SENI RUPA — Sebelum namanya masuk ke panggung pameran internasional, Tondi Utama Hasibuan telah menempuh perjalanan panjang di dunia seni rupa. Ia mengolah figur, bentuk, dan warna menjadi bahasa visual yang berangkat dari pendekatan Neo-Cubism. Perjalanan itu membawanya melintasi galeri di sejumlah negara, hingga akhirnya mendapat kesempatan berpameran dalam satu rangkaian program dengan Pablo Picasso, maestro yang mengubah arah seni modern.
Lahir pada 10 September 1977, Tondi bukan pelukis yang hanya menggantungkan diri pada satu medium. Ia juga menekuni fotografi melalui Redfocus Studio serta menjelajahi dunia film sebagai sutradara, produser, dan penulis skenario. Di tengah lintas disiplin itu, lukisan tetap menjadi salah satu jalur penting untuk menyampaikan gagasan artistiknya.
Pendidikan turut membentuk perjalanan tersebut. Tondi pernah menempuh studi seni dan desain di Swinburne University, Melbourne, Australia. Ia kemudian meraih gelar Bachelor of Arts dan Master of Arts dari Birmingham City University, Inggris. Pengalaman belajar di dua negara itu mempertemukannya dengan lingkungan seni yang berbeda, sekaligus memperluas cara pandangnya terhadap praktik berkesenian.
Jejak pamerannya pun merentang dari Inggris hingga Italia, Jepang, dan Spanyol. Pada 2021, ia mengikuti sejumlah pameran di Italia, termasuk di Milan dan Roma. Setahun kemudian, namanya tercatat dalam pameran Master of Masters di Museum Diocesano, Terni, Italia, serta sejumlah agenda seni internasional lainnya.
Di Indonesia, Tondi juga berkiprah di dunia pendidikan. Ia tercatat sebagai pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Budaya Indonesia Bandung. Di luar kampus dan ruang pamer, ia memiliki identitas lain: pemegang takhta adat Raja Huristak XII dari Padang Lawas, Sumatra Utara. Seni modern, pengalaman internasional, dan warisan tradisi bertemu dalam perjalanan hidupnya.
Ketika Tondi Berjumpa dengan Picasso
Salah satu catatan penting dalam perjalanan Tondi terjadi di Skopje, Makedonia Utara. Dalam rangkaian Osten Biennale 2022–2023, ia mendapat kesempatan menggelar pameran tunggal di Osten Gallery pada 23 Januari hingga 5 Februari 2023. Pameran itu menjadi bagian dari program yang juga menampilkan karya Pablo Picasso.
Tondi menampilkan 14 karya figuratif abstrak dalam pameran tersebut. Sebelumnya, dua karya abstraknya dipamerkan di Museum Nasional Makedonia di Skopje. Dalam rangkaian biennale yang melibatkan seniman dari berbagai negara itu, kesempatan berpameran bersama nama besar seperti Picasso menjadi salah satu tonggak dalam perjalanan kariernya.
Bagi Tondi, Picasso bukan sekadar nama yang menghuni buku sejarah seni. Ia mengakui maestro kelahiran Spanyol itu sebagai salah satu sumber inspirasinya. Pengaruh tersebut terasa dalam pilihannya menekuni Neo-Cubism, pendekatan yang mengolah bentuk dan figur melalui sudut pandang yang tidak selalu tunduk pada representasi realistis.
Kubisme, yang berkembang melalui eksperimen Picasso dan Georges Braque pada awal abad ke-20, mengubah cara objek dipahami dan digambarkan. Bentuk tidak lagi harus tampil dari satu sudut pandang. Ia bisa dipecah, disusun ulang, lalu dirakit menjadi kenyataan visual yang baru.
Namun, terinspirasi Picasso bukan berarti harus menjadi Picasso kedua. Tantangan bagi Tondi justru terletak pada bagaimana pengaruh itu diolah menjadi karakter artistik sendiri. Sebab, panggung internasional boleh membuka pintu, tetapi identitas seorang pelukis pada akhirnya ditentukan oleh karya-karyanya.
Setiap 25 Oktober, Hari Seniman Internasional diperingati sebagai penghormatan terhadap kreativitas dan peran seniman dalam kehidupan manusia. Perayaan ini menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan para pelukis yang melintasi batas negara, termasuk Tondi Hasibuan.
Picasso memang menjadi salah satu nama besar yang lekat dengan sejarah seni modern. Namun, peringatan Hari Seniman Internasional bukanlah peringatan hari lahir Picasso—ia lahir pada 25 Oktober 1881—melainkan momentum yang kini dikaitkan dengan penghormatan kepada para seniman lintas disiplin.
Bagi Tondi, kesempatan tampil dalam program pameran yang sama dengan Picasso adalah bagian dari perjalanan, bukan garis finis. Dari ruang belajar hingga galeri internasional, ia terus membawa pengalaman dan identitasnya sendiri. Sebab, dalam dunia seni, berdiri dekat dengan seorang maestro adalah kehormatan; membangun suara yang khas adalah pekerjaan yang sesungguhnya. (*






