Jejak KataLiputan

Dari Proyek Kolonial ke Festival Budaya: Menafsir Ulang Jalan Anyer-Panarukan

×

Dari Proyek Kolonial ke Festival Budaya: Menafsir Ulang Jalan Anyer-Panarukan

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI | Ekspresionis proyek Jalan Daendels

JEJAK KATA, Serang — Dua abad lebih setelah Herman Willem Daendels membangun Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan, jejak jalan kolonial itu kini hendak dibaca dengan cara berbeda. Bukan lagi semata sebagai jalur militer dan logistik, melainkan sebagai ruang untuk merawat sejarah, kebudayaan, dan ekonomi masyarakat di sepanjang lintasannya.

Pada 1808, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels memerintahkan pembangunan Groote Postweg atau Jalan Raya Pos. Jalur sepanjang sekitar 1.000 kilometer itu membentang dari Anyer di ujung barat Pulau Jawa hingga Panarukan di Jawa Timur. Salah satu tujuan utamanya ialah memperkuat pertahanan dan mobilitas militer menghadapi ancaman Inggris.

Jalan itu lahir dari kepentingan kolonial. Namun sejarah punya kebiasaan menarik: sesuatu yang dibangun untuk kepentingan penguasa pada suatu masa dapat berubah menjadi ruang kebudayaan bagi masyarakat pada masa berikutnya.

Di Anyar, Kabupaten Serang, perubahan cara pandang itu mulai dirayakan dengan cara budaya, melalui silat dan debus.

Pada Jumat malam, 14 Agustus 2026, halaman Kantor Kecamatan Anyar tidak sekadar menjadi tempat seremoni. Puluhan perguruan atau peguron pencak silat berkumpul. Masing-masing membawa ciri khas gerak dan jurusnya. Debus kemudian menyusul, mengundang warga mendekat dan menyaksikan pertunjukan yang lekat dengan identitas budaya Banten.

Malam itu menjadi kick off Festival Anyer-Panarukan sekaligus dirangkaikan dengan Festival Seni Budaya Silat Terumbu Banten, serta pengukuhan pengurus DPC PPSTB Kecamatan Anyar dan enam padepokan se-Kecamatan Anyar.

Camat Anyar Imron Ruhyadi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk awal dukungan masyarakat terhadap Festival Anyer-Panarukan. Festival itu menjadi bagian dari kerja sama Pemerintah Kabupaten Serang dan Pemerintah Kabupaten Situbondo.

“Ini bentuk dukungan. Ke depan kegiatan Anyar-Panarukan masyarakat Anyar akan mendukung penuh,” kata Imron.

Pilihan silat dan debus bukan tanpa alasan. Anyar bukan hanya nama yang tercetak di titik awal Jalan Raya Pos. Ia juga bagian dari ruang kebudayaan Banten yang memiliki tradisi silat, padepokan, dan debus yang hidup di tengah masyarakat.

Di halaman kantor kecamatan itu, sejarah jalan bertemu dengan sejarah kebudayaan. Jalan yang dahulu digunakan untuk mengirim pasukan dan mempercepat mobilitas pemerintahan kolonial kini coba dihidupkan sebagai jalur yang membawa cerita, tradisi, dan potensi ekonomi masyarakat.

Imron, yang juga Ketua DPD PPSTB Kabupaten Serang, menyebut setiap perguruan menampilkan kekhasannya.

“Dari ciri khas masing-masing silat tiap peguron atau padepokan sampai seni budaya debusnya semua ditampilkan,” ujarnya.

Pertunjukan itu sekaligus memperlihatkan bahwa menghidupkan kembali jalur Anyer-Panarukan tidak cukup dengan memasang penanda kilometer atau merawat bangunan peninggalan sejarah. Ada pekerjaan yang lebih rumit: menemukan kembali ingatan masyarakat yang tumbuh di sepanjang jalur tersebut.

Salah satu penampilan salah satu paguron pada Festival Seni Budaya Silat Terumbu Banten yang merupakan bagian dari kick off Festival Anyer-Panarukan

Jalan, Rute, Akar

Gagasan itu mendapat bentuk melalui program Anyer-Panarukan 3R: Road, Route, Roots. Pemerintah Kabupaten Situbondo dan Pemerintah Kabupaten Serang menandatangani nota kesepahaman pada 29 Juli 2026.

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo dan Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menandatangani MoU tersebut di Pendopo Rakyat Situbondo. Kerja sama itu diarahkan untuk menghidupkan kembali jalur Anyer-Panarukan sebagai koridor pariwisata sejarah, ekonomi kreatif, dan kolaborasi antardaerah.

Konsep Road berbicara tentang jalan sebagai infrastruktur dan jejak sejarah. Route memperlakukannya sebagai lintasan yang menghubungkan berbagai tempat. Sedangkan Roots mengajak melihat akar: kebudayaan, masyarakat, tradisi, dan ingatan yang tumbuh di sepanjang jalur.

Di titik inilah Festival Anyer-Panarukan menemukan relevansinya. Jalan tidak lagi dipandang sekadar sebagai garis yang menghubungkan Anyar dengan Panarukan. Ia dapat menjadi semacam benang merah yang menyambungkan berbagai cerita lokal. Silat dan debus di Anyar adalah salah satu simpulnya.

Imron mengatakan kegiatan berikutnya akan diarahkan lebih besar dengan melibatkan lebih banyak unsur, termasuk organisasi perangkat daerah dan masyarakat.

“Ke depan kita akan coba kegiatan yang lebih meriah lagi dalam rangka Festival Anyer-Panarukan sekaligus melestarikan seni budaya silat,” katanya.

Perwakilan sejumlah organisasi perangkat daerah Kabupaten Serang, antara lain Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata, Dinas Komunikasi dan Informatika, serta Dinas Lingkungan Hidup, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Namun festival sejarah memiliki tantangan yang tidak kecil. Menghidupkan kembali Jalan Raya Pos bukan sekadar menjadikannya latar belakang acara seremonial. Sejarah perlu ditempatkan secara jernih: pembangunan jalan tersebut merupakan bagian dari proyek kolonial yang memiliki beban sosial dan politik bagi penduduk pribumi.

Karena itu, mengemasnya menjadi destinasi wisata sejarah semestinya tidak menghapus sisi kelam tersebut. Justru di sanalah nilai edukasinya.

Masyarakat dapat menikmati festival, menyaksikan silat, mengenal debus, sekaligus memahami bahwa jalan yang mereka pijak memiliki perjalanan sejarah yang panjang—dari proyek pertahanan kolonial menjadi ruang mobilitas masyarakat, lalu dicoba ditafsirkan kembali sebagai koridor budaya.

Dengan begitu, Anyer-Panarukan bukan hanya soal road. Bukan pula sekadar route. Ia membutuhkan roots.

Sebab jalan yang panjang akan kehilangan makna jika manusia yang tinggal di sepanjangnya kehilangan ingatan.

Di Anyar, ingatan itu malam itu bergerak dalam jurus-jurus silat, berdenyut dalam irama pertunjukan debus, dan berkumpul di halaman kantor kecamatan.

Dua ratus tahun lebih setelah Jalan Raya Pos dibangun untuk mempercepat gerak kekuasaan, masyarakat kini mencoba membuat jalan itu bergerak menuju arah lain: membawa sejarah pulang kepada pemilik ingatannya. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *