JEJAK KATA, Tangerang — Di sudut Jalan MH Thamrin, Kecamatan Pinang, satu lagi lampu panggung dipadamkan. Bukan karena listrik padam, melainkan karena panggungnya memang telah selesai memainkan babak terakhir.
FM3 Karaoke, salah satu tempat hiburan malam yang telah menjadi bagian dari denyut Kota Tangerang selama lebih dari tiga dekade, resmi menghentikan operasionalnya secara permanen sejak Jumat, 31 Juli 2026. Sebelumnya, Western Karaoke di kawasan Great Western Resort (GWR) lebih dulu menutup pintunya pada Juni lalu. Dua nama lama itu kini tinggal menjadi penanda bahwa industri hiburan malam sedang menghadapi babak yang tidak mudah.
Di dunia usaha, papan “tutup permanen” sering kali menjadi kalimat paling sunyi. Ia tidak berdebat, tidak menyalahkan siapa pun, tetapi menyimpan cerita panjang tentang biaya operasional, pelanggan yang semakin jarang datang, hingga laporan keuangan yang terus kehilangan senyum.
Perwakilan manajemen sekaligus pengelola FM3 Karaoke, Seno, membenarkan kabar tersebut.
“Betul Mas, tutup permanen,” ujar Seno.
FM3 Karaoke merupakan fasilitas hiburan milik FM3 Hotel Transit. Selama sekitar 33 tahun beroperasi, tempat itu menjadi salah satu tujuan hiburan bagi masyarakat Kota Tangerang maupun tamu dari luar daerah.
Namun, menurut Seno, badai yang datang saat pandemi COVID-19 ternyata belum benar-benar berlalu bagi industri hiburan. Ketika sektor lain perlahan bangkit, karaoke justru masih berkutat dengan luka lama.
“Menurut info sejak setelah COVID tempo hari (omzet) minus terus,” katanya.
Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya panjang. Pandemi memang telah selesai sebagai status kedaruratan kesehatan. Namun, bagi sebagian pelaku usaha, dampaknya masih terus menagih. Perubahan pola konsumsi masyarakat, biaya operasional yang meningkat, hingga daya beli yang belum sepenuhnya pulih menjadi kombinasi yang sulit dilawan.
Bagi dunia hiburan malam, pandemi tampaknya bukan sekadar jeda, melainkan titik balik. Sebagian tempat berhasil bertahan, sebagian lainnya memilih menyerah. Persaingan dengan berbagai bentuk hiburan digital juga membuat mikrofon di ruang karaoke tidak lagi seramai dahulu. Lagu masih tersedia ribuan judul, tetapi penyanyinya semakin sedikit.
Meski demikian, penutupan FM3 Karaoke tidak memengaruhi operasional hotel.
“Kalau Hotel FM3 masih tetap beroperasi melayani tamu seperti biasa hingga saat ini,” ujar Seno.
Di akhir pernyataannya, ia tidak berbicara soal kerugian ataupun angka-angka. Ia justru menyampaikan permohonan maaf kepada para pelanggan yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari perjalanan usaha tersebut.
“Kami mewakili teman-teman dari FM3 memohon maaf apabila selama ini melayani saudara-saudaraku ada kekurangannya, kami mohon dimaafkan. Terima kasih,” ucapnya.
Penutupan FM3 menambah daftar tempat hiburan legendaris yang mengakhiri perjalanan di Kota Tangerang. Sebelumnya, Western Karaoke di kawasan Great Western Resort telah menghentikan operasional sejak 7 Juni 2026. Selama bertahun-tahun, tempat itu dikenal memiliki pelanggan tetap dari berbagai daerah, termasuk komunitas warga negara Korea Selatan yang bermukim dan bekerja di Tangerang.
Kepergian dua tempat hiburan ini mungkin tidak mengubah wajah kota secara drastis. Jalan MH Thamrin tetap ramai, kendaraan tetap melintas, dan lampu lalu lintas terus berganti warna. Namun, bagi sebagian orang yang pernah menghabiskan malam bersama rekan kerja, keluarga, atau sahabat di ruang-ruang karaoke itu, penutupan tersebut menandai berakhirnya satu potongan kecil sejarah kota.
Di dunia usaha, tidak semua lagu bisa dinyanyikan hingga bait terakhir. Ada kalanya musik berhenti, lampu dipadamkan, dan tirai ditutup—bukan karena kehilangan penonton semata, tetapi karena panggung sudah tak lagi mampu membiayai pertunjukannya. Satire paling sunyi dari dunia bisnis adalah ketika laporan keuangan akhirnya lebih nyaring daripada suara mikrofon. (*






