Liputan

Mengembalikan Napas Kali Serua Sebelum Hujan Mengadili Kota

×

Mengembalikan Napas Kali Serua Sebelum Hujan Mengadili Kota

Sebarkan artikel ini
Tim Pemeliharaan Sumber Daya Air DPUPR Kota Tangerang melaksanakan kegiatan normalisasi Kali Serua, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Provinsi Banten | Sumber: DPUPR Kota Tangerang

JEJAK KATA, Kota Tangerang – Musim kemarau sering dianggap sebagai jeda dari ancaman banjir. Padahal, bagi sungai, inilah musim terbaik untuk berbenah. Ketika langit belum menurunkan hujan, dasar sungai memperlihatkan persoalan yang selama ini tersembunyi: endapan lumpur, tumpukan sampah, dan aliran yang kian menyempit oleh aktivitas manusia.

Kesadaran itulah yang mendorong Pemerintah Kota Tangerang menuntaskan normalisasi Kali Serua di Kecamatan Ciledug. Sungai yang menjadi bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Angke itu dibersihkan sebagai bagian dari strategi mitigasi jangka panjang menghadapi musim hujan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang, Taufik Syahzaeni, mengatakan tim pemeliharaan sumber daya air telah diterjunkan untuk mengangkat sedimentasi dan membersihkan aliran sungai agar kapasitas tampung air kembali optimal.

Momentum kemarau dimanfaatkan untuk memperkuat infrastruktur pengendali banjir di kawasan rawan genangan. Alat berat pun dikerahkan agar proses normalisasi berjalan sesuai target, sebelum pekerjaan serupa dilanjutkan ke titik-titik lain di Kota Tangerang.

Namun, mengeruk lumpur hanyalah mengobati gejala, bukan menyembuhkan penyakit. Sungai tidak tiba-tiba dangkal. Sedimentasi lahir dari hulu yang kehilangan daya resap, dari sampah yang dibuang sembarangan, serta dari ruang air yang perlahan dikalahkan beton dan permukiman.

Di banyak kota, banjir kerap diperlakukan sebagai bencana musiman. Padahal, ia lebih menyerupai laporan tahunan tentang bagaimana manusia memperlakukan alam. Air hanya mencari jalannya. Ketika sungai dipersempit, saluran dipenuhi sampah, dan daerah resapan berubah menjadi bangunan, air akan mengambil kembali ruang yang pernah menjadi miliknya.

Karena itu, normalisasi sungai perlu dipandang sebagai awal, bukan akhir. Upaya ini harus berjalan seiring dengan penegakan aturan tata ruang, pemulihan kawasan resapan, pengelolaan sampah yang lebih disiplin, serta kesadaran masyarakat untuk menjaga sungai sebagai ekosistem, bukan tempat membuang sisa kehidupan sehari-hari.

Pemkot Tangerang berencana melanjutkan normalisasi sungai dan saluran air di berbagai wilayah secara bertahap. Langkah tersebut patut diapresiasi sebagai investasi menghadapi musim hujan yang akan datang. Namun keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh panjang sungai yang dikeruk, melainkan juga oleh perubahan cara pandang seluruh warga terhadap sungai.

Sebab sungai sejatinya bukan musuh kota. Ia hanya cermin. Ketika air meluap, sering kali yang sedang dipantulkannya adalah kelalaian manusia sendiri. Kota yang bijak bukan hanya sibuk mengangkat lumpur setiap kemarau, tetapi juga memastikan lumpur, sampah, dan kesalahan yang sama tidak kembali saat hujan berikutnya datang. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *