JEJAK KATA, Tangerang – Di tengah laju kawasan metropolitan Tangerang yang terus dipenuhi beton, pergudangan, dan deretan permukiman baru, sebuah sudut desa masih memilih berjalan dengan irama yang berbeda. Bukan suara klakson yang mendominasi, melainkan denting musik tradisional Sunda yang mengalun lembut di bawah rumpun bambu.
Minggu pagi, 26 Juli 2026, Lebak Cadas di Kampung Cukanggalih, Desa Ciakar, Kecamatan Panongan, berubah menjadi ruang temu yang menghidupkan kembali ingatan kolektif. Ratusan warga berdatangan sejak matahari belum tinggi. Mereka bukan mengejar pusat perbelanjaan modern, melainkan menyusuri lapak-lapak sederhana yang dipenuhi aroma panganan tradisional, hasil kebun, hingga produk alas kaki buatan perajin setempat.
Di sana, waktu seolah melambat.
Anak-anak bermainan di sudut kampung, para orang tua berbincang tanpa tergesa, sementara pedagang menawarkan dagangannya dengan senyum yang terasa lebih akrab daripada sekadar transaksi. Pemandangan itu mengingatkan pada pasar rakyat era 1980-an hingga 1990-an, ketika pasar bukan hanya tempat membeli kebutuhan sehari-hari, tetapi juga ruang bersua, bertukar kabar, bahkan mempererat hubungan antarwarga.

Di masa itu, suara tawar-menawar menjadi musik pagi. Anyaman bambu, tikar pandan, keranjang rotan, serta jajanan yang dibungkus daun pisang adalah bagian dari lanskap yang kini semakin jarang ditemui. Pasar hidup karena manusianya, bukan karena gemerlap bangunannya.
Semangat itulah yang ingin dihidupkan kembali oleh Pemerintah Desa Ciakar.
Pasar Rakyat Tradisional tidak dibangun sebagai acara seremonial sesaat, melainkan dirancang menjadi denyut ekonomi kreatif desa yang berkelanjutan. Setiap pekan, pasar berpindah dari satu kampung ke kampung lain—Ciakar, Cipari, Tarisi, hingga Cukanggalih—sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata.
Kepala Desa Ciakar, Muhamad Nur Jalyudin, mengatakan bahwa konsep tersebut mengintegrasikan potensi empat dusun melalui keterlibatan pelaku UMKM, industri kecil menengah (IKM), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta masyarakat.
Menurut pria yang akrab disapa Lurah Uyu itu, setiap kampung memiliki karakter dan keunggulan tersendiri. Keberagaman tersebut justru menjadi identitas yang ingin dipertahankan sekaligus dikembangkan melalui berbagai inovasi ekonomi berbasis budaya lokal.
“Setiap wilayah memiliki ciri khasnya masing-masing. Kami ingin seluruh kampung saling terhubung sehingga kreativitas masyarakat dapat tumbuh bersama untuk membangun peradaban desa yang lebih baik,” ujarnya.
Di balik pasar sederhana itu, tersimpan cita-cita yang jauh lebih besar. Desa Ciakar saat ini tengah mengikuti lomba desa tingkat Regional Jawa-Bali. Namun, bagi masyarakatnya, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Mereka sedang merintis mimpi menghadirkan Urban Care Agro Wisata, sebuah kawasan yang memadukan pertanian, edukasi, budaya, dan wisata desa.

Gagasannya sederhana, tetapi relevan bagi masa depan kawasan metropolitan: ketika ruang hijau semakin menyempit, desa justru menawarkan pengalaman yang mulai langka—melihat sawah yang masih bernafas, memetik hasil kebun, menikmati kuliner tradisional, menyaksikan kerajinan lokal, hingga merasakan hangatnya kehidupan kampung.
Harapan itu juga disampaikan Samsul, salah seorang tokoh masyarakat Desa Ciakar. Menurutnya, pasar rakyat bukan sekadar tempat berdagang, melainkan cara menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal pusat perbelanjaan modern, tetapi juga memahami bahwa desa memiliki kekayaan tradisi yang layak dibanggakan.
Di banyak tempat, modernisasi kerap dipahami sebagai mengganti yang lama dengan yang baru. Namun, Desa Ciakar menawarkan pandangan berbeda. Kemajuan tidak harus menghapus akar budaya. Justru, kearifan lokal dapat menjadi fondasi untuk membangun ekonomi yang lebih tangguh sekaligus memperkuat identitas masyarakat.
Di bawah rumpun bambu yang menaungi pasar itu, harapan perlahan tumbuh. Bahwa di pinggiran metropolitan, masih ada desa yang percaya masa depan tidak selalu dibangun dengan gedung tinggi. Kadang, ia lahir dari pasar sederhana, senyum para pedagang, hasil panen warga, musik tradisional yang terus dimainkan, dan tekad bersama menjaga warisan agar tetap hidup untuk generasi berikutnya. (*







Cukup ramai dan mengesan kan
Cukup ramai dan mengesan kan seru bgttt
Betul sekali , ekonomi kerakyatan yang dibangun sudah menunjukkan bahwa pihak pemerintahan Desa tetap berpihak kepada usaha kecil dan menengah yang ada di kalangan masyarakat desa …mantap pak Lurah Uyu… Ciakar mandiri dan sukses