ESAI — Setiap Oktober, Sumpah Pemuda kembali dipanggil dari lemari sejarah. Tiga ikrar dibacakan, bendera dikibarkan, foto bersama diunggah ke media sosial. Setelah itu, semuanya kembali seperti semula. Para pejabat melanjutkan pidato, para siswa kembali ke kelas, sementara anak muda kembali bergulat dengan persoalan yang tak selesai hanya dengan menyebut satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.
Barangkali bukan anak muda yang melupakan sejarah. Bisa jadi sejarah yang terlalu sering disajikan dengan cara membosankan, seolah-olah 28 Oktober 1928 hanya urusan seragam, teks hafalan, dan perlombaan membuat poster.
Padahal, Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa ketika sekumpulan anak muda berkumpul lalu mengucapkan ikrar. Ia adalah keberanian untuk mendahulukan kepentingan bersama di tengah perbedaan. Sebuah keputusan politik yang lahir dari kesadaran bahwa masa depan tidak mungkin dibangun jika setiap kelompok sibuk mengurus kepentingannya sendiri.
Kini, hampir seabad kemudian, tantangannya berubah. Penjajah tidak selalu datang membawa senapan dan kapal perang. Sebagian persoalan justru tumbuh dari dalam: ketimpangan kesempatan, mahalnya pendidikan, sulitnya mencari pekerjaan, ketidakpastian masa depan, serta krisis kepercayaan terhadap mereka yang mengaku mewakili kepentingan rakyat.
Anak muda diminta menjadi generasi emas. Namun, sebagian masih sibuk mencari lowongan kerja, menghitung ongkos kuliah, membayar cicilan, atau bertanya-tanya apakah gaji bulan depan cukup untuk hidup di kota yang harga sewanya terus naik.
Di tengah situasi seperti itu, mereka masih harus mendengar nasihat agar tidak apatis, rajin berkarya, dan mencintai bangsa. Nasihat yang baik, tentu saja. Tetapi nasionalisme tidak semestinya menjadi pekerjaan tambahan bagi mereka yang bahkan sedang kesulitan menyusun rencana hidup.
Jangan buru-buru menyalahkan generasi yang dianggap kehilangan semangat. Periksa juga keadaan yang membuat semangat itu sulit tumbuh.
Nasionalisme di antara tagihan dan algoritma
Anak muda hari ini hidup dalam dunia yang bergerak lebih cepat daripada kemampuan banyak institusi untuk memahami mereka. Di layar ponsel, mereka bisa menyaksikan perang, korupsi, krisis iklim, pemutusan hubungan kerja, hingga perdebatan politik dalam hitungan detik.
Informasi melimpah. Kepastian justru langka.
Pagi hari, mereka membaca berita tentang peluang ekonomi digital. Siangnya, linimasa dipenuhi kabar perusahaan melakukan efisiensi. Malamnya, muncul video motivasi yang menyarankan mereka bekerja keras, bangun pukul lima, dan menjadi kaya sebelum usia tiga puluh tahun.
Jika belum berhasil, kesalahannya seolah-olah terletak pada kurangnya disiplin pribadi. Struktur ekonomi, ketimpangan akses, dan terbatasnya kesempatan kerja jarang masuk dalam video berdurasi satu menit.
Algoritma memang tidak pernah kehabisan nasihat. Ia hanya tidak berkewajiban menyediakan pekerjaan.
Di ruang digital, persoalan lain ikut berkembang. Popularitas sering lebih cepat dihargai daripada kedalaman pemikiran. Konten sensasional mengalahkan penjelasan yang rumit. Perdebatan berubah menjadi pertandingan saling mempermalukan, sementara persoalan publik yang membutuhkan perhatian panjang tenggelam di antara video hiburan dan tren sesaat.
Tentu, tidak semua anak muda terjebak dalam pola tersebut. Banyak yang membangun usaha, mengembangkan teknologi, mengorganisasi gerakan sosial, mengadvokasi lingkungan, dan menghidupkan komunitas lokal. Namun, ruang digital yang bising membuat kerja-kerja semacam itu kadang kalah terlihat dibandingkan kegaduhan.
Di sinilah makna Sumpah Pemuda perlu dibaca ulang. Persatuan pada masa kini bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Persatuan justru diuji ketika orang berbeda pandangan, tetapi tetap bersedia mendengar, memeriksa fakta, dan bekerja untuk kepentingan bersama.
Ketika keteladanan menjadi barang langka
Sulit meminta anak muda menghormati integritas jika mereka berkali-kali menyaksikan figur publik terseret dugaan penyimpangan, pejabat sibuk membangun citra, atau perdebatan politik lebih ramai daripada penyelesaian masalah masyarakat.
Tentu, setiap dugaan pelanggaran harus dibuktikan melalui proses yang adil. Kritik terhadap pejabat juga tidak boleh berubah menjadi penghakiman tanpa dasar. Namun, persoalan keteladanan tetap layak dibicarakan ketika perilaku pemegang kekuasaan tidak sejalan dengan nilai yang mereka ucapkan.
Anak muda tidak kekurangan slogan tentang kejujuran. Mereka hanya berhak bertanya mengapa kejujuran kerap terdengar begitu lantang di podium, tetapi terasa begitu mahal ketika berhadapan dengan kepentingan.
