EsaiJejak Kata

Seragam Tegap, Poster Menggugat: Satpol PP dan Dugaan Pelecehan

×

Seragam Tegap, Poster Menggugat: Satpol PP dan Dugaan Pelecehan

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

ESAI — Di kantor pemerintahan, poster kadang lebih lantang daripada pengeras suara apel. Di lingkungan Satpol PP Kabupaten Tangerang, seruan I Stand With The Victims Against Sexual Assault sempat menempel di sejumlah ruangan. Kalimatnya singkat, tetapi pertanyaannya panjang: ketika dugaan pelecehan seksual muncul, siapa yang bertugas menjaga mereka yang berada di bawah komando?

Ups! Kasatpol PP Kabupaten Tangerang dilaporkan atas dugaan pelecehan seksual terhadap bawahannya. Sejumlah pegawai memasang poster sebagai bentuk solidaritas. Rupanya, disiplin tidak berhenti pada seragam rapi, barisan tegak, dan suara komando. Ada urusan yang lebih mendasar: memastikan kewenangan tidak berubah menjadi ruang yang membuat bawahan merasa tertekan atau tidak aman.

Dinding bisa saja kembali lengang, tetapi perkara yang sedang ditangani mungkin belum selesai. Kantor boleh tampak tenang, sementara proses klarifikasi masih menunggu giliran.

Dalam kerja jurnalistik, dugaan tetaplah dugaan sampai ada proses pemeriksaan dan bukti yang memadai. Karena itu, semua pihak berhak memberikan penjelasan dan memperoleh perlakuan yang adil.

Kepala BKPSDM Kabupaten Tangerang Beni Rachmat, melalui pemberitaan media lokal, membenarkan adanya laporan tersebut. Ia menyatakan yang bersangkutan akan dipanggil untuk dimintai klarifikasi. Penanganan masih berlangsung, sedangkan sanksi belum ditetapkan.

Beni juga menyebut kondisi korban berangsur membaik dan telah kembali bekerja. Namun, pemulihan korban tidak cukup diukur dari kehadiran di meja kerja. Lingkungan birokrasi perlu memastikan perlindungan, kerahasiaan, dan mekanisme pengaduan berjalan secara layak.

Di sinilah seragam dan jabatan diuji. Kekuasaan bukan hanya soal siapa yang memberi perintah, melainkan bagaimana kewenangan digunakan tanpa mengabaikan martabat bawahan. Sebab, ketertiban yang baik bukan sekadar barisan yang rapi, tetapi juga keberanian memastikan setiap orang dapat bekerja dengan aman. Dan poster yang menempel setiap sudut ruangan itu masih menyimpan pertanyaan: apakah solidaritas berhenti di dinding, atau berlanjut dalam proses penanganan yang transparan dan berpihak pada keadilan? (*


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *