Liputan

Jangan Biarkan Topi Bambu Hanya Berhenti di Logo Daerah Kabupaten Tangerang

×

Jangan Biarkan Topi Bambu Hanya Berhenti di Logo Daerah Kabupaten Tangerang

Sebarkan artikel ini
Armaning (61) bersama topi blenong bikinannya | Foto: Dok. Widi Hatmoko

JEJAK KATA, Tangerang – Bambu masih tumbuh, bahan baku masih tersedia, dan sekitar 20 perajin masih bertahan di Desa Ciakar, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang. Namun, ada sesuatu yang perlahan menghilang dari kerajinan anyaman bambu: generasi penerus.

Di tengah upaya mempertahankan produk kerajinan khas daerah, di Desa Ciakar, persoalan anyaman bambu ternyata bukan semata-mata terletak pada ketersediaan bahan baku, melainkan minimnya anak muda yang bersedia meneruskan keterampilan tersebut. Para perajin yang masih aktif kini didominasi generasi tua.

Armaning (61), salah seorang perajin anyaman bambu asal Ciakar, melihat persoalan regenerasi sebagai pekerjaan rumah yang tidak bisa terus ditunda. Menurut dia, pelestarian kerajinan tidak cukup hanya dengan memperkenalkan produk ke pasar, tetapi juga harus memastikan keterampilan menganyam diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia mengakui pemerintah selama ini telah mengadakan sejumlah pelatihan. Namun, kegiatan tersebut lebih banyak diarahkan pada pengembangan pemasaran digital. Padahal, kemampuan teknis menganyam juga membutuhkan perhatian serius.

“Pelatihan marketing ini sangat penting, apalagi sekarang zamannya serba online. Tapi memberikan pelatihan bagaimana terampil menganyam juga tidak kalah penting,” ujar Armaning saat ditemui di rumahnya, Sabtu, 7 November 2026.

Mengajarkan anyaman bambu bukan perkara sekali duduk langsung mahir. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kemauan untuk mengenal karakter bahan baku. Tantangannya bukan sekadar membuat anak muda bisa menganyam, melainkan menumbuhkan kecintaan terhadap kreativitas berbasis bambu.

Armaning sendiri kerap diundang ke berbagai daerah untuk memberikan pelatihan menganyam. Namun, ia berharap kegiatan serupa di Kabupaten Tangerang dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari lingkungan sekolah hingga masyarakat.

“Prospeknya bagus. Cuma kendalanya pengrajin, tenaga pengrajinnya yang kurang,” katanya.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pelestarian warisan lokal tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan nama dan simbolnya. Anyaman bambu yang pernah menjadi salah satu identitas kerajinan Kabupaten Tangerang membutuhkan tangan-tangan baru agar tetap hidup.

Apalagi, salah satu produk kerajinan tersebut, topi bambu blenong, telah melekat dalam logo Kabupaten Tangerang. Jangan sampai hanya bertahan sebagai gambar pada lambang daerah, sementara keterampilan mengolahnya perlahan kehilangan penerus.

Regenerasi perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari kebijakan pelestarian budaya sekaligus pengembangan ekonomi kreatif. Pelatihan teknis, pendampingan perajin muda, akses pasar, dan ruang pemasaran yang berkelanjutan perlu berjalan beriringan.

Sebab, warisan budaya tidak benar-benar lestari hanya karena gambarnya masih terpampang. Ia baru hidup ketika masih ada orang yang mampu membuatnya. (*

Tinggalkan Balasan