Mereka juga tidak selalu apatis ketika memilih menjauh dari politik praktis. Bisa jadi mereka sedang kehilangan kepercayaan terhadap cara politik dijalankan. Ketika aspirasi hanya didengar menjelang pemilihan, kritik dianggap gangguan, dan partisipasi publik berhenti pada formalitas, ketidakpedulian menjadi salah satu respons yang mungkin muncul.
Namun, menjauh sepenuhnya dari persoalan publik juga berisiko. Keputusan tentang pendidikan, pekerjaan, transportasi, lingkungan, dan ruang digital tetap memengaruhi kehidupan mereka, bahkan ketika mereka memilih tidak ikut membicarakannya.
Politik boleh terasa melelahkan. Tetapi mengabaikannya tidak membuat akibat keputusan politik ikut menghilang.
Melawan apatisme, bukan memusuhi zaman
Perjuangan generasi muda hari ini tidak harus meniru persis perjuangan para pemuda pada 1928. Mereka tidak diwajibkan mengenakan pakaian serupa, mengulang kata-kata yang sama, atau membuktikan cinta tanah air dengan seremoni yang semakin megah.
Mereka membutuhkan ruang untuk menciptakan bentuk perjuangannya sendiri.
Melawan hoaks, misalnya, bisa menjadi tindakan kebangsaan. Memeriksa sumber sebelum membagikan informasi merupakan cara sederhana menjaga ruang publik agar tidak dipenuhi kebencian dan manipulasi.
Membangun usaha, menciptakan lapangan kerja, mengembangkan teknologi, dan memperkuat ekonomi komunitas juga merupakan bentuk kontribusi. Begitu pula menjaga lingkungan, mendampingi kelompok rentan, mengawasi kebijakan publik, serta merawat keberagaman di tengah masyarakat yang mudah terbelah oleh identitas.
Tidak semua perjuangan harus viral. Tidak semua kontribusi membutuhkan panggung. Kadang-kadang, perubahan dimulai dari seseorang yang berani menolak pungutan tidak semestinya, sekelompok mahasiswa yang mengadvokasi persoalan kampus, atau warga muda yang mengorganisasi pengelolaan sampah di lingkungannya.
Tetapi tanggung jawab tidak boleh hanya dibebankan kepada generasi muda. Sekolah perlu mengajarkan sejarah sebagai pengalaman berpikir, bukan sekadar bahan ujian. Pemerintah perlu membuka ruang partisipasi yang sungguh-sungguh. Dunia kerja perlu menyediakan kesempatan yang lebih adil. Para pemimpin perlu memberi contoh bahwa integritas bukan aksesori pidato.
Dan masyarakat perlu berhenti menganggap setiap kritik anak muda sebagai tanda kurang ajar. Bisa jadi, kritik itu justru menunjukkan bahwa mereka masih peduli.
Sumpah Pemuda bukan obat untuk semua masalah
Ada kecenderungan memperlakukan sejarah sebagai obat serbaguna. Ketika masyarakat terpecah, kita menyerukan persatuan. Ketika anak muda kehilangan arah, kita mengingatkan perjuangan masa lalu. Ketika kepercayaan publik menurun, kita mengulang kata-kata tentang pengorbanan para pendahulu.
Semua itu penting, tetapi tidak cukup.
Sumpah Pemuda tidak akan otomatis membuat biaya pendidikan lebih terjangkau, menciptakan lapangan kerja, memberantas korupsi, atau menyelesaikan ketimpangan. Nilai sejarah membutuhkan kebijakan, institusi yang dapat dipercaya, dan tindakan nyata agar tidak berhenti sebagai kalimat indah.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah anak muda masih hafal isi Sumpah Pemuda. Persoalan yang lebih penting ialah apakah mereka memiliki kesempatan untuk mewujudkan semangatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada 1928, para pemuda berani membayangkan sebuah bangsa ketika kemerdekaan masih menjadi cita-cita. Generasi sekarang menghadapi pekerjaan berbeda: memastikan bangsa yang sudah merdeka ini menyediakan masa depan yang layak bagi warganya.
Mereka tidak harus selalu terlihat heroik. Mereka boleh lelah, kecewa, bahkan sesekali ingin menutup media sosial dan berhenti mendengar pidato motivasi. Yang perlu dijaga adalah agar kelelahan itu tidak berubah menjadi penyerahan diri terhadap ketidakadilan.
Sebab, ancaman terbesar bagi semangat Sumpah Pemuda bukanlah anak muda yang berbeda selera musik, bahasa pergaulan, atau pilihan gaya hidup. Ancaman itu muncul ketika kepentingan bersama kehilangan tempat, ketika kritik dianggap musuh, dan ketika masa depan hanya diperlakukan sebagai urusan masing-masing.
Maka, menjelang satu abad Sumpah Pemuda pada 2028, mungkin kita perlu mengurangi seremoni dan memperbanyak pertanyaan. Apa yang sudah disediakan bangsa ini bagi generasi mudanya? Seberapa jauh suara mereka memengaruhi keputusan? Dan apakah para pemimpin bersedia menjalankan nilai yang selama ini mereka minta untuk dihormati?
Sebab, mengajak anak muda mencintai Indonesia jauh lebih masuk akal jika Indonesia juga memberi mereka alasan untuk berharap.
Sumpah Pemuda bukan sekadar warisan untuk diperingati. Ia adalah pekerjaan yang belum selesai. Dan pekerjaan itu tidak bisa diserahkan kepada anak muda sendirian, apalagi sambil menyuruh mereka tersenyum di depan kamera. (*
Oleh: Jejak Kata






