JEJAK KATA, Tangerang – Grebeg Suro yang digelar Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) di Parkir Utara Mal Ciputra CitraRaya Kabupaten Tangerang pada Senin (15/06) hingga Selasa (16/06) dini hari, menjadi momen sejarah pertama kalinya kegiatan tersebut digelar di daerah berjuluk Kota Seribu Pabrik tersebut.
Grebeg Suro sendiri merupakan tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut Tahun Baru Islam (1 Muharram atau 1 Suro) yang berakar pada akulturasi budaya dan sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram Islam.
Grebeg Suro IKG ini juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan budaya, mulai dari pementasan musik campursari khas Gunungkidul, kuda lumping atau jathilan dan pameran keris pusaka.
Selain itu juga digelar bazar kuliner khas Gunungkidul oleh puluhan pelaku UMKM. Puncak Grebeg Suro IKG menyuguhkan pagelaran Wayang Kulit yang menghadirkan dalam dari Gunungkidul, Ki Yusuf Ansor, dengan lakon “Gondomono Sayemboro“.
Kegiatan Grebeg Suro IKG yang didukung oleh didukung oleh Badan Penghubung Daerah Istimewa Yogyakarta ini, dihadiri oleh Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid. Dalam sambutannya, Bupati mengajak masyarakat untuk terus melestarikan budaya sebagai identitas bangsa sekaligus memperkuat semangat persatuan di tengah keberagaman.
“Bulan Suro memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Jawa, bukan hanya sebagai momentum introspeksi dan penguatan spiritualitas, tetapi juga sebagai sarana mempererat persaudaraan, menjaga kerukunan, dan melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur,” ujar Bupati Maesyal Rasyid
Menurutnya, Grebeg Suro dan Kirab Budaya serta Wayang Kulit merupakan wujud nyata komitmen masyarakat dalam menjaga kekayaan budaya Indonesia agar tetap hidup dan lestari di tengah arus modernisasi. Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga identitas yang harus kita jaga dan wariskan kepada generasi mendatang.
“Kabupaten Tangerang yang dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang suku, agama, budaya, dan tradisi yang beragam memiliki modal sosial yang kuat untuk membangun daerah yang maju, sejahtera, dan harmonis. Karena itu, keberagaman harus terus dirawat sebagai kekuatan bersama,” tandasnya
Bupati juga mengajak seluruh masyarakat untuk memperkuat semangat gotong royong dan menjadikan keberagaman sebagai sumber kekuatan dalam mendukung pembangunan daerah. Pemerintah Kabupaten Tangerang, lanjutnya, akan terus mendukung berbagai kegiatan pelestarian budaya yang digagas masyarakat.
“Pembangunan tidak hanya berfokus pada infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan pembangunan karakter, nilai-nilai budaya, dan penguatan jati diri bangsa,” tegasnya.
Bupati juga berharap melalui kegiatan Grebeg Suro dan pagelaran wayang kulit tersebut generasi muda bisa semakin mengenal, mencintai, dan bangga terhadap budaya bangsa sendiri sehingga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dapat terus lestari sepanjang masa.
“Saya harap melalui kegiatan seperti ini, generasi muda bisa kenal, cinta dan bangga akan seni budaya bangsa sendiri yang mengandung nilai-nilai luhur dan terus lestari sepanjang masa,” harapnya.
Pada kesempatan ini, Bupati Tangerang menerima cinderamata berupa keris yang diberikan langsung oleh Ketua Umum IKG, Saimo. Menurut Saimo, Grebeg Suro merupakan simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat Gunungkidul di perantauan.
“Grebeg Suro bukan hanya perayaan tahunan, melainkan simbol persaudaraan, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya leluhur. Melalui kegiatan ini, kami ingin menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan para pendahulu agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat modern. Kami berharap generasi muda dapat terus mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya bangsa sebagai bagian dari jati diri mereka,” ungkap Saimo.
Ia menambahkan, IKG akan terus menjadi wadah pemersatu warga Gunungkidul di perantauan serta mendukung berbagai kegiatan sosial, budaya, dan kemasyarakatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
“Kami berkomitmen menjaga semangat kebersamaan dan gotong royong yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Gunungkidul. Dengan persatuan yang kuat, kami yakin budaya dan tradisi leluhur akan tetap lestari serta dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Grebeg Suro 1448 H, Riyadi alias Dimas Kenthit, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Grebeg Suro bukan sekadar perayaan budaya dan menyambut Tahun Baru Islam, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan warga Gunungkidul di perantauan. Melalui kegiatan ini kami ingin menjaga dan melestarikan budaya leluhur agar tetap hidup serta dikenal oleh generasi muda di tengah perkembangan zaman,” ujar Riyadi.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Tangerang, sponsor, panitia, dan seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi menyukseskan acara tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati Tangerang, seluruh tamu undangan, sponsor, panitia, dan masyarakat yang telah hadir serta memberikan dukungan. Semoga semangat kebersamaan, gotong royong, dan kecintaan terhadap budaya bangsa dapat terus terjaga melalui kegiatan seperti ini,” tutupnya.
Dengan semangat pelestarian budaya dan kebersamaan, Grebeg Suro 1448 H/2026 di CitraRaya Tangerang berlangsung meriah, tertib, dan penuh keakraban. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa masyarakat Gunungkidul di perantauan tetap berkomitmen menjaga warisan budaya sekaligus mempererat tali silaturahmi antar sesama warga. (*






