KULINER — Tidak semua restoran lahir dari gagasan menjual makanan. Di Jalan Rumah Kayu Goen, Ciakar, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, sebuah ruang kuliner justru tumbuh dari kecintaan terhadap furnitur, seni, dan benda-benda bersejarah.
Dapur Nusantara, yang menjadi bagian dari kawasan Rumah Kayu Goen, merupakan gagasan Goenawan Wijaya. Tempat ini tidak dibangun semata-mata untuk memanjakan lidah pengunjung. Ada cerita panjang tentang koleksi, perjalanan sejarah, dan upaya menghadirkan ruang perjumpaan dengan kebudayaan.
Ipang (56), Manager Operasional Dapur Nusantara, menuturkan bahwa cikal bakal Rumah Kayu Goen bermula setelah Goenawan mengikuti pameran furnitur di Museum Nasional pada 2005. Pameran tersebut menjadi salah satu momentum penting bagi perjalanan karya dan koleksinya.

Berbekal visi untuk mengembangkan sesuatu yang lebih besar, Goenawan kemudian membeli sejumlah bidang tanah secara bertahap. Kawasan yang semula berupa kebun pisang dan masih relatif sepi itu perlahan disulap menjadi ruang yang memiliki karakter tersendiri.
Bangunan Rumah Kebaya menjadi salah satu bagian awal pengembangan kawasan. Di sana, Goenawan menempatkan berbagai koleksi furnitur, benda seni, hingga peninggalan keluarga. Salah satunya mesin uap tua yang didatangkan langsung dari Padang.
“Mesin uap itu memang peninggalan keluarganya, dibawa langsung dari Padang,” kata Ipang saat ditemui, Sabtu, 7 November 2026.
Koleksi-koleksi tersebut kemudian menarik perhatian pengunjung. Namun, ada satu kebutuhan yang mulai terasa: tempat untuk beristirahat dan menikmati makanan setelah berkeliling.

Dari kebutuhan sederhana itulah gagasan Dapur Nusantara muncul. Area yang semula difungsikan sebagai gudang penyimpanan kayu dan furnitur mulai dikembangkan menjadi ruang pelayanan bagi pengunjung.
Awalnya, tempat tersebut dirancang sebagai ruang pernikahan dengan konsep berbeda. Pengunjung dapat menyewa tempat, sementara kegiatan memasak dilakukan secara gotong royong oleh keluarga atau pihak penyelenggara.
Namun, konsep itu memiliki keterbatasan kapasitas. Karena itu, pengelola memutuskan mengembangkan restoran terlebih dahulu, tanpa meninggalkan fungsi awal sebagai tempat pernikahan.
“Fungsinya tetap bisa untuk rumah kawin, tetapi kapasitas sekitar 50 sampai 100 orang masih bisa. Makanannya sekalian kita sediakan secara prasmanan,” ujar Ipang.
Dapur Nusantara mulai beroperasi sekitar satu setengah tahun sebelum wawancara ini. Sejak itu, respons pengunjung dinilai cukup positif. Daya tariknya bukan hanya menu makanan, melainkan suasana kawasan yang menawarkan pengalaman berbeda.
Pengunjung dapat menikmati kuliner sekaligus melihat koleksi seni, furnitur, dan benda-benda bersejarah. Perpaduan tersebut membuat Dapoer Nusantara memiliki karakter yang tidak sepenuhnya sama dengan restoran pada umumnya.
Menurut Ipang, kawasan ini juga pernah menerima kunjungan Wakil Gubernur Banten dan Wakil Bupati Tangerang. Respons positif dari para tamu tersebut membuka harapan agar Rumah Kayu Goen dapat berkembang menjadi pusat kegiatan masyarakat.

Di tengah pertumbuhan kawasan komersial dan restoran modern di Tangerang, Dapur Nusantara menawarkan pendekatan lain. Makanan menjadi pintu masuk, sedangkan kebudayaan menjadi pengalaman yang menyertainya.
Barangkali itulah gagasan yang ingin dirawat Goenawan Wijaya. Bahwa benda-benda lama tidak harus berakhir sebagai penghuni gudang atau pajangan yang berdebu. Ia bisa dihidupkan kembali melalui ruang yang dikunjungi, dinikmati, dan menjadi tempat orang bertemu.
Di Panongan, sejarah rupanya tidak hanya disimpan di balik lemari kaca. Sesekali, ia hadir di antara hidangan yang tersaji di atas meja makan. (*






