Jejak KataWisata dan Kuliner

Dodol Pak Oyot Ciakar Panongan: Legit Manis yang Bertahan Sejak 1991

×

Dodol Pak Oyot Ciakar Panongan: Legit Manis yang Bertahan Sejak 1991

Sebarkan artikel ini
Dodol Pak Oyot | FOTO: Dok.Istimewa

JEJAK KATA, Tangerang — Legitnya menempel di lidah. Manisnya datang belakangan, lalu menetap cukup lama. Begitulah dodol bekerja: sederhana bahannya, tetapi tidak sederhana proses membuatnya. Di Panongan, Kabupaten Tangerang, rasa itu masih dirawat dalam sepotong dodol warisan Haji M. Murod: Dodol Pak Oyot.

Bagi mereka yang hendak pulang kampung, dodol ini bisa menjadi tentengan. Bagi tuan rumah, ia dapat berubah menjadi suguhan. Dan bagi pembuatnya, dodol bukan sekadar panganan berbahan beras ketan, melainkan resep keluarga yang diwariskan sejak lebih dari tiga dekade lalu.

Tempat produksi Dodol Pak Oyot berada di Kampung Cukanggalih RT 04/001, Desa Ciakar, atau sekitar satu kilometer dari kawasan CitraRaya. Usaha ini dirintis pada 1991 oleh Haji Murod alias Pak Oyot. Kini, tongkat estafet berada di tangan Samsyul Bahri, generasi kedua.

Syamsul Bahri, pemegang estafet Dodol Pak Oyot

Pergantian pengelola rupanya tidak berarti pergantian rasa. Samsyul masih mempertahankan resep asli yang diwariskan sang perintis. Karena bagi dodol, sedikit saja resep berubah, lidah pelanggan biasanya lebih cepat mengetahui daripada pemilik usaha.

Dodol Pak Oyot dibuat dari bahan dasar beras ketan. Hasil akhirnya memiliki tekstur legit dengan rasa manis yang menjadi cirinya. Resep lama tetap dipertahankan agar cita rasa yang dikenal sejak 1991 tidak ikut menjadi barang kenangan.

Pilihan rasanya pun tidak berhenti pada varian original. Ada dodol dengan taburan wijen yang menjadi salah satu ciri khasnya. Wijen itu bukan sekadar hiasan kosmetik. Taburannya rapat mengelilingi permukaan dodol, membuat tampilannya sekaligus menarik mata dan menggoda selera.

Untuk oleh-oleh, Dodol Pak Oyot juga sudah dikemas sedemikian rupa. Pembeli tidak perlu repot mencari bungkus tambahan sebelum membawanya pulang atau memberikannya kepada orang lain.

Di meja ruang tamu, dodol ini pun punya peran yang lebih sederhana: dipotong, disajikan, lalu perlahan habis. Ia cocok untuk suguhan sehari-hari maupun saat hari raya.

Tiga puluh lima tahun lebih usaha ini berjalan. Zaman berubah, selera bergeser, dan oleh-oleh semakin mudah ditemukan di berbagai tempat. Namun di Cukanggalih, sebuah resep lama masih dipertahankan.

Sebab kadang-kadang, yang membuat sebuah makanan bertahan bukan cuma rasa manisnya. Ada ingatan yang ikut dikunyah di dalamnya—tentang rumah, perjalanan pulang, dan resep yang menolak dilupakan. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *