peluruhan, bukan perkiraan tanggal pasti berakhirnya aktivitas gempa maupun prediksi waktu gempa berikutnya,” ujar Wijayanto dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 15 September 2026.

Gempa utama pada 15 Agustus lalu berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa dangkal itu dipicu Flores Back-Arc Thrust, sesar naik yang juga memicu tsunami.

Survei BMKG pada 15–25 Agustus di tujuh kabupaten menemukan guncangan hingga VII MMI, indikasi likuefaksi di Nagekeo, serta sejumlah kawasan dengan tanah lunak yang berpotensi memperkuat guncangan.

Jejak tsunami ditemukan di sepanjang pantai utara Flores. Tinggi run-up tertinggi mencapai 2,68 meter di Desa Selama, sedangkan genangan terjauh mencapai 145 meter di Nampar Sepang. Sebanyak 23 rumah rusak, tetapi tidak ada korban jiwa akibat tsunami karena warga segera mengungsi setelah peringatan dini dikeluarkan.

BMKG menyatakan data survei tersebut akan menjadi bahan teknis untuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Di wilayah pesisir, masyarakat juga diminta tidak bergantung sepenuhnya pada peringatan dini dan memahami jalur evakuasi mandiri. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *