Liputan

Ditinggal Orang Tua Sejak Kecil, Rafael Menjawab Takdir dengan Prestasi

×

Ditinggal Orang Tua Sejak Kecil, Rafael Menjawab Takdir dengan Prestasi

Sebarkan artikel ini
Rafael saat ditemui di ruang kelasnya, Selasa 21 Juli 2026 pagi | Dok. Jejak Kata

JEJAK KATA, Tangerang – Pagi belum sepenuhnya ramai ketika Yeremia Rafael Martua Parlindungan Siahaan mulai menyiapkan harinya. Tak ada suara ibu yang mengingatkan sarapan. Tak ada ayah yang mengantar ke sekolah. Bocah kelas VI SDN Mekar Bakti itu harus menyiapkan perlengkapan dan seragam merah putihnya sendiri sebelum menuju sekolah. Kaki kecilnya menapaki jalanan yang riuh kendaraan dengan jarak sekitar 1,5 kilometer.

Rutinitas itu bukan karena ingin belajar mandiri lebih cepat. Hiduplah yang mengajarinya. Kedua orang tuanya sudah tidak ada sejak ketika Rafael masih kecil. Sejak saat itu, ia tumbuh bersama Uwaknya—yang akrab ia panggil Bapak Tua—di sebuah rumah di Kompleks Gardenia Extension, CitraRaya, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang.

Di sekolah, Rafael tetap hadir sebagai anak yang ceria. Ia tertawa, bercanda, dan berlarian bersama teman-teman sebayanya, seolah tak ada beban yang sedang dipikul. Tak banyak yang menyangka, di balik senyum yang selalu mengembang itu, ada ruang kosong yang tak pernah benar-benar terisi sejak kedua orang tuanya pergi untuk selamanya.

Salah seorang guru SDN Mekar Bakti, Agnes, mengenang Rafael sebagai anak yang tak pernah kehilangan cahaya di wajahnya. Di tengah beban hidup yang dipikul sejak usia belia, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang ceria, rasa ingin tahunya tinggi, dan berani mengemukakan pendapat.

“Rafael itu anaknya ceria. Dia juga kritis, selalu banyak bertanya. Tapi memang sesuai, anaknya pintar,” ujar Agnes.

Bagi Agnes, kecerdasan Rafael bukan hanya tercermin dari kemampuannya menjawab soal-soal sains. Yang lebih menonjol adalah semangatnya untuk terus belajar, seolah setiap pengetahuan baru adalah satu langkah mendekatkannya pada mimpi yang ingin ia persembahkan kepada Bapak tua yang telah menjadi rumah sekaligus sandaran hidupnya.

Rafael (topi mereh-red) bersama teman-teman sekelasnya

Setiap kali bel pulang berbunyi, kisah Rafael berbeda dengan kebanyakan anak. Tak ada ibu yang menyambut di depan pintu atau ayah yang menanyakan pelajaran hari itu. Ia pulang ke rumah, menyiapkan kebutuhannya sendiri, terkadang memasak dengan tangan mungilnya, lalu duduk menekuni buku-buku pelajaran. Di setiap lembar yang ia baca, tersimpan doa-doa yang tak pernah ia ucapkan dengan lantang.

Bagi Rafael, belajar bukan sekadar mengejar nilai atau piala. Belajar adalah caranya menjaga harapan agar tetap hidup. Caranya membalas kasih sayang sang Uwak atau Bapak Tua yang telah mengorbankan usia tuanya untuk membesarkan cucu yang kini menjadi satu-satunya alasan ia terus berjuang. Rafael percaya, suatu hari nanti, prestasi yang ia raih akan menjadi hadiah paling indah bagi lelaki tua yang tak pernah lelah menggenggam tangannya saat hidup terasa begitu sunyi.

Begitulah, kehilangan tidak pernah berhasil mencuri cita-citanya. Dan ketekunan itu akhirnya menemukan jalannya.

Tahun ini Rafael berhasil mengharumkan nama SDN Mekar Bakti sekaligus Kabupaten Tangerang dengan melaju hingga seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Provinsi Banten. Di antara ratusan peserta terbaik, terselip kisah seorang anak yang setiap hari lebih dulu bertarung dengan hidup sebelum bertemu soal-soal sains.

“Rafael tinggal bersama Bapak Tuanya (Uwak-red) di Gardenia Extension. Sejak kecil dia sudah terbiasa menyiapkan keperluannya sendiri, bahkan sering memasak sendiri,” kata Kepala SDN Mekar Bakti, Joko Pramono, seusai mendampingi Rafael mengikuti seleksi OSN tingkat Provinsi Banten, Senin, 20 Juli 2026.

Rafael didampingi Kepala SDN Mekar Bakti, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang saat mengikuti OSN 2026 tingkat Provinsi Banten

Menurut Joko, kecerdasan Rafael memang menonjol. Namun yang paling membekas justru semangatnya. Tidak pernah terlihat mengeluh, tidak pernah menjadikan keadaan sebagai alasan untuk berhenti belajar.

Di ruang kelas, Rafael hadir sebagai murid yang tekun. Di rumah, ia belajar menjadi dewasa jauh sebelum waktunya. Dua dunia yang berjalan berdampingan itu membentuk seorang anak yang memahami bahwa keberhasilan tidak datang kepada mereka yang hidup paling mudah, melainkan kepada mereka yang terus melangkah meski jalan yang ditempuh terasa berat.

Sekolah berharap langkah Rafael belum berhenti di tingkat provinsi. Joko optimistis anak didiknya itu mampu menembus Olimpiade Sains Nasional tingkat nasional dan membawa nama Banten lebih tinggi lagi.

Harapan itu bukan tanpa alasan. Sebab, Rafael telah membuktikan satu hal yang sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk mengejar prestasi: kecerdasan memang penting, tetapi ketangguhan sering kali menjadi guru yang jauh lebih hebat.

Di balik setiap medali atau sertifikat, selalu ada cerita yang tidak tertulis. Cerita tentang air mata yang disembunyikan, tentang piring yang harus dicuci sendiri, tentang nasi yang dimasak sendiri sebelum membuka buku pelajaran.

Rafael mungkin belum menjadi juara nasional. Namun bagi SDN Mekar Bakti, bagi kakeknya, dan bagi banyak orang yang mengenal kisahnya, ia telah memenangkan sesuatu yang lebih besar: keberanian untuk terus bermimpi ketika hidup tidak pernah menawarkan kemudahan.

Barangkali itulah pelajaran sains paling sederhana yang diajarkan Rafael kepada orang-orang dewasa. Bahwa harapan tidak pernah bergantung pada keadaan. Ia tumbuh dari hati yang memilih untuk tidak menyerah. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *